Realistis?

(tulisan ini saya ambil dari tulisan saya di blog lama saya di sini , tidak melalui proses editing karena itu mohon maaf bahasanya rada aneh hahaha. Lumayan nih :))

 

Jujurlah, terkadang kita merindukan masa kecil kita. Masa dimana , seolah, semua dunia itu bisa dikendalikan dengan sesuatu yang namanya ‘harapan’ . Yah, imajinasi yang begitu luas sewaktu kecil, menciptakan kepercayaan kita yang luar biasa akan dunia kita ini. Manusia terbang, super hero, binatang yang bisa bicara. Semua kita percayai dengan semua kepolosan kita.

Namun sayang, seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan bertambahnya ke-arif-an dan ke-bijaksana-an kita, kita menyadari satu hal. Dunia yang kita tinggali sekarang , tak seindah kelihatannya saat kita kecil.

Satu hal yang kita pupuk seiring dengan bertambahnya umur kita. Realistis. Apa yang kita hadapi, dan apa yang -kemungkinan- besar akan kita hadapi. Dunia ini dikelilingi fakta-fakta luar biasa, yang menyebabkan kita yakin akan satu hal. Inilah hidup, dan inilah semestinya hidup berjalan.

Sekali lagi saya bilang, satu hal pembatas, sifat Realistis.

Mungkin sekarang banyak sekali orang yang berkata,”kita boleh berharap, tapi kita harus realistis” . Yah. Realistis itulah yg cenderung menjadi pembatas kita. Sama seperti perkataan ibu saya atau orang-orang di keliling saya.

”Kalo kuliah di sana, kerja belum tentu dapat. Peluang karir sikit. Hidup gak enak. Lagian kuliahnya mahal”

Saya jawab,”karna peluang karir sikit, jadi justru sikit saingan. Lagian kalo kita ahli dan suka ama sesuatu itu, pasti bisa menjadi hal yg menyenangkan kalo kerja sesuai kata hati. Kalo masalah biaya, beasiswa kan betebar”

”Yakin bisa gitu?! REALISTIS dong!”

Kurang lebih seperti itu. Sekarang, yang namanya semua harapan kita harus siap dengan namnaya ke-realistis-an.

Tapi, saya punya sebuah kisah unik dalam hidup saya yang membuat saya bertahan utk selalu memiliki yang namanya ‘harapan’ .

Saat itu, ada sebuah lomba yang saya ikuti. Saya lihat, wajah pribumi yg ikut hanya sebagai minoritas dari peserta lain. Saat lomba selesai, dan lembar jawaban dikumpul (ini semacam olim mate-matika) , saya lihat dengan jelas, ljk peserta depan saya, jauh lebih terisi dari saya. Saya lihat ke ljk saya, dan saya berkata sambil tertawa,”mau jadi apa ini ? -.-”

Satu hal yang terlintas di pikiran setelah siap lomba, ”udahlah, mungkin blom rejeki di sini, cari aja lomba lain”. Keyakinan kalah sangat besar. Tapi bukan berarti harapan saya utk menang hilang. Bukankah apa yg mereka jawab blom tentu benar? Hal itu yg tetap membuat saya bertahan utk berharap.

Sekali lagi, saya menyadari betapa kuasanya Allah swt. Saya menjadi pemenang dalam lomba itu. Dengan harapan yg msh tersisa, tentu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi saya.

Dan saya belajar satu hal dari kisah hidup saya ini.

”Kita boleh berharap, tapi kita harus realistis”.

Ini salah. Mungkin yg betul adalah begini :
”kita boleh realistis, tapi bukan berarti hal itu menjadi alasan bagi kita utk berhenti berharap :)”

Jadi, pertanyaannya ”Haruskah kita realistis 100 persen?”

Iklan

Sebuah Awal Bernama Mimpi…

Malem begini, saya tiba-tiba pengen nulis tentang hal yang dulu saya bangga karena memilikinya, dan kini malu saat coba mengungkapkannya. Namanya mimpi…

Hal ini bermula ketika saya ngeliat twittnya si Riksa yang isinya begini :

Image(

(agak absurd memang, tapi lucu =)) )

Nah, kali ini saya mau share sedikit mengenai mimpi.

Beberapa hari yang lalu, saya sempet ngebaca blognya pak Jamil Azzaini mengenai mimpi. Beliau mengatakan bahwa salah seorang guru kehidupannya pernah bilang : “Mimpi yang baik ibaratkan sebuah niat yang baik. Belum dilakukan aja, udah berpahala, apalagi diwujudkan” (kurang lebih gini sih)

Menarik. Hal ini sedikit menyentil saya. Kenapa?

Semenjak kuliah di mulai, saya mulai kehilangan hasrat untuk bermimpi. Bertemu dengan orang-orang yang luar biasa keren, membuat saya merasa bahwa saya sudah tidak punya peluang. Rasanya beberapa orang diciptakan untuk menjadi luar biasa dalam satu bidang, sementara yang lainnya diciptakan untuk menjadi biasa saja. Semenjak saya mulai sadar hal ini, saya selalu mikir rasanya setiap bidang sudah punya sosok luar biasanya masing-masing,

(curhat dikit : nulis malem-malem gini enak juga ya…andaikan ada air minum, saya haus -___-)

Membuat saya mikir, oke saya harus mencari hal lain yang bisa saya lakuin dan tekunin buat jadi hal yang luar biasa. Semenjak itu saya merasa saya tidak punya passion tidak punya tujuan. Yang saya lakukan hanyalah melakukan rutinitas seorang mahasiswa pada umumnya, tanpa berpikir untuk menjadi seseorang yang luar biasa.

Menariknya, saya membaca tulisan pak Jamil Azzaini tersebut.

Saya dulu sangat sempat percaya dengan mimpi. Saya percaya bahwa segalanya dibangun dengan mimpi pada awalnya. Sesuatu yang sekarang ada di dunia ini, berawal dari sesuatu yang hanya terbayangkan di masa lalu. Terbayang dalam suatu –mungkin– lamunan, bernama mimpi.

Saya dulu sangat percaya bahwa Allah swt. menyuruh kita tidur di malam hari, selain untuk beristirahat, adalah untuk menyuruh kita bermimpi.

Itulah yang saya rasa hilang dalam diri saya saat ini. Saya kehilangan keberanian untuk bermimpi. Hal yang bodoh rasanya. Mengingat hal ini berarti saya telah kehilangan keberanian untuk berniat berbuat baik. Padahal semua perbuatan baik dihitung mulai dari niatnya. Memiliki niat baik saja sudah sangat berpahala. Mimpi juga begitu.

Saya tidak tahu mau melakukan apa di masa-masa ini, karena saya kehilangan langkah awal saya. Sebuah langkah awal, bernama mimpi….

Jangan tiru saya.

Jika saat ini kalian merasa memiliki passion dalam suatu hal, lalu melihat banyak orang luar biasa yang lahir dari sana, pesan saya satu : lanjutkan! Jadikan mereka inpirasi. Jadikan mereka bangga , karena berkat inspirasi mereka, telah lahir seorang orang luar biasa baru seperti kalian.

Ah, saya bisa meyakinkan diri saya seperti itu. Hahahaha.

Kurang Bersyukur?

Sering ngerasa gak sih, saat kita gak punya sesuatu, kita pengeeen banget dapetin itu. Tapi,eh waktu udah dapet, malah bingung mau ngapain? Kalau kalian gak pernah, kelen keren. Tapi jujur, hal ini sering banget kejadian sama diri saya 😐 …

Hal ini, dengan absurdnya, saya sadari kembali ketika saya sedang download sebuah filem Top Secret aka The Billionaire (filmnya katanya bagus, lihat aja di sini . Dia nyeritain tentang orang ini) . Tiba-tiba saya menyadari. Kayaknya beberapa waktu yang lalu saya udah ngopi seabrek film dari temen saya, tapi kenapa saya masih download filem baru ya? Padahal film yang dikopi juga belum ditonton semua (baca : semuanya belum ditonton ._.)

Kayaknya gitu deh dari dulu.

Dulu ngarep banget punya banyak film , biar liburan bisa nonton banyak, eh udah dapet dan libur, malah gak ditonton

Dulu ngarep banget punya koneksi internet yang lumayan stabil, biar bisa download segala macem hal. Eh, waktu udah ada, malah nggak tau mau download apa

Dulu ngarep banget punya blog baru, eh waktu udah ada…tahapa yang mau diisi.

 

Kecenderungan kita buat selalu dapetin daripada yang kita miliki, terkadang, bisa menggambarkan bahwa kita adalah tipikal manusia yang nggak pernah puas . Selalu ingin memiliki apa yang kita harapkan.

Sayangnya, sering sekali kita punya harapan udah terkabul, eh malah di sia-siain.

Gini nih rasanya waktu kuliah. Dulu, awalnya punya banyak keinginan : “wah, kalo aku udah kuliah , aku bisa jadi ini-ini-ini” . Eh, sekarang, saya malah lebih sering wasting time buat tidur daripada coba mewujudkan segala macem hal yang dulu saya impikan di masa kuliah begini.(but the fact, saya bahkan udah lupa beberapa hal yang pengen saya lakukan saat kuliah -___-)

(*maaf tulisan di atas curhat -___-)

Saya jadi keinget , saya pernah baca sebuah blog yang menuliskan surat Imam Al-Ghazali kepada muridnya. Isinya kurang lebih begini :

Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan.

(sumber : http://www.eramuslim.com/nasehat-ulama/surat-imam-al-ghazali-kepada-salah-seorang-muridnya-2.htm#.UNKmVG8TGKo )

 

Ibaratkan seperti yang dibilang Imam Al-Ghazali. Kita sekarang punya banyak mimpi. Ketika salah satu mimpi kita terwujud, kita udah punya tujuan apa aja yang bakalan dilakuin dengan mimpi kita tersebut. Nah, waktu udah dapet mimpi kita ini, kita malah lupa tujuan awal kita sama mimpi ini apaan.

Kita pengen punya senjata, waktu dikasih senjata, kita malah nggak menggunakan senjatanya dengan baik. Bahkan gak mengunakannya sama sekali. Berharap dapet senjata lainnya.

 

Apakah kita kurang bersyukur?

 

Nggak tau sih, tapi seharusnya, kita nggak pernah lupa tujuan kita dalam melakukan sesuatu.

Kenapa enggak wajib?

Di awal-awal masa kuliah, saya pernah mendengar sebuah pertanyaan menarik dari seorang teman saya, Rois. 

 

Waktu itu, saya sedang diingatin oleh Ari, kenapa nggak shalat di masjid. Saya juga lupa kenapa nggak. Kemungkinan besar alasannya pasti males .  (jangan ditiru, inti tulisannya bukan ini -______-)

Nah, terus muncul pertanyaan dari rois yang waktu itu entah dari mana munculnya.

Kan, guru saya pernah bilang kalo bagi laki-laki shalat di masjid itu dianjurkan banget, bahkan hampir mendekati wajib. Terus, kenapa gak diwajibin sekalian aja ya?

(sumber : Rois)

 

Kenapa nggak diwajibin? Padahal, kalau dianjurkan seperti ini, semua orang bakalan punya trik sendiri buat ngindar (referensi : pengalaman pribadi). Sementara itu, kalo diwajibin, orang mau gak mau, bakalan usaha banget buat shalat ke masjid karena wajib.

Mungkin ada yang tahu? 

Wallahualam. Allah lebih tahu mana yang terbaik bagi kita semua.

 

Jadi Ceritanya…?

Jadi, ceritanya saya bangun jam setengah 3 tadi pagi. Rajin banget saya yak? Yah,  karena merasa kerajinan ,saya tidur lagi……

Terus, saya bangun lagi jam 4 kurang (mungkin). Dengan penuh rasa sotoy marotoy markiboy, saya pergi ke warkop buat cari makan. Dengan penuh rasa percaya diri mengenai “oke, azan masih lama” (bego), saya makan bubur buat sahur. Masih pagi pun, mulut dan lidah ini udah merasa tertantang buat nambahin sambel yang banyak ke bubur tersebut (bubur ayam ye, gilak aja makan bubur ketan hitam pake sambel -______-).

 

Eh, di tengah-tengah makan, saya mulai denger sayup-sayup suara azan. Keep calm dan stay woles, saya lanjut makan (  ._.) . Belum beberapa lama, saya mulai denger suara azan dari masjid yang paling deket ama kosan. Di situ mulai panik. Saya akhirnya mencoba buat makan bubur-pedas-nan-panas itu secepat mungkin.

 

Dan ternyata gak bisa. -______-

Di situ saya mulai bingung antara “lanjut-sahur-atau-stop-atau-gak-usah-puasa?”

Pilihan yang terbaik saat itu adalah….

Lanjut makan. Udah sempet terbesit di pikiran saya kalo mungkin hari ini saya nggak puasa. Alasannya? Saya teringat sama sebuah kutipan dari ceramah ustad di sekitaran rumah saya ketika Tarawih (I don’t always tarawih, but when I do, I listen to the Ustadz hahaha)

Rasulullah saw. pernah hendak melaksanakan shalat sunah. Ketika beliau baru mulai shalat, beliau mendengar suara tamu yang berkunjung. Beliau kemudian membatalkan shalatnya, lalu  mempersilahkan tamu itu masuk, dan kemudian melanjutkan shalatnya. Alasannya? Memuliakan tamu itu wajib, melakukan shalat sunah itu sunah. Kadang kita masih kebentur dalam menentukan skala wajib dan sunah dalam hidup kita. Terkadang, ibadah mahdah ,meskipun sunah, selalu kita anggap lebih wajib daripada ibadah gairu mahdah yang wajib….

(sumber : Ceramah Ustadz)

 

Karena itu, saya mulai mikir, buang-buang makanan itu haram, puasa senin-kamis itu sunah. Jadi, saya lanjutin makan….

Eh, pas azannya selesai dan saya udah pasrah buat gak puasa, tiba-tiba mulai kedengeran lagi suara azan baru (azan yang baru mulai lagi). Berhubung makanan saya udah mulai-mungkin-dihabisin, saya ubah niat saya untuk kembali puasa dan bergegas makan sebelum azannya abis. 

Saya gak tau pasti, tapi selama ini keyakinan saya mengatakan kalau batas akhir sahur itu adalah batas azan akhir (mohon dikoreksi kalau salah)

Setelah prosesi sahur selesai dan bayar, saya jalan ke kosan, wudhu terus ke masjid buat shalat subuh berjamaah. Nah, saya jadi inget kata-kata ustad lagi nih : 

Rasulullah saw. pernah bilang : pilihlah pemimpin dari kalian, yang shalat subuhnya di masjid.

(Sumber : Ustad tapi beda ama yang pertama (._.))

Jadi, saya sangat menyarankan buat temen-temen yang cowok, kalo bisa shalat subuhnya di masjid, atau minimal berjamaah 🙂 <—- meskipun saya juga masih bolong-bolong shalat di masjidnya (   .__.)

Nah, di sini saya juga jadi keinget. Semenjak pindah ke kosan yang ini, saya selalu ngerasa ada yang aneh ama azannya. Azan di sini , entah kenapa, memiliki rentang yang cukup lama, padahal masih satu daerah. Soalnya, saya pernah denger azan yang baru mulai ketika masjid terdekat dari kosan udah iqamah…….

Mungkin ada alasan yang logis dari fenomena ini yang nggak saya ketahui. 

Okedeh, berhubung perut saya kayaknya agak kepanasan karena sambal plus bubur panas yang saya lahap buru-buru tadi, saya cao dulu.

bye~~~

Bingung

Bicara tentang kesuksesan, banyak orang dan buku yang mengatakan bahwa hal yang paling penting bagi kita adalah passion. Iya banget gak sih?

Menurut beberapa buku yang pernah saya baca, mendefinisikan passion itu cukup mudah kok. Passion itu mengenai hal apa yang benar-benar kita sukai dan cintai. Hal apa sih, yang membuat kalian mau mengerjakannya setiap saat? Hal apa sih, yang membuat kalian berasa mati saat kalian nggak dibolehin buat melakukan hal itu? Hal apa sih, yang membuat anda senang melakukannya, meski anda tidak dibayar/mendapat imbalan? Hal apa sih yang mampu membuat anda stuck lama-lama ketika ada masalah di dalamnya? Hal apa yang selalu mampu membuat anda bergairah?

Bisa dibilang passion mirip dengan minat kita. Minat, bisa dibilang sebagai passion jangka pendek. Kenapa? Soalnya — menurut saya–, minat itu lebih bersifat moody. Anda bisa melakukan banyak hal yang anda minati, tapi dikit yang mungkin anda dalami. Kadang kita punya minat terhadap suatu hal, namun ketika stuck, kita malah drop dan males buat ngelanjutin hal itu.

By the way, saya jadi ingat kata-katanya Pandji Pragiwaksono mengenai minat dan bakat.

“Kalo lu punya bakat di hal yang nggak lu minatin, ya, jadiin aja bakat lu sebagai uang, terus biayai minat lu biar lu jadi lebih skillful di sana”

(oke, emang quotesnya aga out of context -__-)

Tapi bener deh, kalo kesuksesan itu banyak berkaitan dengan passion berarti kita tahu langkah awal kita dalam mengejar sukses. Menemukan passion kita.

Nah, masalah saya tentang passion selalu stuck di langkah awal ini. Saya — sampai saat ini, moga aja cepet ketemu — belum menemukan passion saya. Okelah, saya dengan gampang menyukai sesuatu. Kalo kata salah seorang temen saya, Malik (:P), saya termasuk orang yang mudah mengagumi sesuatu (apalagi seseorang ??? -__-)

Saya gampang suka sesuatu, tapi gampang juga lepas dari sesuatu.

Saya orangnya banyak minat, tapi belum nemu di mana seharusnya minat itu menjadi passion. Permasalahannya simpel banget. Saya menyukai dunia serius berbau saintifik dan segala macem. Tapi saya takut, ketika saya berada di dunia seperti ini, saya susah mencari temen yang bisa diajak becanda saat berkutat dengan dunia seriusan. Sebaliknya, saya juga sangat mencintai dunia komedi. Tapi, sekali lagi, saya juga takut nggak bisa nemuin orang yang bisa diajak serius di dunia yang penuh canda tawa ini -__-.

 

Gimana kagak bingung coba -___-?

Mungkin ada yang tau gimana caranya nemuin passion kita?

(*maaf curhat*) <—- biar ada kerjaan malam minggu ( ”  .__.)

Awali dengan Niat…..Semoga…

(ditulis dengan backsound Dewa19 – Kangen yang diputer di kamar sebelah)

 

Ceritanya, hari ini internet kosan udah mulai sembuh. Jadi, sebagai seorang pria tampan yang butuh perawatan tinggi alias high maintenance, saya memutuskan untuk memanfaatkan momen ini untuk download-download video youtube. Yah, you knowlah. Saya akhir-akhir ini sedang menggemari video-videonya Ippho ‘Right’ Santosa. Abisnya, ngena banget sih.

 

Oke, abis selesai download, saya gak tau mau ngapain. Alhasil, saya coba buka beberapa blog yang udah lama pengen dibuka. Hitung-hitung blog walking lah. Betewe, saya jadi keinget dengan tulisan di dinding saya ini :

gak dilaksanain (  .__.)

gak dilaksanain ( .__.)

Jadi ya, sebelum melakukan apa yang –dengan khilafnya— saya tulis, saya iseng-iseng buka blog orang. Ada blog dosen, blog yang emang udah saya doyanin dari dulu.

 

Dan, seperti biasa, ngeliat blog keren-keren ini, saya jadi pengen ‘melakukan’ sesuatu sama blog ini.

 

Langkah pertama, saya mengganti template blog ini muehehehehe.

Cocok banget buat saya  yang dikenal sebagai pria yang menicintai kelembutan. Apalagi kehangatan (–___–).

 

Jadi, semoga aja tulisan yang saya tulis di dinding ini bisa kejadian ya~~~~