Tentang Muka

Cerita #1

(Di kantor imigrasi, sedang mengambil paspor yang baru jadi)

Bapak Penjaga (BP), Saya (S)

BP : “Nomor 209!”

S : (menghampiri meja pengambilan) “Saya, Pak.”

BP : “Nomor antrian sama bukti pembuatan paspornya, Mas.”

S : (memberikan nomor antrian dan bukti pembuatan paspor) “Ini, Pak”

BP : (mengecek nomor antiran dan bukti) “Sebentar…”

BP : (mengambil paspor dan melihat halaman pertama) “Loh, di sini kok mukanya jelek?” (sambil menekankan jempol pada foto saya di paspor)

S : “Lah, emang aslinya enggak pak?”

BP : “Iya sih.”

S : “HAHAHA” (nangis dalam hati)

Cerita #2

(Di baltos, abis beli bantal dan sarungnya, lalu mau beli sajadah karena cuman satu yang ada di kosan, dan pengen dicuci)

Ibu Penjual (IP), Saya (S)

IP : “Ini sarung bantal sama bantalnya jadi 150.”

S : “Siap, Bu.” (ngeliat sajadah, triggered) “Kalo sajadahnya berapaan, Bu?”

IP : (heran sebentar) “Kamu muslim?”

S : “Iya, Bu, kenapa emang?” (heran juga)

IP : “Oh. Kirain, dari mukanya kayaknya ga pernah shalat.”

S : “HAHAHAHA” (terjemahan = “KAMPRET”)

 

Salam.

What is wrong with my face?

 

Twenty One Pilots – Car Radio

 

I ponder of something great
My lungs will fill and then deflate
They fill with fire
Exhale desire
I know it’s dire
My time today

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

Sometimes quiet is violent
I find it hard to hide it
My pride is no longer inside
It’s on my sleeve
My skin will scream
Reminding me of
Who I killed inside my dream
I hate this car that I’m driving
There’s no hiding for me
I’m forced to deal with what I feel
There is no distraction to mask what is real
I could pull the steering wheel

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

I ponder of something terrifying
‘Cause this time there’s no sound to hide behind
I find over the course of our human existence
One thing consists of consistence
And it’s that we’re all battling fear
Oh dear, I don’t know if we know why we’re here
Oh my,
Too deep
Please stop thinking
I liked it better when my car had sound

There are things we can do
But from the things that work there are only two
And from the two that we choose to do
Peace will win
And fear will lose
There’s faith and there’s sleep
We need to pick one please because
Faith is to be awake
And to be awake is for us to think
And for us to think is to be alive
And I will try with every rhyme
To come across like I am dying
To let you know you need to try to think

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

(Oooh) [x4]

(Oooh) [x6 & repeats in background]
And now I just sit in silence [x2]
And now I just sit

And now I just sit in silence [x3]
And now I just sit

I ponder of something great
My lungs will fill and then deflate
They fill with fire
Exhale desire
I know it’s dire
My time today

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

 

Saya pertama kali suka Twenty One Pilots karena ikut-ikutan. Lagu Stressed Out dan Heathens nya banyak muncul di rekomendasi youtube. Akhirnya saya penasaran, dan ikut dengerin juga dan ternyata cukup enak.

Berbekal sering muterin dua lagu itu di Youtube, muncul rekomendasi video dari WatchMojo soal Top 10 Best Twenty One Pilots song. Setelah nonton sekilas, ada beberapa yang langsung berkesan seperti Tear in My Heart, Ride (ini udah sering denger, tapi baru ngeh kalo yang nyanyi TOP), House of Gold (dengerin liriknya sekilas, langsung suka dengan ceritanya). Secara mengejutkan, yang muncul sebagai peringkat satu ternyata Car Radio. Saya pikir bakalan Stressed Out karena kayaknya yang paling populer buat orang awam macam saya adalah lagu tersebut.

Berbeda dengan lagu lainnya, saya tertarik dengan Car Radio karena deskripsi narator saat cerita soal lagu ini: tentang kesepian. Saya penasaran, lalu denger lagunya, dan jadi cukup suka. Setelah baca-baca liriknya via Musixmatch, saya langsung kagum dengan lagunya. Penyampaian metafora soal kesepian dengan menceritakan orang yang stres karena mobilnya sepi banget, menurut saya, sangat unik.

Lagunya berkali-kali saya putar sambil sing along, walau ga bisa karena kecepetan.

Tiga hari yang lalu, lagu ini keputer lagi via shuffle di hape. Saya sing along lagi sambil baca liriknya, dan saya mendapat impresi yang berbeda. Lagu ini bukan bercerita soal kesepian. Eh, iya deng. Tapi yang jadi porsi besar dari ceritanya adalah soal car radio nya. Bukan kesepian, tapi objek distraksi yang jadi bahan perbincangan utama. Soal gimana, saat kita sedang tidak distraksi duniawi, pikiran kita melayang ke arah pikiran-pikiran yang sebenarnya kita hindari. Soal hidup, soal tujuan, soal apa yang pingin dicapai. Hal-hal yang sifatnya mengarah ke kontemplatif. Dan saya termasuk benci hal ini.

Beberapa waktu lalu, saya dapat berita yang cukup mengecewakan buat saya. Saya mengabari orang terdekat, mereka terus menyemangati dan bilang “Jangan nyerah ya” (tentu dengan nada dan konten yang lebih bercanda). Saya pikir pesan ini tidak penting karena sebenarnya saya juga tidak peduli amat soal berita ini. Ya udahlah, gimana lagi. Saya pikir saya baik-baik saja.

Tapi kampretnya, saat distraksi duniawi hilang dan pikiran sedang kosong, pikiran saya melayang dan mulai kepikiran lagi soal berita tersebut. Lalu saya menghubungkan hal tersebut dengan beberapa kelakuan aneh yang saya lakukan akhir-akhir ini: beli barang-barang minim fungsi, makan tidak teratur, keinginan untuk berteriak, tidak nyaman dengan banyak hal, perasaan percuma dalam melakukan sesuatu. Saya mulai berpikir kalau ini adalah reaksi saya terhadap berita tersebut. Saya pikir saya baik-baik saja, tapi ternyata bawah sadar saya kecewa berat sehingga bereaksi dengan melakukan hal-hal tersebut.

Kampret.

Mungkin kita memang butuh distraksi. Mungkin kita memang butuh car radio. Mungkin kita memang butuh media sosial untuk berkicau seolah semua biasa saja. Mungkin kita butuh untuk sibuk pada pekerjaan, tertawa pada tontonan serial, bercanda dan mengganggu orang lain, daripada duduk diam dan berpikir soal diri kita. Dan menyadari betapa berbedanya diri kita sekarang dengan diri yang sebenarnya kita inginkan.

Salam.

Njir, ga cocok nulis sok-sok kontemplatif begini.

Unfair Advantage #1

Sedang membaca buku Unfair Advantage (2013) dari Robert Kiyosaki. Buku ini (seharusnya, gatau juga kan belum tamat bacanya :p) bercerita mengenai pendidikan finansial yang tidak diketahui banyak orang.

Poin pertama yang menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai investasi. Dulu, pemahaman saya mengenai investasi adalah soal bagaimana menanam uang di tempat yang membuat nilai uang itu bergerak. Misal beli saham, beli emas, dan punya properti.
Pengertian Kiyosaki sendiri, sebenarnya merubah cara saya memahami investasi. Ternyata, investasi adalah soal pengelolaan uang menjadi sebuah aset. Apa sih aset? Aset adalah objek nilai yang memberikan kita arus kas positif, dengan tidak menghilangkan objek tersebut. Ingat, yang harus didapat adalah arus kas positif, bukan keuntungan modal.

Mari gunakan contoh. Ambil contoh yang saya berikan di awal. Beli emas, pada akhirnya, bukan investasi. Sebab, yang kita lakukan adalah menyimpan emas hingga mencapai nilai tertentu lalu menjualnya. Uang yang kita dapat, merupakan selisih antara nilai jual dengan nilai beli. Ini yang disebut keuntungan modal. Kita mendapat uang, dengan menjual emasnya. Sebenarnya, kalau dipikir, ini bukan investasi, tapi jual beli dengan objek emas. Bukan langkah finansial yang buruk, tapi Kiyosaki tidak merekomendasikan cara ini.

Beli saham dan properti ini sedikit tricky. Kedua langkah ini, bisa jadi investasi ataupun jual beli. Kalau pola pikir kita adalah beli rumah dan saham, karena harganya relatif terus naik, sehingga bisa dijual saat tinggi, kita berarti masih berorientasi pada keuntungan modal.

Investasi, orientasinya adalah arus kas positif tiap periode tertentu. Istilah lainnya, adalah pendapatan pasif. Coba dimulai untuk beli saham dan properti, lalu fokus pada dividen dan biaya sewa. Meski tidak sebesar keuntungan modal, setidaknya, akan ada nilai yang terus dihasilkan dari objek investasi tersebut, tanpa kita harus bekerja.

Hal ini sesuai nih, dengan teori dari Tung Desem Waringin yang bilang, “Kaya itu kondisi dimana pengeluaran pasif kita udah bisa membiayai hidup kita”.

Poin kedua adalah soal belajar. Kata-kata yang paling ngena adalah

Kita hidup di zaman dimana sekolah berubah terlalu lambat untuk mengimbangi dunia yang berubah terlalu cepat.

Kiyosaki menekankan tentang bentuk investasi yang paling caem, yaitu pendidikan. Tapi dia tidak merekomendasikan sekolah karena alasan di atas. Si doi lebih menyarankan kita mengikuti kelas, sertifikasi, atau seminar, misal finansial, bisnis, atau speaking. Ikut kelas begini, bisa jadi sebuah investasi karena kita mendapat nilai tanpa harus kehilangan pengetahuan kita. Anjay.

Saya juga ga ngerti ngerti amat sih soal ini. Mungkin yang punya ilmu lebih bisa lebih menjelaskan?

Salam.

Ga terlalu ngerti, tapi sok sokan nge-share. Emang saya ngincer supaya keliatan keren doang sih.