Cool

Harus saya akui, jokes yang paling gampang adalah jokes yang menghina orang. Termasuk menghina saya sendiri sebenarnya, tapi saya sadar saya juga sering menghina orang lain. Mungkin bukan menghina sih, lebih ke arah mengejek (menghina sepertinya kasar banget). *pembenaran*

Saya ingin bercerita soal pola pikir saya yang dulu super bego sepertinya.

Bukan bermaksud sombong (eh ngga ding, emang pengen sombong), saya bukan termasuk orang yang akan kesulitan untuk menerima pelajaran sekolah dari SD sampai SMA. Dengan modal memperhatikan guru (cieee, perhatian), cobain soal sedikit, rasanya saya sudah punya cukup pengetahuan untuk mengerjakan soal-soal berikutnya, pun, termasuk soal yang levelnya cukup sulit.

Gara-gara kemampuan ini, saya jadi jarang belajar. Dan ini membuat saya sebenarnya “meremehkan” orang yang belajar keras untuk bisa sesuatu. Saya pikir saya berbakat untuk akademik sehingga saya tidak perlu berusaha terlalu keras. Dan saya pikir lagi, orang-orang yang belajar keras ini menyedihkan, karena pada akhirnya mereka juga ga bakal bisa-bisa amat.  Buang-buang waktu.

Saya pikir saya cool, karena bisa tanpa usaha keras.

Masuk kuliah, tahun pertama relatif mudah sebenarnya karena beberapa pelajaran sebenarnya mengulang pelajaran SMA. Cobaan terberat ada di pelajaran DRE, dan akhirnya memang nilai saya tidak terlalu memuaskan. Saya belajar dikit doang, dapat nilai seadanya. Pikiran “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” masih menggantung sehingga saya malas belajar. Saya pikir semua yang saya tahu sudah cukup untuk membantu saya mengerjakan soal ujian. Tapi ternyata engga. Tapi sekali lagi, saya rasa kalau saya butuh usaha keras, saya pikir saya cuman buang-buang waktu. Toh, di jurusan yang saya pilih, *seharusnya* ilmunya tidak dipakai.

Masuk jurusan, saya sebenarnya sudah cukup sadar kalau sebenarnya saya tidak bisa apa-apa. Hahaha. Tapi, sekali lagi, prinsip “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” terlalu melekat ke otak saya. Alhasil, meski ada fasilitas tutor dari himpunan atau diajakin belajar bareng sama teman-teman, saya lebih memilih untuk pulang ke kosan, dan belajar sendiri. Kenapa? Biar teman saya tetap menganggap saya cool, karena saya bisa tanpa terlihat belajar. Saya merasa tidak cool kalau ternyata saya terlihat belajar dan bisa, karena itu wajar. Emang akhirnya bisa? Ga seberapa, tapi lumayan lah. Hahaha.

Saya ga tahu kenapa, tapi makin ke sini, saya makin sadar kalau “saya cool karena saya bisa tanpa usaha” itu sampah. Kalau dulu, saya bakal kagum dengan orang-orang yang “wah si kampret di kelas ga pernah merhatiin tapi jago”. Sekarang, saya jauh lebih respek sama orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa. Orang-orang ini, ga malu, untuk menunjukkan kalau mereka belum bisa dan mereka emang mau untuk bisa. Orang-orang ini tidak merasa insecure ketika orang-orang lain ngetawain usaha mereka. Saya respek itu, karena saya ga selalu pede terhadap apa yang saya kerjain. Apalagi di awal-awal, jelas kelihatan level-amatir kita di bidang yang baru kita mulai. Saya nyaman terlihat bego, tapi tidak untuk terlihat bodoh. (kampret, saya baru nyadar kalau saya se-insecure itu)

Orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa jadi inspirasi saya saat ini. Inspirasi saya, untuk tidak takut terlihat bego saat mulai melakukan sesuatu. Untuk tidak perlu merasa konyol saat mencoba sesuatu. Memang kadang rasanya masih ada, tapi ya, setidaknya saya tidak semalu dulu untuk terlihat emang berusaha keras terhadap sesuatu.

Kalau kalian bingung, apa hubungannya premis paragraf pertama post ini dengan sisanya, saya ingin coba jelasin. Salah satu kebiasaan saya adalah membuat lelucon tentang usaha teman-teman saya yang sedang coba melakukan sesuatu. Misal diet. Atau coba ngomong bahasa lain di percakapan sehari-hari.

Saya dulu tidak sadar, kalau lelucon ini bisa saja mengganggu kepercayaan diri mereka dalam mencoba meraih sesuatu. Saya mulai sadar hal ini saat dulu, saya mengutarakan keinginan untuk nge-gym dan diet. Reaksi umum orang-orang, biasanya,

“Hahahaha, kayaknya ga bakal ngaruh deh Ja”

It’s actually discouraging me.

Make me think “Am I that ridiculous to think this is gonna work?”

Saya ingin belajar untuk tidak lagi merendahkan usaha orang yang sedang berusaha melakukan sesuatu. Entah itu berupa usaha buat diet. Usaha buat ngomong bahasa asing. Atau eksperimen membuat video-video absurd yang sebenarnya garing. Atau usaha main gitar yang suara gitarnya lebih mengganggu dari pada merdu.

Karena ternyata, orang yang berusaha keras sebenernya jauh lebih cool dari pada kita yang sekarang hanya nge-judge tapi ga berani nyobain hal-hal baru.

 

Tapi kalau ngeselin kayaknya tetap saya hina sih.

 

Salam.

Abis baca #JuruBicara-nya @pandji. Gaya nulisnya jadi sok-sokan sama.

Hobi

Apa hobi kamu?

Andai hal ini ditanya pada saya beberapa tahun yang lalu, saya bisa menjawab dengan pede, “Membaca”. Beberapa tahun lalunya lagi, saya bisa menjawab dengan pede, “Menggambar”.

Saat ini, saya justru bingung berat.

Apa sih hobi? Dulu saya menyimpulkan kalau hobi adalah sesuatu yang biasanya dilakukan kalau sedang nganggur. Dengan definisi ini, hobi saya saat ini seharusnya adalah “Nonton Serial”.

Diskusi soal hobi mulai menarik saat Joshua mengajukan definisi baru dari hobi. 

Hobi adalah sesuatu yang senang kita kerjakan, namun ada profesi profesionalnya. Tapi bukan profesi kita.

– Joshua

Ribet? … Emang si Joshua kampret sih.

Kurang lebih seperti ini. Andai kalian punya teman, sebut saja Eja. Dia adalah pelukis profesional. Tidak sah, buat Eja untuk menyebutkan jika hobinya adalah melukis.

Atau contohnya saya. Saya mengisi waktu luang saya dengan “Nonton Serial”. Tidak sah, buat saya, untuk menyebutkan kalau hobi saya adalah “Nonton Serial”. Soalnya, (setahu saya) belum ada profesi yang sebutannya “penonton serial profesional”.

Kembali ke Eja. Kalau ternyata Eja senang berenang bagaimana? Sah. Hobi Eja adalah berenang. Bukan profesi dia, dan sebenarnya ada profesi sebagai atlet renang.

Bagaimana dengan membaca? Joshua bertitah, kalau pertanyaan hobi ditanyakan di negara maju, dan kita menjawab “Membaca”, katanya kita bakal diketawain. “Membaca” sudah menjadi kewajiban, bukan lagi jadi sesuatu yg dikerjakan saat saat nganggur.

Gara-gara diskusi soal hobi, saya jadi waa-was sendiri. Apa ya hobi saya? Hobi, menurut saya, akan menjadi sesuatu yang penting.

Berkat hasil kepo, saya mendapat semacam hikmah bahwa di kehidupan pasca-kuliah, hobi adalah sesuatu yang membuat kita tetap waras. Saat kita jenuh dengan pekerjaan, stress dengan urusan perkeluargaan, atau kewajiban ini itu (tanggung jawab orang dewasa-lah), hobi adalah pelarian yang membuat kita senang dan punya energi lagi untuk beraktivitas.

Contohnya, ada cerita soal suami-istri yang berantem mulu. Terus sama penerapi-nya (bahasa indonesianya therapist apa yak?), disuruh coba selalu janjian untuk kasih waktu me-time buat pasangan, biar si pasangan bisa ngerjain hobinya dan lain-lain. Hasilnya sih positif.

Pasca-kuliah (walau sekarang sidang aja belum, doakan!), kayaknya saya perlu aktivitas rutin yang saya senang kerjakan. Andai saya terlibat dalam kerjaan 9-5, Senin-Jumat, saya butuh aktivitas untuk dilakukan pada 7-10 malam, dan Sabtu Minggu.

Saat ini sih, kepikiran untuk ikutan Bela-Diri, atau coba-coba cari Kelas/Kursus (musik, teater, drama, atau…improv?) gitu. 

Atau saya coba ciptain aja ya, “penonton serial profesional?”
Jadi, apa hobi kamu?

Halo semua.

Perkenalkan lagi, saya Reza. Tapi senang juga kalau dipanggil Panda atau M.

Saat ini, saya sedang stuck di Bandara Husein Sastranegara karena ada delay penerbangan. Awalnya, penerbangan dijadwalkan pada pukul 19.55, tapi (katanya) dipindahin pada pukul 22.20 WIB. Saya sudah ngecek peraturan penerbangan, sialnya, saya baru dapet 300rb kalau delaynya sampe 4 jam. Yah.

 

Tapi udah dikasih delay service kok. Huehuehue.

 

Jadi, hari ini saya dijadwalkan buat balik ke Medan karena harus menghadiri pernikahan kakak saya. Untungnya, jadwal kuliah cukup memungkinkan saya untuk baru pulang di hari Senin. Lumayan, bisa ketemu keluarga walau cuman sehari. Soalnya waktu lebaran kemarin saya gak balik sih haha.

 

Ini ditulis pake komputer barengan di bandara sih.

Aneh juga ya, penerbangan kali ini kayaknya penumpangnya kurang dari 20. Pasti pesawatnya bakal sepiii banget.

Tidak enaknya dari penerbangan didelay adalah : saya jadi ga ngantuk.

Saya tipikal orang yang selalu merasa tidak nyaman kalau sedang dalam perjalanan. Merasa takut atau — minimal — mual. Karena itu, saya lebih nyaman kalau saya tidur di perjalanan. Supaya tidur, saya sering minum antimo. Efeknya, saya ngantuk. Karena tadi persiapannya buat penerbangan normal, saya jadinya ketiduran sebelum berangkat. Jadinya ga ngantuk. Mungkin nanti bakal tidak-nyaman-tidak-nyamanan di pesawat.

 

Tidak enaknya lagi dari penerbangn didelay adalah : gendut.

Saya tipikal orang yang selalu memilih makan kalau sedang tidak ngapa-ngapain. Apalagi, tadi saya nyempetin makan ayam yang pedes banget sebelum ke bandara. Jadinya perut saya panas. Terus ngide buat beli cemilan biar perut gak panas-panas amat. Cemilan di Bandara mahal deh. Kampret.

 

Enaknya ngapain yak?

Tadi udah dipake buat nonton smackdown — yang membuat saya dilihatin anak kecil. Kasihan ibu bapaknya yang harus menjelaskan kenapa ada orang berantem sambil banting-bantingan.

 

Eh, udah deh, mending makan lagi. Huehuehue.

 

 

*biar ada update aja*

KP #1

Karena ketidakteraturan saya dalam menulis, yang kp#2 nya malah udah keluar duluan. Bisa diakses di sini. Di tulisan ini, saya akan lebih menjelaskan kenapa dan bagaimana akhirnya saya bisa melaksanakan kerja praktek di PT Inovasi Sehat Indonesia.

 

Awalnya, saya sangat antusias untuk melaksanakan kerja praktek di sini setelah saya mendengar penjelasan Kak Ali saat mengisi Seminar Inspirasi Juara HMIF. Setelah kak Ali menjelaskan suka-suka nya bekerja di NGO, saya saat itu langsung menghubungi kak Ali dengan harapan kalau ada kesempatan untuk KP di PT ISI, saya berminat dan saya ingin mendaftar.

 

Sayangnya, setelah itu tidak ada kabar lagi dari Kak Ali soal ada atau tidaknya kesempatan KP di PT ISI. Saya sempat berkonsultasi dengan orang tua soal tempat KP, orang tua mengatakan coba cari di tempat lain dulu, terutama tempat yang mungkin punya nama besar dan punya prospek karir yang lebih jelas bagi mereka. Mengingat belum ada kabar juga dari Kak Ali, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba kesempatan KP di tempat-tempat lain.

 

Pulse Lab Jakarta

Tempat pertama yang menjadi lamaran saya adalah Pulse Lab Jakarta. Pulse Lab ini adalah lembaga yang melakukan riset, kebanyakan mengenai kaitan teknologi dengan isu ekonomi dan sosial, dan merupakan lembaga hasil kerja sama UN Global Lab dengan Bappenas Indonesia. Saya juga sebelumnya tidak pernah mendengar PulseLab, tapi setelah diajak Tegar untuk melamar, saya sempat cari-cari dan ngerasa : wah ini kayaknya keren deh.

Sekitar bulan Januari saya mengirimkan lamaran (setelah diminta saat menanyakan apakah ada kesempatan untuk magang di bulan Juni), tetapi hingga bulan April saya tidak juga mendapatkan kabar lagi soal lamaran lagi. Pelajaran di sini, dikasih tau sama Kak Arini juga, sebenarnya kita harus mengontak aktif kembali perusahaan yang sudah kita lamar. Yah, kalau sekitar 3-4 minggu tidak ada kabar lagi (dan tidak diberi tahu secara pasti kapan akan dikabari lagi), mungkin ada baiknya jika kita menanyakan apakah ada informasi terbaru soal lamaran kita. Jangan posesif tapi. Setiap 12 Jam ditanya. Jangan.

Singkat cerita, di bulan April, saya coba menghubungi lagi ke pihak terkait, lalu mendapatkan balasan bahwa “lamaran anda sudah saya kirimkan ke bagian terkait”, saya merasa waktunya sudah cukup mepet dan informasi seputar kepastian KP tidak bisa saya berikan di minggu pertama. Hal ini membuat saya memutuskan untuk mencari kesempatan lain untuk melaksanakan kerja praktek.

 

BukaLapak.com

Ini mungkin pengalaman yang paling menarik, soalnya di sini keseluruhan proses rekrut standar yang saya bayangkan memang saya alami. Kesempatan untuk KP pertama kali saya ketahui dari milis IF12. Setelah saya lihat lagi kesempatannya, saya sangat berminat untuk KP di sini. Alasannya, saya diberikan kesempatan untuk sangat teknis di program KP-nya. Ada dua posisi yang saya minati : Software Engineer dan Mobile Developer. Setelah mengirimkan lamaran (CV dan Portofolio kalo gasalah), saya diminta untuk mengerjakan soal test bertipe debugging. Saya diminta membenarkan kode yang dikirimkan, lalu dikumpulkan kembali melalui email.

Yang ini, kodenya masih relatif sederhana. Kampretnya adalah, karena kodenya sederhana, saya jadi gak yakin : emang yang salah ini doang ya? Ketakutan soal adanya hal-hal kecil yang menjebak sangat menyeramkan hahaha.

 

Setelah itu, saya diminta untuk datang ke kantor BukaLapak untuk melaksanakan wawancara langsung. Wawancaranya terbagi dua : wawancara kepribadian (kayaknya, gak ditanya teknis, kebanyakan soal pengalaman) sama wawancara teknis (soal kodingan lagi). Pada sesi ini, saya nampak lemah sekali di bagian wawancara teknis. Pelajarannya dari pengalaman ini adalah saya harus benar-benar paham detail masalah yang harus diselesaikan. Saya sempat ragu dengan pertanyaannya, namun saat diberi kesempatan untuk bertanya, saya malah bilang sudah mengerti. Hehehe. Fatal sih, saya jadi gak lulus wkwkwk.

 

NAIST

Kesempatan lainnya yang ingin saya jajali adalah kesempatan untuk melaksanakan riset di NAIST. Sedikit sharing, cita-cita saya dulu waktu kecil adalah ilmuwan 😛 . Motivasi lainnya adalah saya pengen mencoba bidang riset dan penelitian. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya masih belum tahu saya ingin bekerja seperti apa ketika lulus. Bidangnya sih ada tiga katanya : Industri, Pemerintahan, dan Penelitian. Pemerintahan, saya anggap feelnya bakal mirip di himpunan, Industri, saya anggap feelnya akan seperti proyekan. Penelitian, belum sempet saya rasakan feelnya nih. Jadi, keinginan saya cukup kuat juga untuk keterima di kesempatan ini (katanya 3 yang keterima, + dapet uang HAHAHAHA *oke, mungkin aing galulus karena mata duitan -__,- )

Persyaratan programmnya adalah mengirimkan CV dan proposal penelitian. Setelah bimbingan dengan Bu Ayu soal apa yang harus dikerjakan (belum pernah buat proposal penelitian soalnya), saya menghabiskan waktu dua hari untuk menguasai ilmu dasar yang berkaitan dengan interest penelitian saya, serta membaca paper soal teknologi yang sudah diciptakan, yang mirip, yang berhubungan, metode terbaik dll. Harus saya akui, pekerjaannya memang berat (belajar otodidak), tapi entah kenapa saya sangat menikmati prosesnya saat itu. Saat saya baca paper, saya kagum sambil senyum-senyum asik gitu. Cukup senang ketika bisa menangkap pola pikir orang sama membaca analisis kenapa percobaan itu persentase kegagalannya rendah atau dsb.

Eniwei, waktu itu ide saya adalah soal pembuatan Speech Analysis untuk Sensoring Kata Kasar di TV. Idenya adalah gimana caranya memantain waktu streaming langsung dari televisi, sekaligus langsung otomatis sensor saat ada kata-kata kasar yang tidak bisa ditampilkan di televisi.

Sayangnya, saya tidak keterima juga di NAIST. Sempet murung juga sih, soalnya di tingkat III ini saya banyak gagalnya :”. Gagal jadi ketua acara. Gagal ngerjain proyek yang supeeeer so close. Gagal tugas berkelompok *mayoritas pengerjaan tugas kelompok saya berantakan* . Dan… gagal juga di penelitian yang sukai ini. Saya jadi merasa tidak bisa apa-apa haha. Saya jadi merasa tidak berbakat memipin, tidak bakat bekerja, tidak berbakat ngomong, dan tidak berbakat belajar. Oke, abaikan :’|

Inovasi Sehat Indonesia

Mungkin Allah menyuruh saya untuk mengikuti keinginan saya yang sempat terbesit, kak Ali menginfokan melalui milis himpunan soal kesempatan untuk kerja praktik di PT ISI. Karena saya memang lagi tidak ada lamaran ke mana pun, saya pun coba mengikuti proses rekrutmennya. Prosesnya mirip dengan proses di BukaLapak, walau untuk pertanyaan wawancara teknis lebih banyak membahas portofolio (tidak terlalu tes algoritma). Kebanyakan yang dibahas adalah pengalaman, apa saja yang sudah dibuat dan lingkungan pengembangan yang biasa digunakan. Setelah tahap ini, ada wawancara dengan Pak Roy selaku CEOnya, soal kesepatakan pelaksanaan kerja praktiknya. Saya mengambil waktu 6 minggu (tengah-tengah) supaya bisa menuntaskan kebutuhan KP dan ada waktu untuk pulang di hari lebaran.

 

Bagaimana pengalaman saya KP di PT ISI?

Mungkin bukan ditulisan ini. Diserial lainnya sepertinya. Hehehe.

 

Salam.

Tethering HP naik turun susah buat menulis.

Tulisan ini sudah saya baca lagi dan terlalu lurus nampaknya.

KP #2

Setelah eksplorasi di hari pertama tentang openmrs serta sistem basis data-nya, di hari kedua dan ketiga, saya ditantang buat ngerjain visualisasi data hasil rekap dari basis data medisnya.

kp-django-histo

Sederhana banget ya hehehe

Nah, untuk melakukan visualisasi data ini, saya menggunakan 4 kakas utama : PHP, highchart.js, Python/Django, dan google-charts.js

1. Eksplorasi Query

Sebelum melakukan visualisasi datanya, tentunya harus tahu dulu dong data apa yang mau disajikan. Untuk itu, saya mengeksplorasi terlebih dahulu query-query sql yang akan menghasilkan data yang diinginkan. Data yang diinginkan ini juga ternyata harus diolah lagi, misalkan ada data yang tidak masuk akal (untuk masing-masing data tentu aturan sendiri harusnya) atau bisa membedakan data mana yang merupakan data tes dan data asli. Nah, untuk eksplorasi query ini, saya menggunakan MySQL Workbench. Jujur, saya takut juga saat disuruh si kakak untuk menggunakan kakas ini (soalnya belum pernah denger, dan takutnya ga bisa kayak hari pertama 😦 ) , tapi setelah dilihat, ternyata kakas ini mirip dengan pgAdmin-nya postgresql yang pernah saya gunakan di semester 5. Kakas seperti ini berguna banget buat eksplorasi query, dan eksplorasi database yang remote (bukan di komputer kita).

2. Eksplorasi Kakas Pemograman

Setelah mengetahui query apa yang harus digunakan, sekarang masalah bagaimana membaca data tersebut dengan menggunakan program. Oiya, awalnya saya menggunakan PHP dalam pengembangannya (yang PHP, relatif tidak ada masalah), namun kata si kakak, pada akhirnya coba eksplorasi menggunakan Python dengan tambahan framework Flask atau Django. Karena Flask instalasinya ribet dan tidak menjamin untuk bisa berjalan stabil di Python3.4 (yang sedang saya gunakan), akhirnya saya memilih Django. Django ini kalau dilihat sekilas prinsip penggunaannya mirip dengan Laravel untuk PHP. Tapi karena saya cupu dan nubie, saya jadinya kesulitan banget -_-. Apalagi ketika awal instalasi, tiba-tiba ada Library yang merasa tidak di-load. Rasanya hampir 3 jam saya otak-atik dan gak ngerti kenapa gak bisa.

 

Sampai akhirnya saya sadari, kalau ternyata ada dua instalasi Python di Laptop saya. Yang saya gunakan untuk pengembangan adalah Python 3.4.1, sementara untuk testing Python 3.5 (yang saya lupa uninstall saat saya install python 3.4). Sehabis uninstall, akhirnya ….

 

Tetep gak bisa -_-

Katanya MySQLdb-nya membutuhkan salah satu .bat dari Visual Studio 09 (saya pakenya 11). Saya coba masukin PATH si VS11 di Environment Variables, tapi tetep gak bisa. Salah saya apa sih -___________-

Akhirnya saya ekplorasi lagi, dan akhirnya ketemu caranya. WKWKWKWK. Waktu terbuang sia-sia hahaha.

 

*istirahat bentar*

 

Nah,  setelah selesai, saya coba-coba ngebuat api-nya dan relatif bisa deh. Hahaha *tapi udah lewat deadline, saya jadi gak enak ama si kakak*

 

3. Eksplorasi Kakas Visualisasi

Untuk PHP, saya menggunakan highchart.js untuk melakukan visualisasi. Awalnya mau pake D3.js tapi gak ngerti-ngerti ._. Kalau di si histochart dia udah nampilin salah satu contoh untuk ngebuat histogram. Jadi saya tinggal ganti-ganti dikit.

 

Nah, untuk Python, saya menggunakan Django untuk ngebuat web-nya, dan Google-Charts-API untuk visualisasinya. Hal yang menarik terjadi ketika saya eksplorasi Django-nya, saya nemuin tulisan begini hahaha.

Setelah anda melakukan konfigurasi di atas, lalu mencoba tes, anda akan membanting gelas kopi anda — karena konfigurasinya memang belum selesai

:))

Paling suka deh kalau ada penjelasan-penjelasan yang becanda kayak gitu hahaha :))

Eniwei, ternyata Django cukup ribet hahaha. Yang paling menyebalkan adalah ketika konfigurasi untuk halaman static, si Django otomatis ngebuat cache yang membuat halaman static kita relatif gak berubah walau udah diubah-ubah kodenya -_-.  Saya ampe hampir gila karena bingung kenapa perubahan yang saya lakukan gak ngerubah tampilannya hahaha.

Selain itu, hal yang menyebalkan lainnya adalah masalah peletakan file. Mirip laravel, si Django ini menyediakan fasilitas Route. Enak sih untuk konfigurasi alamat-alamat, tapi kadang ngebuat bingung untuk ngeletakin file yang bersangkutan (misalkan js,css,gambar dll)

 

 

Hahaha. Itu aja sih cerita saya untuk kp selama ini. Seru juga sebenarnya seharian *mencoba* ngoding. Sedihnya adalah saat kodingan yang dibuat sebenarnya minim progress karena ada masalah sana-sini. Huft.

 

Eniwei, gimana cerita liburan kalian?

 

Salam.

Pokoknya hari swasta saya harus udah brewokan. Minimal kumisan.

Sesal Saya di ITB

24 Mei 2014

“Karena penyesalan, selalu datang terakhir…”

Tidak terasa sudah dua tahun saya berkuliah di ITB. Entah kenapa, rasanya waktu kuliah jauh leih cepat terasa berlalu dibandingkan dengan SMA dulu. Apa karena tugas yang terlalu menumpuk yang terlalu makan waktu asik dikerjakan?

Nah, di dua tahun pertama ini, ada beberapa hal yang sebenarnya saya sesali. Saya sesali , dalam artian, saya berharap andai saya melakukan hal tersebut! Kenapa? Ini proses penyesalan yang terjadi karena hasil baca-baca blog orang, banding-bandingin diri sama role model (role model saya banyak hahaha :P) , ataupun sekedar perasaan iri kepada teman-teman yang diberi kesempatan untuk melakukan tersebut.

NYESAL

 

Sekali lagi, masing-masing dari kalian punya pilihan tersendiri. Ini hanyalah pendapat saya, mengenai –apa pilihan berbeda yang akan saya ambil jika saya diberikan kesempatan untuk mengulangi kehidupan saya?

Ini preferensi, mungkin buat teman-teman yang lebih muda dari saya, bisa menjadikan tulisan ini sebagai bahan pikir-pikir.

Berikut adalah hal-hal yang seharusnya dulu saya lakukan (menurut saya).
1. Daftar Lapangan OSKM!
Saya sebenarnya juga terlibat di OSKM kemarin, namun bukan di divisi lapangan. Pertimbangan kemarin adalah osjur saya bentrok dengan diklat divisi lapangan OSKM dan ada ambisi pribadi di salah satu divisi non lapangan OSKM kemarin. Ambisinya gagal sih -_-.

Dulu sempat kepikiran untuk daftar divisi Taplok atau Keamanan. Taplok, soalnya tugasnya paling mulia hahaha. Kemaanan, soalnya dulu punya misi pribadi untuk belajar olahrasa dan belajar hemat ngomong. Sekarang-sekarang malah kepikiran juga andaikan waktu itu daftar medik. Harusnya badan lebih sehat — minimal lebih ngerti cara sehat. Andai disuruh ngulang lagi, mungkin saya bakalan daftar taplok. Hahahaha.
Alasan utama lain karena , diluar dugaan, orang-orang yang saya kagumi dulunya taplok! Hahaha. Plus, sebenarnya cukup iri kalau misalnya jarang bareng temen yang kemarin jadi Taplok, terus ketemu temen terus negur. Atau malah ketemu sama adik taploknya. Saya? Entah kenapa saya merasa kenalan saya di ITB gak nyampe 250 ….


TEMEN LU

Selain itu, kemarin sempat terlibat dengan Kadwilnya fakultas saya.Waktu itu lagi hangat-hangatnya ngomongin siapa yang bisa jadi Danlap, Korlap. Karena mendadak lapangan itu menarik, saya coba baca buku pedoman lapangan OSKM ITB 2012 dan…
Super sekali, andaikan saya masuk lapangan.
2. Daftar Kabinet di KM ITB dan Kegiatan Terpusat!
Kalau ini berasal dari ketimpangan informasi saya kalau sedang ngumpul sama beberapa teman. Rasanya, teman-teman yang terlibat di kabinet di masa TPBnya (atau kepanitiaan terpusat, PEMIRA, OLIM, atau COLLABORATION) sekarang udah pada jadi ‘orang’ deh. Selain itu, teman-teman saya yang aktif di terpusat biasanya orang-orang yang skill ‘mikir dan analisis’ nya lumayan bagus. Skill berpendapat mereka juga bagus banget. Bayangin, andai saya kumpul sama temen-temen yang otaknnya begini, yang terjadi bukan ngobrol, tapi konsultasi. Saya ngutarain pendapat dan pertanyaan sementara temen-temen yang lain menjawab dan melurskan hahaha.
Pertimbangan lain adalah, di waktu TPB , ternyata benar, tidak sesibuk jurusan. Dulu saya pikir, harusnya waktu jurusan lebih selaw dibanding TPB, soalnya keilmuannya udah menjurus. Apalagi kalau yang masuk ke jurusan yang jadi passionnya. Seharusnya sih lebih selaw, kan?
Tapi ternyata NGGAK! Teman-teman yang jago sekalipun masih mengakui kalau jurusan tidak selaw. Lebih enak TPB. Jadi, kalau saya boleh menyarankan, buat teman-teman TPB ataupun Calon Mantan TPB, gunakan masa-masa sebelum kuliah serius di jurusan buat semaksimal mungkin aktif, terutama aktif di terpusat.

3. Ngoding di TPB!
Generalnya adalah, belajar jurusan di TPB (curi start). Memang terdengar ambis, tapi yah….emang ambis sih. Nih, kembali lagi, TPB belum sesibuk di jurusan. Kesempatan kalian buat eksplorasi lebih banyak saat kalian TPB. Eh, sebenarnya saya juga ga bisa nyimpulin siih, toh kurikulum beda. Waktu jaman aing sih lumayan selaw hahaha.
Pembicaraan bego yang mencerminkan penyesalan ini adalah sebagai berikut
(TPB, ngeliat temen-temen jago Ngoding)
Saya : “Dih, coba aing belajar /diajarin ngoding waktu SMA, pasti sekarang udah gak susah lagi “

(Di jurusan, ngeliat teman-teman tambah jago)
Saya : “Dih, coba dulu gua belajar ngoding waktu TPB, pasti sekarang gua udah jago”

(Bego aing ya -_-)

Inti permasalahnnya sama. Mumpung lengang, mumpung sempat, manfaat waktu kalian sebaik-baiknya sekarang juga. Jangan sempat nyesal kayak saya~~

Dan semoga kedepannya saya gak nulis tentang penyesalan lagi -_-

Salam.
Ditulis ketika baru tau kalo Tokobagus.com berubah menjadi OLX blabla

 

Pandji! : 2013 di 2014

Semingguan sebelum tanggal 18 Maret

Fafa tiba-tiba negur dan nanya , “Maneh tau Pandji Pragiwaksono gak?”

Saya bilang,”Taulah coy, si doi inspirasi urang banget. He is my heroes!”

“Minggu depan dia ke ITB loh. Ngisi acara gitu. Ikut yuk!”

HELL YEAH!

Tentu saja saya menyetujui idenya si Fafa. Pandji Pragiwaksono?

Seriusan, saya menganggap dia sebagai salah satu role model saya. Pertama kali kecintaan saya muncul, ketika saya mulai baca blog dia dan baca e-book Nasional-is-me nya. Terus dia makin buat saya jatuh cinta ketika dia pertama kali dia menjadi salah satu orang-orang yang berhasil bawa standup ke Indonesia dan berkarya di sana. Belum lagi lagu-lagu dia yang surprisingly enak juga.

Saya pengen bisa seperti dia. Menginspirasi, punya integritas, teguh sama sesuatu yang ingin ia perjuangkan, dan tau betul apa yang ingin dia lakukan.

Melanjutkan cerita di atas, harus saya majukan ke hari Selasa pekan depannya.

Hari ini, tumben saya datang lumayan cepat ke kampus. Kelas jam 1 dan saya udah standby di sekre jam setengah 1. Tumben. Berhubung saya gak ada kerjaan, saya berniat langsung mau masuk kelas biar bisa ngadem. Di tangga, saya ketemu Joshua.

“Enak banget di Albar tuh, ada acara dari kompas. Sayang si Pandji belum juga keluar”

“LOH? Acaranya hari ini?”

Seriusan, saya dan fajar pikir tanggal 18 Maret itu hari Rabu.

“Iya. Ke sana aja yuk?”

Terus saya pura-pura mikir dan menyetujui. Kurang dari lima menit, kami udah ada di Albar dan…

Pas lagi Pandji yang lagi ngomong.

Acara yang bertanggun jawab terhadap semua ini!

Seneng banget! Perasaan saya waktu itu, kayaknya muka saya merah gitu deh. Antara seneng dan malu akhirnya bisa ketemu sama idola

sebagai peserta seminar.

Tapi seriusan, begini aja saya sudah senang!

Seperti biasa, saya terkagum melihat bagaimana cara Pandji berbagi  wawasan dan pendapat. Begitu enak untuk didengar dan berbobot untuk diserap. Berwawasan namun menghibur.

Ini nih yang paling saya suka dari Pandji. Kalau temen-temen bisa coba liat di youtube standup dia, mungkin gak semuanya bilang dia amat lucu. Tapi saya suka banget dari cara dia mengolah wawasan dia untuk dijadikan sebuah komedi. Meramu fakta dan data menjadi sesuatu yang enak untuk di dengar.

Penonton standup dia terhibur sekaligus tercerdaskan ketika mendengar dia.

Esensi dari standup , yakni untuk ngebuat orang bilang ,”Anjir, iya juga ya” bener-bener dia lakuin.

Standup dia memotivasi saya untuk terus mengembangkan wawasan untuk mendapat materi lebih banyak dan tentunya standup yang lebih serius.

Masuk ke sesi pertanyaan di seminar tersebut.

Dua orang sudah bertanya kepada Pandji.

Pikiran bangsat saya berkata , “Kalau lu ngorbanin sesuatu untuk sesuatu yang lain, pastiin lu dapet sesuatu yang lain itu secara total/full and no regret”

Berbekal dengan kegundahan saya tentan passionlessnya hidup saya dan kontrol emosi saya yang kurang , saya pun mengacungkan tangan dan…

Ditunjuk!

Seneng banget bisa ngomong (nanya -_-) sama dia! Jawaban dia pun sedikit memuaskan, tapi saya seneng banget.

Saya tiba-tiba inget bahwa saya punya impian di tahun 2013 kalau saya harus salaman dengan salah satu tokoh yang saya kagumi (baca : suka saya baca blognya): Pandji, Ernest, Alanda Kariza, atau BenaKribo.

Saya anggap kesempatan bertanya dan dihina (“Seriusan, muka lu gak cocok ama umur lu” – =)) )sama Pandji aja udah saya anggap sebagai “salaman” . I totally make it worth!

Seminar berakhir. Pandji ke luar tempat. Seminar di isi ama MCnya yang mau bagi-bagi doorprize. Saya yang tengah kebelet kencing, meninggalkan tempat sebentar.

Sialan, WC Albarnya ternyata tutup. Saya memutuskan untuk beralih ke WC di bagian ATM center. Saya jalan ke sana dan melihat.

Pandji lagi megang hape jalan ke arah saya.

SHIT!

Dengan gaya sok kenal sok akrab, saya pun menegur dengan ,”Bang Pandji?” (btw, saya punya kebiasaan kalo negur orang biasanya salaman dan nepuk bahu orang. Dan I did that to him! )

“Oh iya, thanks ya za”

Sial. Dia inget nama saya dan…

Saya berhasil salaman sama dia! Emang telat setahun sih, tapi…

Tetep aja seneng!

Pikiran sesaat seneng, lalu berubah kesal ketike berbalik ngehadap dia dan seharusnya tadi bisa lebih dari sekedar “Bang Pandji?” .  Seharusnya saya bisa ngobrol, meski bentar, ngobrol apa gitu blablabla.

Salah satu yang saya sesali selain tidak foto dengan si doi.

Gila. Seneng banget perasaan saya saat itu. Saya dulu sempat heran kenapa orang rela bayar banyak untuk nonton konser. Saya sekarang ngerti. Punya idola dan berharap punya kesempatan bertemu sama dia memang…

Sedikit alay.

Namun, terserah, saya benar-benar kagum padanya dan emang ingin banget jadi orang seperti dia.

 

Sebenarnya saya bingung , saya senang karena ketemu doi atau karena saya somehow berhasil memenuhi salah satu mimpi saya di 2013 meski telat.

Gak tau deh. Yang pasti, saya berhasil bertemu dengan inspirasi saya.

 

Cerita ini ditutup dengan salah satu quote dari Fafa.

“PANDA! KENAPA GAK BILANG ACARA HARI INI?!”

 

Saya ternyata bukan teman yang baik -__-

 

Ditulis dengan kondisi Akbar berkata, “Busted kali awak”