(Masih) 7 Value of Helmy Yahya

Sebelumnya, mari kita bersyukur dulu karena tadi abis dapet makan gratis hahaha ~~

*indahnya hidup by anak kos*

Sekarang, saya lagi baca buku The Valuegraphy of Helmy Yahya. Emang sih, buku jadul (terbit pertama 2003, gak tau kalo ada cetakan baru), tapi bukan berarti ceritanya terlalu jadul dan ilmunya rada cetek yang didapet. Yang paling saya suka adalah konsep valuegraphy (gak tau sih kalo udah pada tau, tapi ini baru bagi saya), yakni membuat semacam biography namun lebih menekankan kepada apa yang bisa dipelajari dari sebuah kisah hidup seseorang. Mungkin bisa dicontohin salah satunya mirip dengan Si Anak Singkong-nya Chaerul Tanjung.

Nah, jadi apa nih yang saya dapet dari bukunya?
Belum banyak sih, soalnya belum habis bacanya hahaha *padahal deadline ngembaliin bukunya kamis -_-*. Tapi, insya allah ada beberapa yang menurut saya sangat layak buat dishare. Berdoa aja bisa baca ampe tamat dan share lebih banyak lagi 😛

1. Positive Thinking
Ah ini mah udah sering dibahas yak. Tapi saking seringnya, ini dianggap sederhana dan karena sederhana sering tidak dilakukan (ya kan?).
Satu hal yang menarik adalah bagaimana Helmy senantiasa untuk mensugesti dirinya dengan kata-kata “Aku Bisa!” . Kata-kata ini adalah pemicu dia untuk menjaga semangat dalam melakukan sesuatu. Bukan hanya sekedar pikiran dan sugesti. Coba diucapkan. Dan coba rasakan kepercayaan diri yang meningkat (meski sedikit hahaha) <— ini gak positive thinking -_-

2. Orang Biasa dengan Spirit Luar Biasa.
Di sini, saya belajar bagaimana potensi dan bakat. Helmy memilih untuk tetap mengembangkan potensinya. Apa beda potensi ama bakat? Bakat itu sesuatu yang (somehow) kita bisa, dan kita gampang bisa. Potensi? Itu adalah sesuatu yang kalo kita lihat-lihat bakalan bisa. Gampang atau susah, tapi kita bisa ngeliat kalau itu kayaknya bisa. Ini yang sering kita lupakan. Kita selalu menghabiskan waktu untuk mencari bakat, sementara sebenernya waktu itu bisa dipakai bekerja keras untuk potensi kita.
Berkaitan dengan kisah di bukunya, saya inget kata-kata seorang guru SMA saya, Pak Hardo.
"Orang pinter yang males, gak akan lebih baik dari orang biasa yang rajin"

3. Puncak kesulitan adalah kemudahan.
Mirip sama, "Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan" . Fokus di sininya adalah, bagaimana kita melihat kesulitan sebagai tantangan untuk jadi lebih kuat. Kesulitan adalah cara terbaik untuk menguatkan diri kita. (Terpaksa) Meningkatkan kualitas diri kita.

4. Kata Favoritnya adalah "Besok!"
Kisah menarik di sini adalah bagaimana hebatnya orang tua Helmy dalam menjawab semua permintaan materi anak-anaknya. Semua dijawab dengan "besok!". Yoi, maksudnya adalah nggak. Helmy terpaksa mewujudkan apa yang ia inginkan sendiri.

Di sini, yang paling diajarin adalah : Jangan Manja. Sesuatu yang bisa kita lakukan , lakukan aja. Jangan pernah berharap seseorang di luar sana somehow memberikan apa yang kita inginkan. Pengen? Usaha!

5. At The Peak of Loneliness.
Adalah hal yang akan tejadi, saat kita biasa meningkatkan kapasitas diri kita karena ingin mengalahkan orang lain. Lengah. Kesepian saat kita udah di atas semua orang dan mulai kehilangan sesuatu untuk dikalahkan. Sedih juga ya -_-
Jadi inget kata-kata dari #BenaBook :
"Gue sadar bahwa apa yang gue lakukan bukan untuk lebih baik dari pada orang lain. Tapi memang untuk kebaikan gue"

6. SPIDERMAN
Kisahnya begini, Peter Parker digigit laba-laba dan punya kekuatan super. Sebenernya, dia punya pilihan untuk jadi orang jahat (ngerampok dll) dengan kekuatannya. Cepet kaya woy kalo gini.

Pertanyaannya : why peter choose to be a good man?

Saya gak tau. Mungkin kalo dia jahat dia takut ama Sophel. Gak tau Sophel? Itu lho yang ada lavendernya, yang nyamuk gak suka. Oh itu kan buat nyamuk. Laba-laba ngaruh gak sih? Au ah. Ngapain dibahas dah. Bego ya saya.
*abailkan paragraf ini*

Poinnya adalah, jadilah SPIDERMAN. Jadikan semua hal "lebih" dari kita untuk senantiasa menjadi lebih baik manfaatnya bagi orang lain. Ini bagus banget nih. Berkaitan dengan bagaimana mengganti niat agar menjadikan diri kita lebih ber-value. Contoh sederhananya begini :
"Gua pengen belajar keras. Gua pengen jadi lebih pinter. Kenapa? Semakin banyak ilmu gua, semakin banyak orang-orang yang bisa gua ajarin. Semakin banyak orang yang bisa gua pinterin"
– Serius, ini mulia banget -__-+

7. Prestise adalah bonusnya Prestasi.
Maneh hebat? Maneh punya kemampuan? Cukup ukir prestasin, gak usah banyak omong. Gak perlu bilang sana-sini untuk dibilang hebat. Cukup tunjukkkin aja.

Sip, saya baru baca sampai segitu euy bukunya. Mudah-mudahan (kayaknya gak , loh kok masih gak positif thinking -_-) bermanfaat.

Udah lama juga gak nulis panjang dan nulis dari BB hahahaha =))

Salam.
Lagi laper. Abis nonton Lie to Me. Dan nangis. Keren.
Btw, butuh sophel. Banyak nyamuk.

Enggak Menjamin.

Saya pernah ditanya oleh salah seorang senior ,”Ngapain kamu ikut diklat begini?”

Saya gak bisa jawab. Saya kan orangnya asal “mau” dikit langsung sok wae.

Saya menjawab, “Gak tau kak. Tapi saya yakin ada manfaatnya, jadi saya ikutan aja”

Kakak menjawab ,”SIapa yang bisa menjamin kamu dapet manfaatnya? Gak ada!”

Saya diem. Gak tau apa-apa.

***

Kalau sekarang dipikir, emang bener gak ada yang bisa menjamin kita bakalan dapet sesuatu kalau melakukan sesuatu tanpa ada tujuannya. Tapi, saya jadi mikir lagi, itu juga bukan jaminan kalau yang kita lakukan juga bakalan gak ada manfaatnya.

Solusi termudah apa?
Ya, sok wae mah.
Ada “mau-dikit” yah langsung aja hahaha *nggak berubah*

Kalo kamu?

Salam.
Musik ilmi masih juga belum berhenti -_-

Solusi Sederhana.

Pernah saya mendengarkan sebuah presentasi mengenai salah seorang mahasiswa sibuk di kampus saya, dalam berbagi tips untuk sukses di kampus.

Ada yang bertanya,”Kak, gimana caranya supaya bisa bagi waktu?”

Jawaban dari si kakak adalah “Ya, harus pintar-pintar bagi waktu.”

Saya bilang ke Joshua, si kakak ini seolah-olah bilang “Gimana caranya supaya pinter? Ya, jangan bodoh. Kayak gak ngasih solusi”

Joshua bilang (super sekali kata-katanya) ,”Itu siih solusi. Solusi sederhana yang paling gampang dikerjain, tapi disusah-susahin.”

Kita fokus pada metode lain untuk menggampangkan diri, padahal ada solusi sederhana yang bisa kita lakukan untuk mencapai sesuatu.

“Gimana supaya bisa sukses?”
“Kerja keras”
“GImana supaya gak minder?”
“Percaya diri”

Solusinya sederhana. Tapi (mungkin) karena gak ada metode riil sana-sini, eh jadi ribet sendiri.

Salam.
Tiba-tiba Riady ketawa-ketawa lagi tidur.

Membaca

Membaca itu trigger menulis.

Saya merasa lebih nyaman dalam menulis ketika saya selesai membaca sesuatu. Gaya bahasa tulisan yang menarik, terkadang menjadi pemacu yang enak untuk menuliskan sesuatu yang berbeda dengan gaya yang sama.

Yang paling saya sukai untuk dibaca adalah buku programming, eh (sugesti :P) , blog. Blog menurut saya adalah sebuah buku yang ditulis ulang dengan gaya bahasa baru, gaya bahasa bicara. Seolah-olah membaca pikiran-pikiran keren yang diucapkan langsung oleh orang-orang.

Tidak hanya pikiran.

Kisah keseharian juga sangat menyenangkan untuk dibaca.
Senang juga kalau membaca postingan orang mengenai bahagianya hari mereka.
Atau rada bersyukur kalau membaca postingan orang mengenai betapa sialnya hidup mereka.
Oke. Saya emang rada jahat.

Yang paling seru adalah membaca pikiran/opini. Dengan gaya bahasa yang cenderung ngobrol abis, senang rasanya membaca tulisan opini orang.Seolah-olah saya duduk di depannya, mendengarkan langsung apa yang ia bilang/tulis.

“Kampret , bener juga”
“Anjiir”

Kayaknya hal-hal ini udah jadi penghias mulut kalau baca blog orang. Menyenangkan sih.

Salam.
Sedang butuh masukan blog-blog orang yang menarik untuk dibaca.

Prinsip ?

Entahlah, tapi saya pernah dengar Pak JK ngomong yang kurang lebih seperti ini :
“Mending melakukan hal-hal yang meragukan daripada menghabiskan waktu nunggu yang pasti-pasti”

Lumayan setuju.

Koin

Banyak yang bilang bahwa berpikir tanpa kerangka itu sangat sulit.

Benar.

Apalagi dalam memutuskan sesuatu.

Memutuskan sebuah pilihan dari beberapa yang sama-sama memiliki plus minus itu sulit. Banget. Pertimbangan yang makin lama makin banyak bukan mempermudah, tapi malah cenderung mempersulit.

Kalo kata Aryya, cara paling gampang adalah pake koin. Toss sebuah koin, dan coba lihat keputusan apa yang bakalan keluar. Ada yang bilang, ini metode asal-asalan.

Tapi sebenarnya, ini Genius!

Misalnya aja, anda punya dua pilihan. Anda toss koin dan yang keluar adalah pilihan pertama. Setidaknya, sekarang anda punya pilihan!

Minimal, jika anda merasa “tak suka” pada hasil yang keluar, itu indikasi bahwa anda sebenarnya lebih prefer ke pilihan kedua. Ini juga keputusan! Pilihlah pilihan kedua.

Cara yang kampret, tapi menurut saya itu menciptakan “kerangka”.

 

Salam.

Kelaperan di tengah malam.

Mungkin Tidak Benar.

Mungkin tidak benar. Silahkan dibenarkan.

Apa yang saya ucap.
Apa yang saya tulis.
Apa yang saya lakukan.

Tidak semuanya benar.
Silahkan dibenarkan.

Salah.
Mohon dibenarkan.

Salam.
Tidak bisa tidur abis mendengar ilmi ngigau “mendingan air panas aja”