Tentang WWE

Apa yang membuat saya menyenangi wwe?
1. Pertunjukan ‘stuntman’-nya.
WWE memiliki kualitas atraksi. Kualitas atraksinya terkadang membuat saya bertanya “Seriusan, ini pura-pura?”. Ya, sekali lagi, WWE memang rekayasa belaka. Tapi, kalau kalian tonton aksi dan ceritanya, rekayasa ini dibalut dengan rapih sehingga kadang saya benar-benar mempertanyakan ke-rekayasa-annya.

2. Kualitas pendukung yang sangat luar biasa.
Set ring, dekorasi, kualitas komentator (intonasi dan pemaknaan kata-katanya), kamera, pencahayaan dsb. Tidak percaya? Coba aja bandingin sama TNA, terasa perbedaanya.

3. WWE NXT dan Tough Enough.
Dua ini saya pahami sebagai akademi bagi calon bintang WWE. Di NXT, pegulat yang sudah terlatih, menunjukkan kebolehannya dalam beratraksi di atas panggung. Minim jalan cerita, tapi dramanya mulai ada. Bintang NXT yang sangat atraktif (tidak musti juara) sering dipromosikan ke show utama (RAW dan Smackdown). Tough Enough lebih ke arah pencarian bakatnya. Semacam Be-A-Man -nya lah hahaha.

4. Jalan cerita dan drama.
Banyak yang bilang ketika saya sedang menikmati WWE, “Ja, mending liat UFC, beneran dan serius soalnya”. Sayangnya, justru drama dan jalan cerita di WWE yang membuat saya sangat menyukai ‘bisnis pertunjukkan’ ini. Jalan cerita di WWE benar-benar bisa membuat pertandingan menjadi jauh lebih menarik, karena sarat emosi dan histori.

Hebatnya, WWE memiliki pandangan jangka panjang yang amat menarik dalam memilih jalan cerita. Siapa yang bakal mengira, di tengah pertandingan Reigns dan Brock Lesnar, Rollins akan cash-in MITB, lalu menjadi juara? Saya sangat kecewa (saat itu saya menyukai Reigns) tapi ketika melihat bagaimana perilaku Rollins saat memegang WWE Champion, saya malah balik kagum pada WWE. Mereka memilih orang yang tepat sebagai bintang utama mereka. Rollins juga sangat mampu menjadi ‘trash talker’ sehingga menimbulkan citra ‘orang brengsek yang kebetulan dapet kesempatan’. Kemampuan ‘trash talker’ ini yang ga bakalan dimiliki oleh Lesnar dan Reigns kalau mereka yang jadi Champ-nya.

WWE juga sabar banget dalam membangun jalan cerita. Mungkin temen-temen juga pada tahu kasus 21-1, di tahun 2014, Undertaker akhirnya putus streaknya setelah berhasil dikalahkan oleh Lesnar. Setelah itu, Undertaker hilang, tidak muncul dalam cerita utama. Analisis orang-orang, ini cara WWE dalam mengawali bahwa Undertaker akan pensiun. Undertaker muncul di WM berikutnya dan mengalahkan Bray Wyatt, lalu hilang lagi.

Tiba-tiba, minggu ini, Undertaker datang lagi. Saat Lesnar sedang mencoba merebut gelarnya dari Rollins di Battleground, Undertaker datang, mengacaukan pertandingan.

Sumpah, Undertaker dikalahin Lesnar yang udah mulai saya lupain, diungkit lagi. Jadi seru lagi…

WWE bener-bener sabar, supaya bisa ngejutin penontonnya, drama apa yang bakal bisa menarik.

5. Hati.
WWE juga punya hati loh. WWE benar-benar menghargai para atletnya. Ada Hall of Fame yang menunjukkan betapa hormatnya mereka kepada para atlit legendaris mereka. Ada special event Tribute to Troops, yang menghargai para tentara dan marinir USA, dengan memberikan pertunjukkan pada mereka.
Penghormatan dan special event untuk tragedi yang menimpa kawasan atau orang tertentu juga ada. Kanker, sering jadi satu topic yang didengungkan oleh WWE.

WWE Inbox, yang menjadi ajang menunjukkan bahwa atlet-atlet WWE pun hanya manusia biasa, yang juga bisa tersenyum, lucu-lucuan kalau di luar ring.

6. WWE Network.
Ini yang menjadi salah satu kemasan terbaik dari WWE. Untuk yang ga punya modal macam saya (hahaha), paling bisa terus ikutin jalan cerita si WWE ini melalui channel youtubenya (yang bener-bener bagus dari segi manajemen videonya, untuk sesuatu yang gratisan, niat banget ngurusinya), tapi buat yang rada ber-uang, bisa ikutin WWE Network. Fasilitasnya bisa macem-macem, kesempatan dapet promo tiket nonton, atau ppv buat special event macam Battleground kemarin. Dari sisi bisnis dan fanbase, WWE Network (termasuk Youtube) benar-benar memanjakan para penggemar WWE. BusinessInsider juga menyebutkan, bahwa WWE adalah salah satu bisnis dengan fanbase yang paling kuat.

Sebenernya ada satu lagi nih alasannya : WWE adalah hal yang bisa saya obrolin dengan adek saya, selain bola. Pembicaraan kami kayaknya memang muter-muter di sini aja, plus “Mohon maaf lahir batin”.

Weh, pasti banyak kontroversi sih kalau diskusi soal WWE itu baik atau nggak. Emang enggak sih sebnernya wkwk. Tapi kalau memang sudah bisa bijak (ahzeg) dan cukup berumur, WWE sebenarnya juga bisa jadi ajang hiburan 😛

Tanenbaum

“Why do people buy computers for home use? Initially, for word processing and games, but in recent years that picture has changed radically. Probably, the biggest reason now is for Internet Access”

Kalimat itu ditulis oleh Tanenbaum pada tahun 2003.

Sebelumnya, izinkan saya memperluas makna word processing ini dengan mencakup membuat dokumen apapun, termasuk laporan, laporan angka (biasanya dengan excel), presentasi (power point dsb). Tahun 2003, Tanenbaum sudah menuliskan bahwa sudah ada pergerakan penggunaan komputer dari pemrosesan dokumen dan game ke penggunaan internet.

Saya masih menggunakan komputer hanya untuk pemrosesan dokumen dan game hingga saya tamat smp (sekitar 2009).

Dugaan saya, pergeseran teknologi saya berarti minimal telat 6 tahun.

Kampret.

KP #8

Tidak ada kata terlambat buat mengucapkan, “Mohon maaf lahir batin”, kan? :p

Wuiih, gak terasa ,sejak dua minggu yang lalu, kegiatan kerja praktik saya di PT Inovasi Sehat Indonesia sudah berakhir. Tidak ada yang spesial di hari terakhir saya kp di sana sih.

Di hari terakhir saya dikasih tugas untuk ngerancang apps baru untuk tugas lapangan, serta mendampingi pihak monitoring and evaluation (MnE) untuk melakukan penarikan data dari apps yang baru saja diluncurkan. Agak sulit sih, terutama karena ada salah pengertian saya terhadap skema basis datanya. Hehehe.

Ketika sudah berhasil mendapatkan data yang diinginkan, saya harus menjelaskan kepada staff-nya mengenai query yang digunakan. Di sini, saya baru nyadar, kemampuan saya bicara pada orang awam sangat rendah. Saya pikir saya sudah punya kemampuan yang lumayan, tapi respon orang-orang tetap saja

“GUEE GAK NGERTIIII”

.

Kampret, hahaha.

Karena saya tahu persis bahwa kerjaan saya sangatlah tidak sempurna selama mengikuti kegiatan kp di sana, saya mencoba untuk meminta feedback dari Kak Ali soal performa saya.

Singkatnya, saya masih rada lemah di bagian desain perangkat lunak, terutama bagian mendefinisikan test-case. Hahaha.

Eniwei, sangat menyenangkan bisa kerja praktik di PT Inovasi Sehat Indonesia. Apalagi kerjaan-nya kebanyakan yang saya suka, yakni pembangunan perangkat lunak. Hehe

KP #7

Nggak terasa, besok adalah hari terakhir saya kp di PT ISI. Sudah 6 minggu saya di sini, coba mengaplikasikan apa yang saya dapat selama kuliah. Menarik ya, dari kegiatan kp ini saya bisa menyimpulkan kalau saya belum siap untuk kerja setelah lulus nanti.

 

Masih banyak ternyata yang harus dikejar. Pengalaman nyata selama KP menyadarkan bahwa saat kuliah tidak banyak yang saya dapatkan. Bisa jadi karena memang tidak pernah diajarkan, tidak pernah saya pelajari, atau hal-hal yang jadinya sia-sia karena saya gagal mendapatkan esensinya.

 

 

Eniwei, di minggu ke-6 ini saya dapat beberapa tugas yang relatif ringan. Karena tugasnya ringan, kak Ali nyuruh saya untuk lebih eksplorasi tools yang digunakan. Selama kp, saya terbiasa menggunakan Python, namun untuk tugas ini kak Ali juga meminta saya untuk membuat versi Ruby-nya. Framework yang digunakan, masih yang sederhana dulu, yakni Sinatra. Eniwei, kayaknya pengembang Sinatra niat amat ya membandingkan framework mereka ini dengan penyanyi Frank Sinatra. Mulai dari logo, sampai bentuk interaksi di konsol.

 

"Sinatra naik Panggung"

“Sinatra naik Panggung” / (error sisa dari kerjaan yang lain ketauan deh :p *males edit*)

 

 

Screenshot from 2015-07-09 15:47:08

“Penonton Tepuk Tangan”

 

Standar sih masalahnya kalau coba pelajari bahasa baru, yakni masalah penulisan sintaks. Apalagi kalo di Ruby rajin banget nulisin begin end nya hahaha.

 

 

Eniwei, beberapa hari ini saya sering kerja sambil dengerin Pandora. Pandora ini situs yang memberikan layanan untuk mendengarkan siaran lagu ataupun lainnya (yang paling saya suka : Comedy!). Saya suka dengan idenya si Pandora ini : format mendengarkan dengan bentuk radio. Jadi, kita cuman masukin kita kira-kira mau dengerin apa, lalu si Pandora menebak lagu berikutnya.

 

Loh, bisa jadi kan lagu yang diputar kita gak suka?

 

Iya, mungkin banget.

Nah, sebenarnya kita bisa ngeskip kalau ada lagu yang males didenger, tapi ada batasannya. Dalam keterangannya, Pandora menjelaskan bahwa Pilihan lagu mereka juga bisa jadi untuk mempopulerkan lagu/audio lain yang belum pernah kita dengar, namun setipe. Kayaknya  ini menjadi ide yang menarik buat ditawarin ke penyedia lagu/audio mengenai kenapa harus “nyewain” lagu/audio nya ke Pandora. Saya pribadi, menganggap skema ini benar-benar menarik.

 

Eniwei, sayangnya kalau mau buka Pandora “murni” dari Indonesia kagak bisa. Layanannya terbatas untuk negara-negara tertentu. Kalau mau maksa buat dengerin Pandora, cobain Hola deh. Tapi Hola-nya jangan dipake macem-macem ya, Puasa.

 

Makin ke sini makin setuju sama yang dibilang Pak Windy, tidak ada yang namanya proyek IT, yang ada adalah proyek bisnis.

 

Mungkin itu dulu cerita buat sekarang hahaha. Oiya, saya sekarang lagi suka banget makan Buah Pir :8

 

Ngutip sedikit dari bit komedi yang tadi sempet didengerin.

“Yeah, actually I intend to give back the wallet. It’s my dream. One day, I find a wallet, then I give it to the owner, and , turns out, the owner is Will Smith. He’ll be like ,’Wow, thanks Man. Do you want a Helicopter?'”

 

*kok kalo ditulis ga lucu ya*

 

Bapak Supir

Tadi pagi, seperti biasanya, saya memilih menggunakan angkot untuk pergi ke kantor. Karena saya tidak terlalu terburu-buru, saya memilih untuk menaiki angkot yang sedang ngetem di dekat jembatan penyebrangan yang baru saja saya turuni (?)

“Salemba ,Pak?” tanya saya, yang sebenarnya basa-basi standar mengingat saya hampir tiap hari menaiki angkot dengan nomor ini.

“Iya”, jawab supir setelah menghembuskan asap rokoknya. Saya masuk angkot dan memilih duduk di dekat bapak supir itu.

“Puasa, Pak? Maaf ya aku merokok”

Saya hanya tersenyum, mengisyaratkan saya tak keberatan dengan rokok bapak itu.

“Baru-baru ini ajanya aku merokok Pak. Udah lewat minggu pertama (puasa), baru aku merokok lagi sambil nyetir. Kata kawan aku gak enak kalo minggu pertama udah ngerokok. Yang puasa takutnya masih lemas-lemas ga kuat”

“Iya Pak, udah minggu-minggu gini sebenernya puasa-nya gak jadi masalah lagi”

Singkat cerita, kami jadi banyak ngobrol. Tepatnya, Bapak itu banyak bercerita dan saya banyak mendengarkan sambil jawab-jawab “Iya?” , “Betul itu Pak” atau senyum saja untuk menunjukkan kalau saya antusias mendengarkan Bapak itu. Di tengah obrolan kami, dengan kondisi angkot belum juga jalan, seorang penumpang yang baru saja masuk memutuskan untuk keluar. Mungkin si Mbak tidak sabar karena angkot tidak juga jalan.

“Ya ginilah Pak, harusnya kan ngertinya penumpang, aku juga butuh setoran. Dua hari ini, udah nombok aku”, kata Bapak menanggapi turunya si Mbak.

“Ya aku gak memaksakan, kalau pengen cepat, silahkan pilih taksi atau ojek”, lanjut Bapak itu.

(Saya jadi ingat pembicaraan saya dengan Tegar sebelumnya, soal membeli waktu. Soal beberapa ‘paket berbeda’ dari layanan yang diberikan, yang sebenarnya hanya memberikan ‘waktu yang lebih singkat untuk menunggu’. Contohnya, paket vip untuk taman bermain)

Setelah sekitar 10-menitan di sana, akhirnya angkot melaju juga. Pembicaraan saya dengan Bapak ini tidak berakhir. Dari obrolan seterusnya, saya tahu beberapa hal soal Bapak ini.
– Marganya Panjaitan
– Dari SMA sudah tinggal di Jakarta, di SMAN 70 tepatnya. Dia pernah sekelas sama reporter TVRI yang katanya terkenal *lupa namanya siapa*
– Bapak ini Sarjana Ekonomi dari Univ apa gitu…
– Bapak ini dulu kerja di Kapal Pesiar, lalu dikenai pemangkasan pegawai
– Bapak ini pernah di Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Saya cukup yakin kalau Bapak ini datang dari keluarga yang berada (minimal dulunya). Tapi entah bagaimana, sekarang karir Bapak ini menjadi seorang supir angkot.

Hidup memang tidak bisa ditebak.

Salam.
Sedang senang karena akhirnya disapa dengan “Pak” bukan “Dek”

KP #6

Halo.

Tulisan ini diketik menggunakan Blackberry lama (kakak) saya. Kenapa? Karena hape yang biasa saya gunakan sedang rusak 😥

Minggu ini, saya kembali ke Bandung. Ada beberapa urusan sih. Pertama, terkait dengan urusan KP, saya butuh untuk mengambil transkrip yang dilegalisir. Sebelumnya, saya sudah menitip kepada adik kelas untuk diurus pada hari kerja, sehingga di weekend saya bisa tinggal ambil.

Kedua, saya, Aodyra, dan Bang Fawwaz mau diskusi lebih lanjut soal sistem cerdas apa yang ingin kami bangun untuk Gemastik 2015. Sudah ada ide sebenernya, tapi lebih butuh pematangan lagi, terutama masalah sistem cerdasnya.

Ketiga, saya kangen makan ayam bungsu. Waktu di Jakarta, rasanya saya kesulitan juga mencari makanan yang rasanya pedas asli dari cabai. Dan enak. Kesempatan kali ini saya mau pakai juga untuk mencoba kembali pedasnya ayam bungsu.

Keempat, saya ingin cari baju kemeja lengan panjang *kalo sempet*

Kelima, saya ingin mengukur berat badan yang berubah selama di Jakarta. Hasilnya : berat badan saya tetap. Sheet.

Terkait dengan KP, sebenernya saya pengen cerita soal transportasi yang sering saya gunakan selama di Jakarta. Tapi, mungkin nanti aja kalau ada kesempatan untuk update dari Laptop.

Keenam, saya ingin update smackdown. Sekalian, menghabiskan jatah AI3. Huehuehue

Ketujuh, ada ketemuan dengan temen untuk ngebicarain pembangunan aplikasi survey berbasis web.

Kedelapan ….

Minggu depan adalah minggu terakhir saya kp di PT ISI. Sedih dan takut juga sebenernya. Takutnya adalah kalau dikasih kerjaan, tapi ga bisa diselesaiin sebelum waktu kp-nya berakhir.

Eniwei, gimana rencana liburan lebaran kalian?

Salam.
Pos ini ga punya alur karena memang hanya untuk tes tes apps wordpress di Blackberry. Huehue