Hobi

Apa hobi kamu?

Andai hal ini ditanya pada saya beberapa tahun yang lalu, saya bisa menjawab dengan pede, “Membaca”. Beberapa tahun lalunya lagi, saya bisa menjawab dengan pede, “Menggambar”.

Saat ini, saya justru bingung berat.

Apa sih hobi? Dulu saya menyimpulkan kalau hobi adalah sesuatu yang biasanya dilakukan kalau sedang nganggur. Dengan definisi ini, hobi saya saat ini seharusnya adalah “Nonton Serial”.

Diskusi soal hobi mulai menarik saat Joshua mengajukan definisi baru dari hobi. 

Hobi adalah sesuatu yang senang kita kerjakan, namun ada profesi profesionalnya. Tapi bukan profesi kita.

– Joshua

Ribet? … Emang si Joshua kampret sih.

Kurang lebih seperti ini. Andai kalian punya teman, sebut saja Eja. Dia adalah pelukis profesional. Tidak sah, buat Eja untuk menyebutkan jika hobinya adalah melukis.

Atau contohnya saya. Saya mengisi waktu luang saya dengan “Nonton Serial”. Tidak sah, buat saya, untuk menyebutkan kalau hobi saya adalah “Nonton Serial”. Soalnya, (setahu saya) belum ada profesi yang sebutannya “penonton serial profesional”.

Kembali ke Eja. Kalau ternyata Eja senang berenang bagaimana? Sah. Hobi Eja adalah berenang. Bukan profesi dia, dan sebenarnya ada profesi sebagai atlet renang.

Bagaimana dengan membaca? Joshua bertitah, kalau pertanyaan hobi ditanyakan di negara maju, dan kita menjawab “Membaca”, katanya kita bakal diketawain. “Membaca” sudah menjadi kewajiban, bukan lagi jadi sesuatu yg dikerjakan saat saat nganggur.

Gara-gara diskusi soal hobi, saya jadi waa-was sendiri. Apa ya hobi saya? Hobi, menurut saya, akan menjadi sesuatu yang penting.

Berkat hasil kepo, saya mendapat semacam hikmah bahwa di kehidupan pasca-kuliah, hobi adalah sesuatu yang membuat kita tetap waras. Saat kita jenuh dengan pekerjaan, stress dengan urusan perkeluargaan, atau kewajiban ini itu (tanggung jawab orang dewasa-lah), hobi adalah pelarian yang membuat kita senang dan punya energi lagi untuk beraktivitas.

Contohnya, ada cerita soal suami-istri yang berantem mulu. Terus sama penerapi-nya (bahasa indonesianya therapist apa yak?), disuruh coba selalu janjian untuk kasih waktu me-time buat pasangan, biar si pasangan bisa ngerjain hobinya dan lain-lain. Hasilnya sih positif.

Pasca-kuliah (walau sekarang sidang aja belum, doakan!), kayaknya saya perlu aktivitas rutin yang saya senang kerjakan. Andai saya terlibat dalam kerjaan 9-5, Senin-Jumat, saya butuh aktivitas untuk dilakukan pada 7-10 malam, dan Sabtu Minggu.

Saat ini sih, kepikiran untuk ikutan Bela-Diri, atau coba-coba cari Kelas/Kursus (musik, teater, drama, atau…improv?) gitu. 

Atau saya coba ciptain aja ya, “penonton serial profesional?”
Jadi, apa hobi kamu?

Iklan

Youtube : #SepikSepik ala Joshua Suherman

Youtube adalah kategori di blog saya, yang akan berisi seputar ulasan ringan saya soal video atau channel yang ada di youtube. Mudah-mudahan bisa jadi alternatif tontonan buat kalian kalo lagi bosen :p

Halo semua!

Kali ini saya bakal ngulas salah satu kategori di youtube-nya Joshua Suherman . Kategorinya dinamain #SepikSepik. #SepikSepik dari Joshua berisi  dia lagi ngewawancarain orang. Wawancaranya santai, ala-ala talkshow gitu mungkin lebih tepatnya.

TLDR ; Formatnya wawancara, wawancara anti-mainstream, kategori menarik tapi channel secara keseluruhan belum direkomendasiin buat disubscribe

Untuk video youtube format talkshow atau wawancara, #SepikSepik Joshua bukan satu-satunya. Ada video-video serupa yang dibuat oleh Soleh Solihun, atau sebenernya Highlight dari acara Talkshow (Tonight Show Net TV, misalnya) juga bisa dimasukkin ke kategori macam ini. Cuman, kategori #SepikSepik (cape dah nulisnya musti pake hashtag) punya beberapa nilai plus yang membuat saya lebih ngerekomendasiin video-videonya.

(Update: ternyata ga semua video #SepikSepik sifatnya kayak yang di bawah ini, tapi yah, gitulah <– males ubah konten)

1. Punya Konten

Ini yang menurut saya beda dari #SepikSepik. Wawancara yang dilakukan, biasanya punya konten. Konten yang saya maksud di sini adalah, punya nilai tambah soal pengetahuan atau wawasan yang bisa didapetin oleh penonton. Sebagai pembanding, menurut saya pribadi, contoh wawancara yang dilakukan oleh Soleh Solihun dan Tonight Show adalah wawancara yang sifatnya hanya untuk menghibur — tidak dirancang untuk memberi wawasan baru buat penontonnya. Nggak salah sih, cuman kalau memang untuk tontonan yang sifatnya “tidak hanya buang-buang waktu” (pembenaran sih, nonton youtube emang biasanya buat buang-buang waktu hahaha), #SepikSepik mungkin bisa jadi alternatif.

2. Bukan Wawancara “Yaelah”

Pernah ga sih, kalian ngedengerin isi wawancara yang “itu lagi, itu lagi?”. Mudahnya, wawancara yang kalian sebenernya udah pernah denger, atau bahkan udah pernah baca artikelnya di mana gitu. Hal ini –setidaknya dari 3 video yang saya tonton– tidak dilakukan oleh Joshua. Dan hebatnya, beberapa pertanyaan yang dia tanyain, adalah pertanyaan yang kadang saya juga penasaran.

Contoh kasusnya, #SepikSepik yang edisi Raditya Dika.

Beberapa waktu lalu, (kayaknya) sempet heboh soal youtube yang kontennya kebanyakan sifatnya terlalu bebas (konten atau kata-kata yang diberikan terlalu vulgar, contoh, banyak youtuber yang ngomong anj***, f**k, dll). Alasan youtuber yang biasanya begini : mereka ingin tampil apa adanya, tidak perlu ada perbedaan antara mereka di dunia asli dan di youtube. Hal ini yang membuat saya penasaran pada Raditya Dika. Bisa dilihat, dari sejumlah Vlog yang dia publish, rasanya kontennya “bersih”. “Bersih” dalam artian bersih dari kata-kata kasar (yang mana, dalam lingkaran pergaulan saya, kata-kata kasar begini sebenernya udah “biasa aja”) dan bersih dari pengaruh apapun : kecenderungan Raditya Dika terhadap sebuah isu (dukung siapa pemilu? menurut lu, kejadian/fenomena A gimana? ) juga ga pernah ditampilin. Raditya Dika rasanya cenderung menampilkan konten yang non-divisive (mengundang perdebatan).

Hal ini, Joshua tanyakan di edisi #SepikSepik, dan membuat saya cukup paham soal kenapa Raditya Dika memilih untuk “bersih”.

 

3. Observasi

Ini yang saya cukup salut. Dan mungkin ada hubungannya dengan poin nomor dua. Pertanyaan oleh Joshua, muncul dari observasi dia terhadap orang tersebut. Contohnya, ini menurut saya cukup menarik dan saya baru sadar hahaha, pertanyaan dia ke Pandji soal kenapa Pandji selalu pilek saat sedang tur standup.

 

Kurang lebih, begitu sih kenapa saya cukup suka dengan #SepikSepik. Untuk channel Joshua sendiri, saya belum punya alasan khusus untuk subscribe. #DiaryJojo yang kurang lebih berisi Vlog dari Joshua belum punya konten khas yang membuat channel ini layak di-subscribe.

 

Walaupun saya subscribe sih.