20 Tahun

Tahun ini, insya Allah jika diberi waktu hidup lebih, saya akan berusia 20 tahun.

Beberapa teman saya sudah mencapai, sebentar lagi mencapai, atau masih lama mencapai umur ini.

Berhubung saya lahir di bulang yang agak belakangan, saya kayaknya masuk kategori yang “gak sebentar-sebentar-amat” lagi.

 

Pertambahan usia di setiap tahun memang terasa biasa. Proses yang alami terjadi selama kita masih diberikan umur sama Allah swt. Sebagian mencoba memperingatkan bahwa hal ini adalah pertanda jatah hidup berkurang, sementara yang lain menjadikan hal ini sebagai momen bersyukur karena sudah diberikan kesempatan sejauh ini.

 

Biasanya, seseorang akan lebih ceria (errr, bukan kata yang tepat sebenarnya) ketika mereka memasuk usia ke 17 tahun. Sweet Seventen katanya. Udah boleh berdiri sendiri. Udah boleh punya sim dan udah boleh ikutan pemilu.

 

Btw, saya masih kesel karena ga masuk DPT  pemilu -___-

 

Bagi saya sendiri, menyambut usia 20 tahun terasa berbeda dengan usia-usia sebelumnya. Rasanya, usia ini bukan hanya sekedar bagian biasa dari perjalanan hidup saya. Punya perasaan bahwa usia ini bakalan jadi salah satu momentum dalam kehidupan. Selalu terbayang, ketika memasuki umur dua-puluh-tahun akhirnya sudah bisa dipanggil “kepala dua”.

Selalu terbayang, bahwa saat memasuki usia ini, kehidupan tidak akan sama lagi.

Ada tuntutan untuk jadi jauh lebih dewasa.

Gak ada yang nuntut sih, cuman pingin doang.

Ada keinginan bahwa semua main-main yang biasa saya lakukan harus berhenti ketika saya berusia 20 tahun.

Ada perasaan bahwa saat umur 20 tahun, harus sudah bisa benar-benar berdiri di atas kaki sendiri. Bisa mandiri. Bisa hidup tanpa harus cengeng.

Ada keinginan untuk bisa cerita banyak hal keren ke anak dan semuanya bermula di usia 20 tahun.

Usia 20 tahun ke atas akan jadi usia yang berat. Siapkah saya? Gak ada yang tahu sebenarnya. Pilihan sebenarnya ada dua : menyiapkan diri untuk menyambut usia tersebut atau memanfaatkan semua hal sebelum usia saya 20 tahun. Saya cenderung ke pilihan ke-dua.

 

Harus punya list apa-apa saja yang ingin dilakukan sebelum 20 tahun. Punya sih, tapi dari semuanya, yang on progress cuman satu dan sekarang sedang stagnan.

 

20 tahun.

Salam.

Ditulis saat usia belum 20 tahun.

So Damn True

Banyak terjadi di sekitar saya sekarang (termasuk saya).

Tahu apa yang benar. Tidak punya kemauan untuk melakukannya.

Cenderung mengungkapkan tanpa melaksanakan.

Repost dari 9gag.com

HIMYM : Last Forever

Serial How I Met Your Mother akhirnya berakhir di tanggal 31 Maret dengan ending yang begitu — mengecewakan ? bagus? Atau hanya sekedar make sense? Apapun itu yang pasti serial ini telah menjadi salah satu bagian bagi saya semenjak 6 bulan yang lalu (ya, saya telat ngeh – nyadar kalo serial ini bagus ).Serial yang sudah berhasil menjadi prioritas di kala UTS dan UAS + Tugas di Semester III saya kuliah. Gak heran nilai pas-pasan huahahauhu.

Alternatif Ending yang Diharapkan

Dilihat dari komen beberapa orang, ending dari serial satu ini termasuk mengecewakan. Saya sendiri tidak bisa bilang demikian karena saya memang jarang nonton serial. Saya tidak punya parameter untuk mengatakan ending yang bagus atau tidak. Tapi, setelah ngelihat salah satu alternatif ending (ending yang dipotong sampai Ted bilang ama Tracy “Hi”) , saya nyadar bahwa ini adalah ending yang sebenernya cukup bagus untuk mengakhiri serial ini. Dramatis dan berkesan pada akhirnya.

Namun hal ini tidak menjelaskan mengapa Ted memutuskan untuk mulai terlalu jauh dalam menceritakan pertemuannya dengan The Mother? Saya rasa ini adalah hal yang ingin dijawab melalui adegan-adegan setelah alternatif ending tadi. Beberapa hal mungkin tidak digambarkan dengan baik, tapi saya rasa, sekali lagi, hal tersebut menjadi hal yang make sense pada akhirnya.

Adegan yang menjelaskan The Mother sakit apa dan blabla rasanya memang tidak perlu diceritakan ketika memang seorang ayah menceritakan hal tersebut kepada anak-anaknya yang notabene ada pada saat Ted dan The Mother melewati masa itu.

Secara umum, ini adalah serial yang sangat bagus menurut saya. Pada awalnya, saya menikmati serial ini hanya karena serial ini termasuk comedy-nya yang sangat menghibur. Ditambah lagi, selalu penasaran dengan wanita-wanita baru yang hadir di setiap episodenya (seorang teman bilang, “bisa jadi bahan googling baru”). Tapi pada akhirnya semua itu berubah ketika saya menyadari bahwa serial ini merupakan serial yang juga sering memberikan berbagai pelajaran hidup terutama tentang persahabatan, cinta, dan awesomeness.

Nora! Paling cantik hahaha

 

Well, serial ini udah tamat dan rasanya sudah saatnya untuk move on dari serial ini. Sudah saatnya mengerjakan hal lain yang sering ditunda karena nonton serial ini. Setidaknya, sampai saya menemukan serial lucu lainnya hahaha. (ada rekomendasi?)

 

Salam.

Ditulis ketika seharusnya mengerjakan tugas OOP.