SmokeCCTV : Melindungi Perokok Pasif, Menghukum Para Pelanggar

Merokok di fasilitas umum sudah dilarang. Hal ini tidak menyebabkan beberapa perokok “tunduk” dan berhenti merokok di tempat umum[1][2]. Yang menjadi korban, lagi-lagi golongan tak merokok yang ikut menikmati asap rokok, alias perokok pasif.

Salah satu masalah yang dirasakan oleh para perokok pasif adalah keengganan dalam menegur para perokok yang merokok di kawasan tanpa rokok (KTR). Asap rokok yang dihasilkan bukan saja menimbulkan ketidaknyamanan, tapi juga sudah melanggar peraturan yang ada. Keengganan ini bisa disebabkan beberapa hal: tidak enakan, takut, dsb. Pertanyaan yang muncul sederhana, dengan kondisi seperti ini, bagaimana cara mendisiplinkan para perokok yang masih merokok di KTR?

Berbagai macam solusi sudah coba diterapkan. Salah satunya, adalah dengan memberikan tugas khusus kepada sekelompok orang dalam mengawasi pelanggaran yang terjadi. Sekelompok orang ini berwenang untuk menegur atau “mengurus” para pelanggar. Sayangnya, hal ini tidak selalu berhasil. Salah satu kasus misalnya, di daerah Badung[3], ketika ada inspeksi pada KTR, ditemukan puntung rokok, namun tidak dengan para perokoknya. Entah bagaimana caranya, para perokok ini mampu lolos dari inspeksi dari petugas khusus ini.

Melihat masalah seperti ini, muncul ide untuk membuat alat bernama SmokeCCTV. Idenya sederhana, sebuah sistem perangkat yang akan otomatis menangkap wajah pelaku perokok di KTR, lalu mengunggahnya melalui media sosial tertentu.

Secara ringkas, SmokeCCTV bekerja dengan menggunakan beberapa sensor untuk mendeteksi adanya asap rokok, lalu memberikan perintah untuk mengambil foto wajah yang berdekatan dengan lokasi asap rokok tersebut terdeteksi. Foto ini akan secara otomatis terunggah ke sebuah media sosial sehingga wajah para pelanggar akan tersebar dan memberikan hukuman tersendiri pada para pelanggar [4]. Dengan sistem ini, celah perokok aktif untuk tetap merokok di KTR akan hilang.

Arsitektur SmokeCCTV

Arsitektur SmokeCCTV

Saat ini, sistem ini masih dalam tahap pengembangan. Untuk video demo hasil saat ini, bisa diakses pada video youtube[5].

Harapan dari dibuatnya alat ini sederhana : melindungi perokok pasif, menghukum para pelanggar. Jangan lagi perokok pasif yang kerepotan untuk melindungi diri mereka. Biarlah para pelanggar yang sibuk mendisiplinkan diri mereka sendiri.

Disclaimer :

Terima kasih untuk rekan saya, Muhammad Yafi (13512014) yang juga terjun aktif dalam menganalisis dan mengembangkan alat ini.

Tulisan ini dibuat dalam rangka perlombaan menulis Rokok dalam Kehidupan Masyarakat (https://www.dropbox.com/sh/3zc3rny346bqa02/AAD8JnOAyYy1xeoNh_cfeG9Sa?oref=e&n=214811183&preview=lomba+menulis+GP3.png)

[1] Apa Kabar Denda dan Sanksi Bagi Perokok di Tempat Umum (http://news.detik.com/berita/2509821/apa-kabar-denda-dan-sanksi-bagi-perokok-di-tempat-umum)

[2] Aturan Kawasan Tanpa Rokok di Tempat Umum Masih Jadi Angin Lalu (http://megapolitan.kompas.com/read/2014/12/06/1610028/Aturan.Kawasan.Tanpa.Rokok.di.Tempat.Umum.Masih.Jadi.Angin.Lalu)

[3] Pelanggaran Perda KTR Marak di Puspem Badung, DenPost, 26 Mei 2015 (http://denpostnews.com/2015/05/26/pelanggaran-perda-ktr-marak-di-puspem-badung/)

[4] Rahma Zouchy. 2013. Kekuatan Media Sosial dalam Perubahan Masyarakat

[5] IF Race Embedded Dev – Smoke CCTV (https://www.youtube.com/watch?v=-JghDctdUTA )

Iklan

Lebaran Tahun Ini

Selamat merayakan idul adha!

Ada sedikit perasaan yang cukup mengganggu di dua lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha) pada tahun ini. Entah kenapa, rasanya menyambut lebaran tidak terasa seantusias dulu.

Pikiran saya, mungkin alasannya ada tiga :

  1. Saya sudah tidak kecil lagi.
  2. Saya tidak berkumpul dengan keluarga.
  3. Saya memang semakin lama semakin kampret (?)

Semoga saja bukan alasan nomor tiga sih.

*post singkat ini disponsori oleh gradle build untuk tugas PAT*

Halo semua.

Perkenalkan lagi, saya Reza. Tapi senang juga kalau dipanggil Panda atau M.

Saat ini, saya sedang stuck di Bandara Husein Sastranegara karena ada delay penerbangan. Awalnya, penerbangan dijadwalkan pada pukul 19.55, tapi (katanya) dipindahin pada pukul 22.20 WIB. Saya sudah ngecek peraturan penerbangan, sialnya, saya baru dapet 300rb kalau delaynya sampe 4 jam. Yah.

 

Tapi udah dikasih delay service kok. Huehuehue.

 

Jadi, hari ini saya dijadwalkan buat balik ke Medan karena harus menghadiri pernikahan kakak saya. Untungnya, jadwal kuliah cukup memungkinkan saya untuk baru pulang di hari Senin. Lumayan, bisa ketemu keluarga walau cuman sehari. Soalnya waktu lebaran kemarin saya gak balik sih haha.

 

Ini ditulis pake komputer barengan di bandara sih.

Aneh juga ya, penerbangan kali ini kayaknya penumpangnya kurang dari 20. Pasti pesawatnya bakal sepiii banget.

Tidak enaknya dari penerbangan didelay adalah : saya jadi ga ngantuk.

Saya tipikal orang yang selalu merasa tidak nyaman kalau sedang dalam perjalanan. Merasa takut atau — minimal — mual. Karena itu, saya lebih nyaman kalau saya tidur di perjalanan. Supaya tidur, saya sering minum antimo. Efeknya, saya ngantuk. Karena tadi persiapannya buat penerbangan normal, saya jadinya ketiduran sebelum berangkat. Jadinya ga ngantuk. Mungkin nanti bakal tidak-nyaman-tidak-nyamanan di pesawat.

 

Tidak enaknya lagi dari penerbangn didelay adalah : gendut.

Saya tipikal orang yang selalu memilih makan kalau sedang tidak ngapa-ngapain. Apalagi, tadi saya nyempetin makan ayam yang pedes banget sebelum ke bandara. Jadinya perut saya panas. Terus ngide buat beli cemilan biar perut gak panas-panas amat. Cemilan di Bandara mahal deh. Kampret.

 

Enaknya ngapain yak?

Tadi udah dipake buat nonton smackdown — yang membuat saya dilihatin anak kecil. Kasihan ibu bapaknya yang harus menjelaskan kenapa ada orang berantem sambil banting-bantingan.

 

Eh, udah deh, mending makan lagi. Huehuehue.

 

 

*biar ada update aja*