Eksperimen-Eksperimen yang Ingin Dilakukan Tapi Karena Suatu dan Lain Hal Tidak Jadi

Saya gemar bereksperimen. Tapi kayaknya makin ke sini makin ada aja alasan buat nunda eksperimennya. Saya coba share di sini, mana tau ada yang mau sukarela ngelakuin eksperimennya.

1. Hidup sebagai Tuna Indra
Makin ke sini, kayaknya hidup makin disesalin aja. Dikit-dikit ngeluh sama hal-hal yang sebenarnya tidak layak dikeluhkan. Atau keluhan yang levelnya cemen amat.

Karena muak dengan semua ini, pingin sebenernya coba ngerasain hidup sebagai orang yang ga bisa ngeliat atau ngedenger. Sederhana kok, tinggal ditutup aja indra yang berkaitan selama 24 jam. Pengen tahu bakal seberapa kangen sama pemandangan sama suara2 yang tiap hari  berkeliaran.

2. 100 pekerjaan di dunia.
Jujur aja, saya masih belum bisa ngebayangin bagaimana karir saya di jurusan kuliah saya. Rasanya kok sering moody gak jelas gitu kalo berkaitan ama IF.

Makanya, sebenernya kemarin ada wacana mencoba 100 pekerjaan paling hot di dunia. Pengennya sih bisa nemu salah satu dari 100 itu soal karir ke depannya.

Yoi banget coy sayangnya belum sempet 😦

Ntaran deh.

Salam.
Ditulis abis main monster rancher dan badanku lelah.

harisetianugraha

“Akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar dan sejenisnya lagi. Makin lama, makin banyak musuh saya dan makin sedikit orang yang mengerti saya. Dan kritik-kritik saya tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik-kritik saya? Apa ini bukan semacam onani yang konyol? Kadang-kadang saya merasa sungguh-sungguh kesepian”

– Soe Hok Gie

Lihat pos aslinya

Sekolah Bilik Pengmas

(ini murni ngopas essay yang dikumpulin sebagai tugas akhir kegiatan, jadi maaf kalau yang di bawah terasa panjang dan agak gimana gitu)

 

Di Belakang Pengmas
Pengabdian Masyarakat berasal dari dua kata penting : “abdi” dan “masyarakat”. Secara umum, menurut pendapat saya, Pengabdian Masyarakat (untuk selanjutnya disebut pengmas) adalah pelayanan kepada masyarakat. Banyak yang bertanya,”Kenapa sih pengmas itu penting?”. Saya akan jujur menjawab saya juga tidak tahu mengapa pengmas itu penting. Pengmas memang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Walaupun demikian, menurut penjelasan Pak Budi Rahardjo*, sifat pengmas adalah fardhu kifayah alias kewajiban untuk umum bukan personal.
Jujur saja, ikutnya saya dalam kegiatan pengabdian masyarakat murni karena senang. Saya senang “lari” dari rutinitas, lalu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Apalagi dalam melakukan pengmas, kita cenderung untuk membuat orang lain bahagia. Rumus bahagia bagi saya sederhana : membuat orang lain bahagia.
Selama ini saya melakukan pengmas atas dasar senang sehingga saya cenderung tidak mempedulikan bagaimana proses idealnya. Kegelisahan saya mulai muncul saat saya mengetuai sebuah acara di himpunan dan mulai ngobrol banyak dengan orang-orang hebat (menurut saya). Pertanyaan yang menarik ketika kita akan membuat sebuah acara adalah kenapa? dan bagaimana?. Kenapa mungkin menjadi dasar dalam melakukan sesuatu. Bagaimana merupakan langkah taktis (atau saya menyebutnya best practice) dalam melakukan kegiatan tersebut. Berhubung salah satu bagian kegiatan yang saya pimpin adalah bagian yang berhubung dengan masyarakat, saya coba ngobrol dengan berbagai dedengkot kepengmasan di kampus.
Dedengkot-dedengkot ini banyak bercerita soal bagaimana mereka dulu menjalankan kegiatannya. Saat saya tanya,”Kak, kakak dulu belajar dari mana ilmu, teknis, dan sebagainya?”, kebanyakan dari mereka menjawab,”Yah pengalaman aja sih”.
Nah, hal ini yang membuat hati saya mendadak tidak enak dalam berkegiatan pengmas. Untuk kegiatan yang lain semisal acara hiburan, pameran, atau kaderisasi, para dedengkot selalu bisa bicara atas dasar ilmu dan pengalaman yang mereka miliki. Lain cerita soal pengmas. Bicaranya lebih banyak atas dasar pengalaman saja. Padahal, saya yakin ada ilmu-ilmu khusus yang bisa jadi acuan supaya mengemas kegiatan pengmas menjadi lebih baik lagi.
Penjelasan di atas adalah awal cerita kenapa saya akhirnya memutuskan untuk ikut dalam kegiatan sekolah pengmas.

 

Kegelisahan saya soal dasar ilmu dalam ber-pengabdian masyarakat menjadi dasar utama. Saya tidak ingin saat saya berdiskusi dengan adik-adik himpunan, semua pertanyaan saya jawab atas dasar pengalaman saja.
Untungnya, kegelisahan ini banyak terjawab saat saya mengikuti sekolah pengmas. Soal ilmu dalam melakukan pengmas, banyak saya dapatkan saat saya mendengarkan pemaparan dari Pak Iskandar dari IBEKA. Pak IBEKA menyatakan ada langkah-langkah utama dalam melakukan pengmas. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Technical and Social Management
Pada tahap ini, kita melakukan pendataan soal sumber daya dan potensi yang ada pada masyarakat. Selain itu, pada masa ini kita juga harus mempelajari keadaan masyarakatnya. Keadaan masyarakat tidak bisa kita pahami dengan hanya bertanya. Kita harus ikut menjadi bagian masyarakat, banyak mendengar, dan coba diam. Cara paling mudah untuk mengenali masyarakat adalah dengan melakukan imitasi terhadap masyarakatnya.
2. Consolidation Phase
Hasil pengumpulan data mengenai potensi dan keadaan masyarakat kita coba olah untuk menghasilkan rancangan solusi yang akan kita berikan pada masyarakat tersebut. Bagian yang sering kita lupakan dalam pengmas (menurut pengakuan Pak Iskandar, pemerintah juga sering melupakan) adalah membuat solusi itu datangnya dari masyarakat. Hal ini penting karena pada akhirnya solusi ini akan diberikan pada masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan (kalau bisa terlibat penuh) dalam penentuan solusi yang akan diterakan.
3. Organization Setup
Pada tahap ini, kita harus menyiapkan masyarakat sebagai penerima solusi. Kelemahan kita dalam berkegiatan di ITB adalah kita selalu sibuk dalam persiapan teknologinya. Aspek manusia sebagai pengguna teknologi sering kita lupakan. Analoginya, teknologi merupakan metode (atau mungkin hadiah) dalam pengembangan masyarakat. Aspek utama dalam pengembangan masyarakat tetap saja “masyarakat”.
4. Self Reliant Phase
Tahapan ini merupakan bagian dimana masyarakat diharapkan telah menjadi mandiri. Bagian ini sering kali gagal total karena kita melewatkan bagian Organization Setup. Masyarakat diharapkan mandiri di fase ini.
Keseluruhan tahapan di atas paling cepat dilaksanakan dalam 1,5 tahun. Waktu yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh mahasiswa. Pak Iskandar menekankan bahwa mahasiswa tidak harus melakukan pengmas yang sempurna. Mahasiswa harus lebih disadarkan soal potensi dan tanggung jawab mereka pada masyarakat.
Setelah pemaparan dari Pak Iskandar, kami diberikan kesempatan untuk belajar menjadi bagian dari masyarakat desa Ponggang, Subang. Kami ditantang untuk banyak belajar dari hidup masyarakat sambil memetakan potensi yang bisa dikembangkan dari desa ini. Pelajaran yang banyak saya ambil selama di desa adalah sebagai berikut.
1. Pendekatan pada Masyarakat
Pendekatan pada masyarakat bisa dilakukan dengan menjadi bagian masyarakat tersebut. Lakukan imitasi kepada masyarakat. Jangan jadi orang yang sok-tahu saat bergabung dengan masyarakat. Kita harus mampu menghargai kearifan lokal dipegang oleh masyarakat. Saran dalam melakukan pendekatan adalah dengan coba mendekati anak-anak terlebih dahulu. Hal ini yang diterapkan oleh Kang Iwa selaku mentor kami selama di sana. Kang Iwa berhasil mendapatkan peran di masyarakat dalam 4 tahun dengan mendekatkan diri terlebih dahulu kepada anak-anak.
2. Penggalian Potensi Bertahap
Di desa Ponggang, IBEKA sudah mencoba mengembangkan salah satu potensi di desa, yakni Singkong. Menurut pengakuan Kang Iwa, hal ini bukanlah tujuan akhir dari pengembangan desa,
melainkan salah satu tahap. Pengembangan potensi bisa dilakukan dengan hal-hal yang nyata memberikan manfaat kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat soal kapasitas kita sebagai orang yang akan “mengembangkan” masyarakat.
3. Jangan Remehkan Masyarakat!
Untuk mempermudah melakukan pemetaan terhadap kondisi masyarakat, kita sering kali coba mendekatkan diri kita dengan orang-orang yang memiliki kekuatan pada masyarakat tersebut. Nyatanya, ilmu atau data bisa kita dapatkan dari kalangan masyarakat mana saja. Dalam kegiatan kami, salah satu peserta justru belajar banyak dari anak SMP.
Kegiatan selama di desa membuat saya lebih memahami bagaimana sebenarnya begitu banyak orang-orang inspiratif di sekitar kita. Banyak kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk mendekatkan diri dengan orang-orang di sekitar kita, namun sering terhalang dengan alasan kesibukan akademik.
Salah satu ilmu yang saya dapatkan lagi dalam sekolah pengambdian masyarakat adalah soal Branding dari kegiatan kita. Materi ini disampaikan oleh Mas Iqbal selaku campaign manager dari kitabisa.com. Ada tiga hal yang menjadi perhatian kita dalam melakukan branding.
1. Be Different
Prinsip utama dalam branding adalah bagaimana cara orang mengenali kita. Cara termudah dalam membuat orang mengenal kita adalah dengan membuat diri kita berbeda agar mudah dilihat. Hal ini sesuai dengan prinsip Purple Cow yang dikemukakan oleh Seth Godin.
2. Be a Storyteller
Semua orang menyukai cerita. Buatlah apa yang menjadi tujuan kita dengan mengemasnya menjadi sebuah cerita. Orang-orang akan dengan senang hati menceritakan kembali cerita yang kita berikan. Salah satu contoh menarik adalah cerita tentang kebahagiaan yang selalu diberikan oleh Coca-Cola.
3. Be Relevant
Kita tidak perlu menceritakan “cerita” kita kepada semua orang. Mungkin lebih banyak orang yang mendengar cerita kita akan menjadi lebih baik. Namun, menceritakan “cerita” kita pada orang yang tepat akan lebih membekas. Pada akhirnya, orang-orang yang “terbekas” ini yang akan menyebarkan cerita kita.
Pada akhirnya, apa yang saya cari pada sekolah pengmas ini, berhasil saya dapatkan. Apa yang saya ingin lakukan setelah ini? Tidak banyak. Saya hanya ingin membuat teman-teman saya ,yang hidupnya terlalu nyaman, untuk lebih memahami bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung mereka. Saya ingin coba meyakinkan mereka bahwa mereka bisa menjadi “pahlawan” bagi orang-orang itu. Sesuai dengan pesan Pak Is, saya mencoba meningkatkan rasa kemanusiaan dari teman-teman saya.
*bisa dibaca pada : https://rahard.wordpress.com/2015/03/06/super-dosen/

Data, Informasi, dan Pengetahuan.

Besok ujian sistem informasi jam 7 pagi.

Sekarang jam 8.38 malem, baru selesai baca Bab-2 dari 8 Bab. Dan lebih milih nulis ini dibanding lanjutin baca. Huehuehue.

IF3240 Sistem Informasi ini mata kuliah yang cukup menarik. Bahasannya banyak soal organisasi, proses bisnis, sama analisis sistem, dsb.

Salah satu bahasannya adalah Data, Informasi, dan Pengetahuan. Menurut slide si Bapak Dosen, 

Data itu fakta mentah yang belum terformat.

Informasi itu data yang sudah diproses dan dilihat dari konteks tertentu.

Pengetahuan itu intepretasi hasil hubungan antar informasi yang dikaitin dengan pengalaman masa lalu atau keahlian tertentu.

Menariknya, ada satu istilah lagi, yakni wisdom. Wisdom itu pengetahuan yang diakumulasikan dan diaplikasikan.

Contoh sederhananya seperti ini.

Data : jadwal ujian IF3240 itu Rabu(11/3) jam 07.00 – 08.40.

Informasi : saya punya waktu sekitar 10 jam buat belajar.

Pengetahuan : dengan kebiasaan tidur saya selama ini, saya paling hanya punya 1 jam lagi untuk belajar.

Wisdom : seharusnya saya belajar.

….

Nampaknya saya belum bisa sampai ke tahapan wisdom :))

Salam.
Ditulis saat punya pekerjaan lain yang lebih penting dan mendesak.

*cabut dulu mau makan*
*update abis ujian : soal ini masuk loooh :))) *

Simple Web Browser Android

Ceritanya, malem ini pengen ngerjain salah satu tugas besar semester ini. Tapi berhubung pengerjaan tugasnya butuh ini itu yang musti di-download, terus ujung-ujungnya mager -__-

Berhubung si Jobel lagi tidur terus makan tempat, terus saya gak bisa tidur. Pas pula, lagi penasaran yang namanya AsyncTask di android.

Apa itu AsyncTask?

AsyncTask adalah salah satu kelas bawaan android yang digunakan untuk membuat semacam thread di android. Nah, biasanya kan kalau ngebuat thread, kita jadi pusing nih mikirin gimana pertukaran data dsb sama thread utama, Async Task ini ngambil urusan ini supaya kita gak perlu mikirin hal itu hahaha.

Dan dari hasil workshop mobile kemarin, baru tau, ternyata thread utama (yang biasanya dihandle sama activity something something) itu tidak disarankan untuk melakukan hal lain selain tampilan. Ini juga yang nyebabin kenapa waktu pertama kali nyoba buat browser, musti nge-rendahin level strict policynya.

Anyway, AsyncTask pada Simple Web Browsernya dipake untuk melakukan akses ke internet sesuai URL. Hal ini yang gak bisa dilakukan di thread utama, sehingga harus ada thread yang lain harus ngurusin. Selain itu, hal ini dilakukan biar kalo lagi ngeload halamannya, aplikasi gak nge-freeze hahaha.

Anyway lagi, coba aja kode-kode berikut ini buat ngebuatnya.


package com.example.simplewebbrowser;

import java.io.BufferedReader;
import java.io.InputStream;
import java.io.InputStreamReader;

import org.apache.http.HttpResponse;
import org.apache.http.client.methods.HttpGet;
import org.apache.http.impl.client.DefaultHttpClient;

import android.app.Activity;
import android.os.AsyncTask;
import android.os.Bundle;
import android.util.Log;
import android.view.Menu;
import android.view.MenuItem;
import android.view.View;
import android.view.View.OnClickListener;
import android.webkit.WebView;
import android.widget.Button;
import android.widget.EditText;
import android.widget.ProgressBar;

public class MainActivity extends Activity {
	Button buttonGo;
	EditText editUrl;
	WebView webView;
	ProgressBar progressBar;
	boolean finished = false;
	double counter;

	@Override
	protected void onCreate(Bundle savedInstanceState) {
		super.onCreate(savedInstanceState);
		setContentView(R.layout.activity_main);
		buttonGo = (Button) findViewById(R.id.buttonGo);
		buttonGo.setOnClickListener(new OnClickListener() {

			@Override
			public void onClick(View arg0) {
				// TODO Auto-generated method stub
				if (editUrl.getText().toString() == "") {

				} else {
					new LoadWebTask().execute(editUrl.getText().toString());
				}
			}
		});
		progressBar = (ProgressBar) findViewById(R.id.progressBar);
		editUrl = (EditText) findViewById(R.id.editUrl);
		webView = (WebView) findViewById(R.id.webView);
		
	}

	@Override
	public boolean onCreateOptionsMenu(Menu menu) {
		// Inflate the menu; this adds items to the action bar if it is present.
		getMenuInflater().inflate(R.menu.main, menu);
		return true;
	}

	@Override
	public boolean onOptionsItemSelected(MenuItem item) {
		// Handle action bar item clicks here. The action bar will
		// automatically handle clicks on the Home/Up button, so long
		// as you specify a parent activity in AndroidManifest.xml.
		int id = item.getItemId();
		if (id == R.id.action_settings) {
			return true;
		}
		return super.onOptionsItemSelected(item);
	}

	private class LoadWebTask extends AsyncTask<String, Void, String> {

		@Override
		protected String doInBackground(String... urls) {
			Log.d("Masuk", urls[0]);
			String response = "";
			finished=false;
			for (String url : urls) {
				DefaultHttpClient client = new DefaultHttpClient();
				HttpGet httpGet = new HttpGet(url);
				try {
					HttpResponse execute = client.execute(httpGet);
					InputStream content = execute.getEntity().getContent();

					BufferedReader buffer = new BufferedReader(
							new InputStreamReader(content));
					String s = "";
					counter = 0;
					while ((s = buffer.readLine()) != null) {
						response += s;
						counter+=0.1;
						progressBar.setProgress((int)counter);
					}

				} catch (Exception e) {
					response = e.getMessage();
				}
			}
			finished=true;
			return response;
		}

		@Override
		protected void onPostExecute(String result) {
			webView.loadData(result, "text/html", "utf-8");
		}

	}
}


<LinearLayout xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
    xmlns:tools="http://schemas.android.com/tools"
    android:layout_width="match_parent"
    android:layout_height="match_parent"
    android:orientation="vertical"
    android:paddingBottom="@dimen/activity_vertical_margin"
    android:paddingLeft="@dimen/activity_horizontal_margin"
    android:paddingRight="@dimen/activity_horizontal_margin"
    android:paddingTop="@dimen/activity_vertical_margin"
    tools:context="com.example.simplewebbrowser.MainActivity" >

    <LinearLayout
        android:layout_width="fill_parent"
        android:layout_height="0dp"
        android:layout_weight="2"
        android:orientation="horizontal" >

        <EditText
            android:id="@+id/editUrl"
            android:layout_width="0dp"
            android:layout_height="fill_parent"
            android:layout_weight="10"
            android:selectAllOnFocus="true"
            android:text="@string/hello_world" />

        <Button
            android:id="@+id/buttonGo"
            android:layout_width="0dp"
            android:layout_height="fill_parent"
            android:layout_weight="3"
            android:text="@string/go" />
    </LinearLayout>
	<ProgressBar 
	 	android:id="@+id/progressBar"
	 	android:layout_height="0dp"	 	
	    style="?android:attr/progressBarStyleHorizontal"
	 	android:progress="20"
	 	android:layout_weight="1"
	 	android:layout_width="fill_parent"   
	 />
    <WebView
        android:id="@+id/webView"
        android:layout_width="fill_parent"
        android:layout_height="0dp"
        android:layout_weight="10"
        android:text="@string/hello_world" />

</LinearLayout>
<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<manifest xmlns:android="http://schemas.android.com/apk/res/android"
    package="com.example.simplewebbrowser"
    android:versionCode="1"
    android:versionName="1.0" >

    <uses-sdk
        android:minSdkVersion="17"
        android:targetSdkVersion="17" />
	<uses-permission android:name="android.permission.INTERNET"/>
    <application
        android:allowBackup="true"
        android:icon="@drawable/ic_launcher"
        android:label="@string/app_name"
        android:theme="@style/AppTheme" >
        <activity
            android:name=".MainActivity"
            android:label="@string/app_name" >
            <intent-filter>
                <action android:name="android.intent.action.MAIN" />

                <category android:name="android.intent.category.LAUNCHER" />
            </intent-filter>
        </activity>
    </application>

</manifest>

Tampilannya kira-kira begini.

Screenshot_2015-03-05-01-00-54

Salam,
Ditulis sesaat setelah jobel ngigau
“Eh, udah ganti aja fotonya”