Just Chris Rock

Chris Rock

Christopher Julius “Chris” Rock III (born February 7, 1965) is an American comedian, actor, screenwriter, television producer, film producer, and director.

After working as a standup comic and appearing in small film roles, Rock came to wider prominence as a cast member of Saturday Night Live in the early 1990s. He went on to more prominent film roles, and a series of acclaimed comedy specials for HBO.

He was voted in the United States as the fifth greatest stand-up comedian of all time by Comedy Central. He was also voted in the United Kingdom as the ninth greatest stand-up comic on Channel 4’s 100 Greatest Stand-Ups in 2007, and again in the updated 2010 list as the eighth greatest stand-up comic. (Selengkapnya di Wikipedia)

Seperti yang pernah diungkapkan di 8 to be Great , Chris Rock pernah mengatakan bahwa :

Saya bukanlah orang yang paling lucu. Tetapi, saya adalah orang yang paling berusaha untuk lucu.

Nggak tau kenapa, mendadak kemaren malam saya semacam dapat berkah mendadak. Saya mikir, saya ini termasuk orang yang gampang iri dengan pencapaian seseorang. Kecerdasan, kesuksesan, keberanian, kemampuan dan kekuatan seseorang terkadang membuat saya merasa bahwa beberapa orang hebat yang ada di sekitar saya adalah orang-orang yang mengumbar kemampuannya, atau mungkin, sombong.

Tapi enggak. Saya juga kenal beberapa orang yang — setidaknya menurut saya — hebat, namun yang membekas di hati saya adalah rasa kagum, bukan iri.

Dan sekarang saya sadar, rasa iri saya kepada seseorang itu terjadi karena saya belum mengenal lebih dekat mereka. Andaikan saja saya punya sedikit waktu untuk lebih kenal dan membuka pikiran saya untuk lebih memahami mereka, saya akan memiliki rasa yang berbeda kepada mereka.

Kagum.

Kita terlalu sering iri kepada orang kuat, padahal kita belum pernah tau “sekeras” apa usaha dan lingkungan mereka dalam membentuk karakter mereka yang kuat seperti sekarang.

Padahal, kalo kita mau sebentar aja, belajar dari mereka, akan muncul perasaan yang berbeda.

Kagum.

(sumber gambar : http://a.abcnews.go.com/images/Entertainment/gty_chris_rock_cc_120706_wblog.jpg)

Karena Passion itu Cinta

Jujur deh.

Kisah cinta yang paling klise dimainin di FTV ataupun film (ketauan sering nonton FTV -__-) adalah kisah cinta yang modelnya benci tapi rindu. Awalnya benci, musuhan, beranteman, tapi eh akhirnya kok suka ya?

Kok cinta ya?

Oke, saya bukan tipe romantis. Jadi saya bukan bahas masalah cintanya .

Yang saya mau bahas, kembali lagi, passion.

Ada yang bilang, passion itu kayak cinta. Sukarela dalam hal yang bener-bener kamu sukai.

Tapi pernahkah kita mikir, bahwa mungkin proses pencarian passion itu kayak kisah klise yang ada di FTV? Mungkin aja, kita semua udah punya minat terhadap beberapa hal, namun kita masih ragu apakah itu passion kita.

Pernah kah kita coba melirik hal lain?

Mungkin aja, passion anda ada di hal yang sekarang tidak anda sukai dan tidak anda kuasai. Mungkin aja, meski anda tidak suka “hal” ini, anda malah menyadari bahwa passion anda berada di “hal” ini.

Kayak cerita cinta tadi. Awalnya gak suka, benci dsb tapi terakhir malah cinta.

Saya jadi keinget kisah saya di kelas 3 SD dulu. Kelas 3 SD, saya dan teman-teman sekelas lainnya dari SDN 8 Talang Jawa , dianugerahi wali kelas yang bernama Bu Sri Nani Gustini (masih hapal nama ibu ini hahaha). Yah, jaman saya SD, semua mata pelajaran (kecuali olahraga dan agama) diasuh ama guru yang sama, yaitu Bu Sri ini.

Uniknya, meskipun ibu ini mengajar banyak mata pelajaran, kami hanya diberi PR di satu mata pelajaran aja. Matematika. PR kami sepanjang 1 tahun itu selalu sama, yakni Matematika. Apa gak bosen tuh?

Bosen sih. Malah capek disuruh ngitung mulu -_-

Tapi, ibaratkan kisah cinta tadi, karena terlalu sering dijejali matematika yang membosankan itu selama 1 tahun, saya malah jadi menggemari matematika sebagai pelajaran favorit 😀

Mungkin aja kita nggak suka sesuatu, tapi karena terlalu sering dijejalin, kita malah suka pada akhirnya (?)

Jujur aja, banyak yang katanya gak suka ama SM*SH. Tapi toh, banyak juga yang hapal lagunya.

Passion mungkin seperti cinta. Benci tapi entar jadi suka jadi cinta~~

Orang Sukses Dalam Hitungan Waktu

Sukses adalah impian semua orang. Semua orang ingin sukses. Entah apapun definisinya, yang pasti semua orang ingin sukses.

Beberapa penelitian dibuat terhadap orang-orang yang katanya udah “sukses”. Hal ini dilakukan agar setidaknya orang lain mampu menempuh cara-cara yang sama agar mereka juga bisa sukses.

Menurut buku 8 To Be Great karangan Richard St. John , ada keunikan dalam bentuk hitungan angka yang ada pada setiap orang sukses.

Saya hanya mengambil dua, semoga bisa menginspirasi anda.

Orang Sukses adalah orang yang menghabiskan 10000 jam dalam menekuni bidangnya

Pertama saya ngelihat, saya pikir 10000 jam itu terlalu sedikit. Saya pikir gampang rasanya menghabiskan 10000 jam untuk menekuni sebuah bidang.

Tapi ternyata nggak. 10000 jam itu paling cepat bisa anda habiskan 417 hari alias 1 tahun lebih. Itupun, kalau anda memaksimalkan 24 jam sehari untuk menekuni bidang yang anda cintai (passion) . Hahaha. Butuh kegigihan serta komitmen yang kuat untuk semakin menekuni bidang anda.

Bagi saya sendiri, hitungan 10000 jam ini sangat bagus untuk kita ketahui. Rasanya enak aja, kalo kita punya parameter gimana kita udah pantas untuk nuntut sukses. Selama belum 10000 jam anda lalui, anggap saja setiap kegagalan yang anda alami sebagai bagian dari perjalanan anda. Toh belum 10000 jam, jadi wajar kalo anda belum sukses-sukses amat.

Tapi bukan berarti kalo kita gak bisa sukses di bawah 10000 jam. Ingat sukses itu relatif. Anda bisa sukses, tergantung bagaimana anda berpikir , bertindak, serta percaya.

Btw, hasil ngitung-ngitung iseng, andaikan kita hidup sampe 60 tahun, maka kita bisa sukses di 52 bidang seumur hidup wkwkkwk.

Orang sukses , paling lama, menyesali kegagalannya hanya sampai 3 jam

(Ini sebenernya inti yang saya mau omongin sih)

Semua orang pernah jatuh. Semua orang pernah gagal. Pertanyaannya, seberapa besar kemauan anda untuk bangkit dari kegagalan anda?

Sama. Saya juga bosan untuk dibilang bangkit-bangkit-bangkit.

Tapi, dengan mengetahui bahwa orang sukses hanya menyesal 3 jam membawa dampak bagi mindset saya.

Oke, penyesalan serta keluhan saat anda gagal itu wajar. Luapkan aja sampai 3 jam. Puas-puasin dah sedih dan marahnya anda saat gagal.

Tapi abis itu? Ya udah lepasin aja. Lupain aja.
Orang sukses di luar sana nyesel cuman 3 jam kok.

Sebelum kita juga sukses, yaudah ikutin aja orang-orang yang “telanjur” sukses.

Nyesel (paling lama) 3 jam. Abis itu move on dan cari hal yang bisa membuat anda bangkit lagi.

Hidup ini terlalu singkat buat disesalin dan dikeselin. Apalagi dikeluhin.

Semoga anda sukses, saya sukses. Hahaha.

#SUKSES

Parameter

Karena satu dua hal, yang jadi teringat pada salah satu bagian dari hidup saya di masa kecil.

Jadi, dulu saya sempat maenin sebuah game RPG. Seperti kebanyakan, game RPG itu kalo gak pake walkthrough, apalagi maen dengan kemampuan bahasa inggris terbatas, untuk membuat game mengalami progress itu agak susah. Mesti ngobrol sama sebagian penduduk kota, cek sana-sini dll.

Berhubung dia udah duluan main dan udah main lebih jauh dari saya, saya kerjaannya nanya mulu sama dia. Kalo di kota ini gimana, terus gimana terus terus dan terus.

Hingga suatu saat, dia bosen atau gimana dia jawab begini ,”Ja, aku maininnya awalnya juga gatau dan aku nyari sendiri lho gak ada yang ngasih tau”

Gak tau deh itu “cakap-cakap” bocah suntuk atau gimana.

Tapi bener, kata-katanya ngena ke saya. Semenjak saat itu saya gaa nanya lagi dan gamenya gak saya lanjutin.

Semenjak saat itu, saya lebih suka untuk menyamakan kondisi saya dengan banyak orang. Entah gentle, entah bodoh, entah aneh. Yang jelas, saya hanya tau bagaimana perbandingan kemampuan saya hanya jika saya memiliki parameter yang sama dengan mereka.

Misalnya aja gini.

Kita ujian di ruangan gede. Tiba-tiba mati lampu. Seisi ruangan gelap. Tapi ada beberapa (termasuk saya) yang hapenya ada senternya. Mereka nyalain senter, saya nggak. Saya memposisikan diri untuk memiliki parameter yang sama dengan kebanyakan orang di situ : kegelapan.

Dan ini sering kejadian sama saya.

Itu juga mungkin yang menjadikan diri saya menjadi sedikit “angkuh”. Jika saya ingin mempelajari sesuatu, saya selalu menganggap bahwa saya bisa belajar hal itu sendiri. Saya membayangkan bahwa teman-teman saya yang bisa di bidang itu, juga dulu di awali dengan belajar sendiri. Parameter kami harus sama. Dan harusnya saya juga bisa.

Hal ini baik untuk beberapa hal. Membuat saya sadar, setidaknya sebelum memulai belajar sesuatu, kami harus udah pernah dulu. Untuk menyelesaikan tantangan, kamu harus nyoba nyelesaiin tantangannya, terus kalo gabisa baru nanya. Bukan mentah-mentah nanya, padahal belum nyoba apa-apa.

Itu hal yang baiknya. Hal buruknya? (Malah ini yg dominan) Saya terbiasa untuk mengkondisikan diri saya sama dengan yg lain dalam parameter, tapi dari sisi usaha beda. Usaha saya nggak sekeras teman-teman yang sekarang udah pada bisa duluan. Selain itu, kesadaran untuk nyoba dulu, membuat saya menunda-nunda belajar. Membuat saya tidak “memanfaatkan” untuk belajar dari yang teman-teman yg sudah bisa.

Hal ini membuat waktu yg saya butuhkan untuk menguasai sebuah hal menjadi lebih lama, bahkan gagal.

“Ja, aku maininnya awalnya juga gatau dan aku nyari sendiri lho gak ada yang ngasih tau”
Entah kata-kata ini bagus. Entah jelek. Yang jelas, ngaruh ke hidup saya -_-“

Fokus

Pertama-tama, saya hanya mau bilang kalau saya lagi di Medan hahahaha (telat abis)

Berhubung lagi liburan dan jauh dari kosan serta konesksi kenceng, kerjaan saya ya gak jauh-jauh dari makan tidur atau cari kerjaan di luar. Sama sebenernya juga lagi ngurus sebuah acara, doain aja acaranya sukses =D

Pagi ini, saya iseng-iseng blogwalking ke beberapa blog. Salah satunya blognya mas Pandji Pragiwaksono. Dan saat baca salah satu postingannya, saya sempet (bahasa medannya, entah apa bahasa Indonesianya -_-) “terotak” sama salah satu bagian tulisannya.


“Fokus bukan merupakan saat kita tahu apa yang harus kita lakukan tapi saat kita tahu apa yang tidak perlu kita lakukan”

Menarik.

Selama ini saya selalu mikir, untuk menemukan passion saya, saya harus milih salah satu bidang yang saya minati. Tapi kenyataannya, memilih hal ini begitu berat karena ya, saya belum menemukan sesuatu untuk dijadikan “teman hidup” dalam kondisi sekritis apapun.

Menindak lanjuti apa yang dibilang Pandji, saya jadi mikir. Tidak selamanya untuk menemukan sesuatu, kita tidak harus mencari “itu”, tapi membuang hal selain “itu”.

Jadi kepikiran sedikit, di banyak film kartun , ketika sang karakter sedang mencari sesuatu, pasti diselipkan adegan membuang benda lain sampai benda yang dicarinya ketemu.

Pertanyaannya : apakah konsep fokus seperti ini bisa kita pake buat nemuin passion kita?