Terakhir deh buat 2016

Hai. Ini akan jadi tulisan yang banyak topik tapi minim tulisan. Mengeluarkan apa yang mendadak jadi pikiran saya malam ini.

Tentang Resolusi Tahun Baru

Soal resolusi tahun baru ini, jadi pengalaman yang lucu buat saya. Banyak resolusi yang awalnya pengen dicapai di tahun 2013, eh kejadiannya di tahun 2014. Pada akhirnya, resolusi yang saya pengen, tercapai, tapi tidak di tahun yang direncanakan. Mungkin Tuhan punya ceritanya sendiri. Mungkin Tuhan menunda karena menyiapkan kita. Jadi, buat kalian yang merasa “males berencana karena ga kecapai juga”, jangan berhenti berencana. Tulis dan simpan rencana kita, biar Tuhan bisa ngintip-ngintip dikit kita maunya apa. Soal dikasihnya kapan dan gimana, ya biarlah Dia yang menentukan.

Ya, banyak yang protes soal “New Year, New Me” bullshit. Saya sih setuju. Bullshit kalau bilang doang di sosial media. Mending catet sendiri, jadi penginget sendiri aja.

 

Tentang Resolusi Tahun Baru #2

“I finally get the body I want. It’s easy. Turns out, all I have to do is wanting a really-shitty body” – Louis C.K.

Ga tau kenapa. Selama kuliah, selalu ketemu orang yang membuat saya tidak pede bahkan dengan mimpi saya sendiri. Merasa mimpi saya kurang besar. Merasa mimpi saya kurang ideal. Merasa mimpi saya kurang bermanfaat.

Tapi sekarang beda. Makin ke sini makin sadar kalau mimpi itu sifatnya personal. Kalian ga bisa ngejudge orang yang punya mimpi “Pengen jadi orang paling kaya se-Indonesia” dengan bilang “wah, si kampret, mimpinya egois amat”. Bisa jadi dia tumbuh dalam situasi yang penuh ketidakcukupan, dan dia selalu wondering gimana rasanya kaya.

Hahaha. Ga nyambung sama premis awal.

Kata-kata Louis C.K. di atas sebenernya berpengaruh buat saya sih. Soal resolusi. Soal mimpi. Soal target. Izinkan saya bercerita.

Dulu, saat SD/SMP/SMA, cara saya belajar adalah dengan baca, lalu kerjain soalnya. Gimana cara kerjain soalnya? Langsung kerjain yang susah! Biar cepet. Saya yakin kalau saya bisa ngerjain yang susah, yang gampang pasti bisa. Ibaratkan ada 20 soal, saya kerjain 2 soal terakhir, saya langsung menyimpulkan kalau saya bisa, dan bisa move-on ke materi berikutnya.

Makin ke sini, makin nyadar kalau saya ternyata tidak se-spesial itu. Yang terjadi, saat soal yang paling susah, ternyata, ga bisa saya kerjain, saya berhenti dan bilang “Yaudahlah, ga sepenting itu” atau “Yaudahlah ya, mungkin ga bakat di sini”.

Akhirnya menyerah, putus asa, dan cari-cari pembenaran untuk berhenti.

Ngobrol dengan dan kepo kepada banyak orang, akhirnya saya mengerti. Latihan soal diurutin dari yang gampang ke yang susah juga ada alasannya. Dengan berhasil mengerjakan yang gampang, kita bisa jadi lebih pede untuk mengerjakan sesuatu yang sedikit lebih sulit, lalu sedikit lebih sulit, lalu sedikit lebih sulit, dan ternyata sampai ke tahap ternyata — kita bisa ngerjain yang paling sulit!

Inget 3,5, atau 10 second (lupa, sekitar segitulah) rule nya Kimmy Scmidt di Unbreakable.

“Simply, if you can do something for 3 seconds, you can do it again for 3 seconds more.

Sepertinya bakal banyak yang ga setuju, tapi saya percaya kalau terkadang, merendahkan target bisa jadi lebih banyak membantu.

 

Tentang Mencoba Hal Baru

Seperti yang saya ceritain di dua pos sebelumnya, melakukan hal baru mungkin sulit, mungkin membuat kita merasa insecure karena coba melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita. Ada satu kata-kata temen saya (Husain) yang berbekas, saat saya bilang saya malu berenang karena body ini kurang sedap di pandang.

Yah, paling diketawain. Sebentar doang. Kayaknya hidup lu tidak sepenting itu buat orang lain, buat diketawain selamanya.

Intinya, DGAF. Padanan kata di Indonesia nya mungkin “BODO AMAT”. Kalau malu sama orang yang tidak kita kenal, bodo amat, toh kapan lagi sih ketemu mereka. Kalau malu sama orang yang kita kenal, jadiin motivasi. Perasaan paling enak di dunia ini, menurut saya, adalah membuktikan orang lain salah. Yah, ada yang salah ama diri saya emang hahaha.

 

Tentang Serial

Kalau dulu biasanya saya sangat tertarik untuk ngomongin serial, makin ke sini makin kurang tertarik. Soal lucu, udah jarang ada serial yang lucu karena beneran one time funny. Lucunya serial sekarang, seperti harus mengerti serialnya dulu sehingga harus ngikutin semua.

Soal premis yang menarik, serial sekarang biasanya menarik premisnya di dua episode awal, terus tidak ada perkembangan berarti, sampe ending season, dan season finale. Bosan.

Ngga juga deng. Ini perasaan yang muncul karena kurang update aja kali ya.

 

Yah kayanya itu aja sih.

 

Salam.

Marathon F.R.I.E.N.D.S lagi. Dulu merasa kalau saya adalah Chandler, tapi makin ke sini makin merasa seperti Ross.

Idolaqu. Biar ada gambarnya aja sih.

Idolaqu. Biar ada gambarnya aja sih.

 

Youtube : The Lonely Island (18+)

( Youtube adalah seri di blog ini, yang khusus membahas video atau channel di youtube. Mungkin bisa jadi masukan buat kalian yang sedang bosan. Tapi sebenarnya, tulisan-tulisannya dibuat hanya untuk pembenaran atas waktu yang saya habis untuk youtube-an. “kan entar gw buat reviewnya” )

Setelah membahas Jimmy Fallon, Watch Mojo, dan Clueless Gamer , saya ingin meracuni kalian lagi dengan tontonan yang tidak kalah tidak ada manfaatnya. Channelnya The Lonely Island !

Yang terkenal cuman si Andy Samberg mungkin.

Yang terkenal cuman si Andy Samberg mungkin.

 

Btw, sebelumnya, disclaimer, karena sebenarnya channel mereka jarang update. Tapi kontennya banyak. Dulu sering update ketika Andy Samberg (Brooklyn Nine-Nine) masih di SNL, atau saat mereka ngeluarin album baru. Tapi, saya subscribe sih. I don’t know what to expect, though.

Okay!

Kenapa saya suka dengan grup musik ini? Sama dengan alasan saya suka pada banyak hal — LUCU! Hahaha. Lucu funny, bukan cute. Dan, lucunya mungkin ga buat semua orang, karena beberapa lirik sebenarnya sampah (sampah-sampah lucu) dan vulgar.

Musik mereka oke. Lirik-liriknya dalem. Mereka punya lagu yang lucu, tapi bukan tipikal lagu yang sekali denger. Kalau kalian tahu, ” What does the Fox say? ” adalah contoh lagu yang lucu, tapi bukan untuk didengerin terus-terusan.

Sejujurnya, saya kehabisan kata sebenarnya untuk cerita soal mereka. Mending kalian tonton aja video-video ini. Video-video ini selalu saya pakai untuk mengenalkan musik mereka ke orang-orang haha. Dari hasil eksperimen, 6 orang mengaku lagu-lagunya lucu, 2 orang tidak, 1 orang bilang ada yang ga beres sama otak saya.

(For funny stuff, please listen the song while reading the lyrics!)

Level-1 Incredible Thought (relatif cocok buat semua orang hahaha)

Mungkin yang ini ga terlalu lucu. Tapi liriknya lumayan dalem. Kalau Michael Bolton, yang lucu yang ini

Kalau kalian kurang ngerti lucunya dimana, coba sambil perhatiin liriknya deh :)))

Kalau tetep ga lucu………. Cobain video kedua deh.

 

Level 2 – Mona Lisa (Explicit Words, But Not Vulgar)

Right?

Saya termasuk orang yang sebenarnya tidak terlalu ngerti dengan keindahan mona lisa. Lagu ini, meski eksplisit, seperti ngajak kita untuk mendobrak pikiran-pikiran umum orang banyak. Kita ga perlu setuju dengan pendapat orang banyak.

Ga deng.

Level 3 – F Off (Explicit, Vulgar)

Nah, kalau ini, jangan lihat murni sebagai lagu doang, tapi sebagai kritik.

Kalau kalian perhatiin lirik dan video klipnya, lagu ini sebenarnya kritik untuk dua hal : idola dan anak-anak remaja (di lagu di bilang di USA, tapi kayaknya berlaku global deh). Buat idola, lagu ini sebenarnya memparodikan musisi-musisi yang merasa gaya hidup mereka adalah panutan yang layak ditiru. Musisi-musisi yang nyisipin kata-kata “be good to each other, peace” di lagu mereka, tapi dari hidup mereka sendiri urak-urakan dan seenaknya. Anak-anak remaja di kritik di bagian

“Because we are the kids in the USA
We think for ourselves, so get the fuck out our way”

 

Level-4 Finest Girl (Bin Laden Song)

Lagu ini ……………. terlalu vulgar, ampe saya ga tega buat masukin di sini. Menurut saya sih lucu, tapi sepertinya tidak untuk semua orang. Lucunya lagu ini adalah cara dia membuat perumpamaan yang absurd abis.

Kalau kalian penasaran, cobain aja cari video lainnya hahaha. Beberapa elemen lucu, biasanya juga bisa karena elemen video klipnya, misal kayak video Shy Ronnie.

 

Seriusan, kayaknya bakal banyak yang ngejudge saya aneh-aneh abis melihat post ini.

Hahaha.

 

Salam.

Btw, lagu-lagu mereka ada di karaoke ternama di Indonesia loh.

Cool

Harus saya akui, jokes yang paling gampang adalah jokes yang menghina orang. Termasuk menghina saya sendiri sebenarnya, tapi saya sadar saya juga sering menghina orang lain. Mungkin bukan menghina sih, lebih ke arah mengejek (menghina sepertinya kasar banget). *pembenaran*

Saya ingin bercerita soal pola pikir saya yang dulu super bego sepertinya.

Bukan bermaksud sombong (eh ngga ding, emang pengen sombong), saya bukan termasuk orang yang akan kesulitan untuk menerima pelajaran sekolah dari SD sampai SMA. Dengan modal memperhatikan guru (cieee, perhatian), cobain soal sedikit, rasanya saya sudah punya cukup pengetahuan untuk mengerjakan soal-soal berikutnya, pun, termasuk soal yang levelnya cukup sulit.

Gara-gara kemampuan ini, saya jadi jarang belajar. Dan ini membuat saya sebenarnya “meremehkan” orang yang belajar keras untuk bisa sesuatu. Saya pikir saya berbakat untuk akademik sehingga saya tidak perlu berusaha terlalu keras. Dan saya pikir lagi, orang-orang yang belajar keras ini menyedihkan, karena pada akhirnya mereka juga ga bakal bisa-bisa amat.  Buang-buang waktu.

Saya pikir saya cool, karena bisa tanpa usaha keras.

Masuk kuliah, tahun pertama relatif mudah sebenarnya karena beberapa pelajaran sebenarnya mengulang pelajaran SMA. Cobaan terberat ada di pelajaran DRE, dan akhirnya memang nilai saya tidak terlalu memuaskan. Saya belajar dikit doang, dapat nilai seadanya. Pikiran “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” masih menggantung sehingga saya malas belajar. Saya pikir semua yang saya tahu sudah cukup untuk membantu saya mengerjakan soal ujian. Tapi ternyata engga. Tapi sekali lagi, saya rasa kalau saya butuh usaha keras, saya pikir saya cuman buang-buang waktu. Toh, di jurusan yang saya pilih, *seharusnya* ilmunya tidak dipakai.

Masuk jurusan, saya sebenarnya sudah cukup sadar kalau sebenarnya saya tidak bisa apa-apa. Hahaha. Tapi, sekali lagi, prinsip “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” terlalu melekat ke otak saya. Alhasil, meski ada fasilitas tutor dari himpunan atau diajakin belajar bareng sama teman-teman, saya lebih memilih untuk pulang ke kosan, dan belajar sendiri. Kenapa? Biar teman saya tetap menganggap saya cool, karena saya bisa tanpa terlihat belajar. Saya merasa tidak cool kalau ternyata saya terlihat belajar dan bisa, karena itu wajar. Emang akhirnya bisa? Ga seberapa, tapi lumayan lah. Hahaha.

Saya ga tahu kenapa, tapi makin ke sini, saya makin sadar kalau “saya cool karena saya bisa tanpa usaha” itu sampah. Kalau dulu, saya bakal kagum dengan orang-orang yang “wah si kampret di kelas ga pernah merhatiin tapi jago”. Sekarang, saya jauh lebih respek sama orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa. Orang-orang ini, ga malu, untuk menunjukkan kalau mereka belum bisa dan mereka emang mau untuk bisa. Orang-orang ini tidak merasa insecure ketika orang-orang lain ngetawain usaha mereka. Saya respek itu, karena saya ga selalu pede terhadap apa yang saya kerjain. Apalagi di awal-awal, jelas kelihatan level-amatir kita di bidang yang baru kita mulai. Saya nyaman terlihat bego, tapi tidak untuk terlihat bodoh. (kampret, saya baru nyadar kalau saya se-insecure itu)

Orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa jadi inspirasi saya saat ini. Inspirasi saya, untuk tidak takut terlihat bego saat mulai melakukan sesuatu. Untuk tidak perlu merasa konyol saat mencoba sesuatu. Memang kadang rasanya masih ada, tapi ya, setidaknya saya tidak semalu dulu untuk terlihat emang berusaha keras terhadap sesuatu.

Kalau kalian bingung, apa hubungannya premis paragraf pertama post ini dengan sisanya, saya ingin coba jelasin. Salah satu kebiasaan saya adalah membuat lelucon tentang usaha teman-teman saya yang sedang coba melakukan sesuatu. Misal diet. Atau coba ngomong bahasa lain di percakapan sehari-hari.

Saya dulu tidak sadar, kalau lelucon ini bisa saja mengganggu kepercayaan diri mereka dalam mencoba meraih sesuatu. Saya mulai sadar hal ini saat dulu, saya mengutarakan keinginan untuk nge-gym dan diet. Reaksi umum orang-orang, biasanya,

“Hahahaha, kayaknya ga bakal ngaruh deh Ja”

It’s actually discouraging me.

Make me think “Am I that ridiculous to think this is gonna work?”

Saya ingin belajar untuk tidak lagi merendahkan usaha orang yang sedang berusaha melakukan sesuatu. Entah itu berupa usaha buat diet. Usaha buat ngomong bahasa asing. Atau eksperimen membuat video-video absurd yang sebenarnya garing. Atau usaha main gitar yang suara gitarnya lebih mengganggu dari pada merdu.

Karena ternyata, orang yang berusaha keras sebenernya jauh lebih cool dari pada kita yang sekarang hanya nge-judge tapi ga berani nyobain hal-hal baru.

 

Tapi kalau ngeselin kayaknya tetap saya hina sih.

 

Salam.

Abis baca #JuruBicara-nya @pandji. Gaya nulisnya jadi sok-sokan sama.

Cara Perpanjang Paspor : No. 2 pasti kamu gatau!

wpid-img_20141126_102318

(Sepertinya sudah lama saya tidak ngepos sesuatu yang berguna)

(Life goals: membuat judul post ala ala artikel click bait : done!)

Minggu lalu, saya harus mengganti paspor saya dengan paspor yang baru. Yap, benar sekali. Kebutuhan perpanjang paspor ini muncul karena kebetulan saya kan sering banget pulang pergi ke luar negeri sehingga jatah lembar di paspor sudah habis.

Ga deng. Canda.

Masa berlaku paspor saya akan habis di bulan depan. Kalau dari segi isi, lembarnya masih kosong sih (maap deh saya ga pernah ke luar negeri).

Karena kantor pun meminta data mengenai paspor jika ada, maka saya berpikir untuk menyegerakan perpanjangan paspor. Nah, karena saya memang buta penuh untuk urusan perpanjangan paspor, saya jadi bertanya-tanya dulu kepada teman-teman yang sudah berpengalaman.

1. “Eh, paspor gw  dibuat di Medan, bisa ga ya perpanjang di Bandung aja?”

Sebenarnya teman saya sudah ada yang mengonfirmasi hal ini sebelumnya. Tapi karena teman saya ini susah dibedakan serius atau bercandanya, saya nitip pertanyaan ini kepada teman saya yang kebetulan juga sedang perpanjang paspornya. Dia juga mengonfirmasi bahwa hal ini bisa dilakukan. Oke, berarti saya tidak perlu repot-repot pulang ke Medan buat ngurus hal ini.

2. “Butuh nyiapin apa aja yak?”

Secara umum, standar sih yang harus dipersiapkan. Paspor lama, KTP (btw, saya baru tau dari petugas kalau harus e-KTP), Akta kelahiran atau Ijazah, dan Kartu Keluarga. Nah, yang sedikit buat repot adalah berkas-berkas ini bukan hanya difotokopi, tapi juga harus dibawa aslinya. Jeng jeng. Kalau kasus saya kemarin, yang buat susah adalah kartu keluarga, karena yang megang kartu keluarga asli kan ayah saya (saya belum berkeluarga, if you guys wondering). Yah, akhirnya minta tolong dikirimkan kartu aslinya via kilat JNE. Sempat deg-degan juga sih, soalnya kan ini surat penting yang sebenarnya agak berbahaya kalau sering dipindah-tangankan.

Nah, salah satu kasus yang paling buat kzl waktu perpanjang kemarin adalah kebutuhan berkas tambahan jika kita perpanjang paspor di luar daerah asal paspor asli, yakni surat keterangan yang menjelaskan apa sih yang kita lakukan di daerah perpanjangan. Misal, kalau kasus saya, paspor saya dibuat di Medan dan saya ingin perpanjang di Bandung. Sebenernya kalau saya masih mahasiswa, agak lebih gampang karena hanya perlu menunjukkan KTM. Tapi berhubung KTM harus dibalikin waktu wisuda, saya jadi butuh surat keterangan dari kantor untuk menandakan bahwa saya memang benar bekerja di Bandung.

Gara-gara ga tau soal ini (temen-temen juga ga tau / lupa bilang, plus di web imigrasi juga ga bilang -_-) saya jadi harus mengulang ke kantor imigrasi besoknya. Huft. Telat ke kantor dua kali. Ga deng. Aku kan baik.

3. “Prosedurnya gimana?”

Ada dua jalur pendaftaran: bisa via online atau langsung datang ke kantor imigrasi. Kalau saya kemaren sih lebih pilih daftar online via IPass Imigrasi (saya juga bingung, kenapa ini website dianggap unsecure). Tinggal isi data dengan baik dan benar, lalu bayar ke teller bank. Biaya saya kemarin sih Rp355.000,00. Bukti pembayaran harus dibawa juga waktu datang ke kantor imigrasi.

Setelah bayar, tinggal pilih kapan jadwal buat dateng ke kantor imigrasinya. Kita juga bakalan dikirimin semacam formulir yang harus dibawa ketika dateng ke kantor imigrasinya. Coba perhatiin lagi formulir yang dikirim, soalnya di situ dijelasin apa aja yang harus dibawa ketika dateng.

Sedikit tips, ketika dateng ke kantor imigrasi, usahakan supaya dateng di jam awal. Di hari pertama, saya dateng jam 7 (karena mikir kayaknya juga bakal baru buka jam setengah 8 — ternyata jam 6!), tapi pas dateng ternyata udah rame banget. Besoknya, saya dateng jam 6, dan yah, relatif lebih sepi sih jam segitu.

Waktu di kantor imigrasi, kita harus ngantri dulu sekalian dicek berkasnya, lalu dikasih nomor antrian. Nah, nomor antrian ini beda untuk yang online dan manual, jadi pastiin ke petugasnya bahwa kita daftar via online. Abis itu, tinggal duduk, nunggu, basa-basi sama Bapak/Ibu di mejanya, foto, sidik jari, dan kelar. Paspor bisa diambil 3 hari kerja dengan membawa bukti perpanjangannya.

Tamat.

 

Sudah lama tak menulis dan rasanya bahasa saya jadi sangat garing.