Tentang Muka

Cerita #1

(Di kantor imigrasi, sedang mengambil paspor yang baru jadi)

Bapak Penjaga (BP), Saya (S)

BP : “Nomor 209!”

S : (menghampiri meja pengambilan) “Saya, Pak.”

BP : “Nomor antrian sama bukti pembuatan paspornya, Mas.”

S : (memberikan nomor antrian dan bukti pembuatan paspor) “Ini, Pak”

BP : (mengecek nomor antiran dan bukti) “Sebentar…”

BP : (mengambil paspor dan melihat halaman pertama) “Loh, di sini kok mukanya jelek?” (sambil menekankan jempol pada foto saya di paspor)

S : “Lah, emang aslinya enggak pak?”

BP : “Iya sih.”

S : “HAHAHA” (nangis dalam hati)

Cerita #2

(Di baltos, abis beli bantal dan sarungnya, lalu mau beli sajadah karena cuman satu yang ada di kosan, dan pengen dicuci)

Ibu Penjual (IP), Saya (S)

IP : “Ini sarung bantal sama bantalnya jadi 150.”

S : “Siap, Bu.” (ngeliat sajadah, triggered) “Kalo sajadahnya berapaan, Bu?”

IP : (heran sebentar) “Kamu muslim?”

S : “Iya, Bu, kenapa emang?” (heran juga)

IP : “Oh. Kirain, dari mukanya kayaknya ga pernah shalat.”

S : “HAHAHAHA” (terjemahan = “KAMPRET”)

 

Salam.

What is wrong with my face?

 

Iklan

Kemakan Iklan : Bon Cabe

(Tulisan ini tidak disponsori oleh Bon Cabe. Tapi kalo si doi berminat, saya sih terima-terima aja.)

Bulan puasa telah berakhir. Di akhir-akhir bulan puasa, Ibu memberi secercah nasihat, selain untuk memperbanyak ibadah : siapin makanan buat menjelang dan sesaat sesudah lebaran. Iya juga, tahun ini kedua kali-nya saya nggak pulang ke kampung halaman. Tahun lalu, meskipun tidak pulang, saya sempat untuk menginap di rumah paman dan sepupu saya, sehingga kondisi perut terjaga. Tahun ini, rasanya memang harus lebih bersiap-siap.

Hal-hal yang akhirnya saya stok di kosan:

  1. Indomie berbagai rasa, yang akhirnya hanya membuat kecewa karena sejatinya indomie terenak hanyalah indomie yang di-ilustrasi-kan pada gambar 1.
  2. Energen, minuman dan makanan bergizi, yang sepertinya porsi kemasannya bertambah semenjak terakhir saya beli.
  3. Rendang, karena Rendang wajib disajikan pada hari lebaran. Sendirian bukan alasan. Harus ada rendang.
  4. Bon Cabe. Ini ada ceritanya.

Gambar 1. Rasanya memang standar. Tapi tidak pernah mengecawakan lidah.

Kegiatan saya terfavorit di bulan puasa, selain tidur, adalah nonton youtube. Youtube sekarang begitu berwarna dan punya banyak konten yang sepertinya tidak akan habis-habis. Kalau di Indonesia, sekarang lagi ngetren yang namanya Vlog alias Video Blog alias Video Web Log. Vlog itu umumnya berisi tentang kehidupan sehari-hari pemilik vlog tersebut.

Dan saya demen nontonin vlog orang. Emang dasarnya kepo, dulu rajin baca blog orang, sekarang rajin juga nonton vlog orang. Alasan saya kepo  nonton vlog orang sih biasanya berkutat pada : lucu, ada manfaatnya (sering share soal bidang yang dia tekuni, misal videografi [Aulion contohnya], Per-film-an [Raditya Dika, soal Koala Kumal yang hadir di bioskop Indonesia pada 5 Juli 2016 **keseringan nonton vlognya**], plus yang menarik lagi, soal animasi [bersama Ryan Adriandhy]), dll), ketagihan (saya ga tahu kenapa saya demen liatin beberapa vlog yang isinya pacaran atau persiapan nikah doang -_- <– ini namanya kepo).

Dari sharing Radit bareng Ryan, saya ngerti kenapa Kartun itu gambarnya sederhana tapi mulus, sementara Anime itu gambarnya detail tapi patah-patah. Ada di kompromi kualitas detail dan fps ternyata! #Penting #BisaDijadiinFunFactYangDibilangSamaGebetanBiarKeliatanPinter #GakPunyaGebetan #sedih 😦

Nah, suatu hari saya menonton videonya Aulion yang ini. Dia bercerita soal bagaimana sukanya dia dengan sebuah produk yang namanya Bon Cabe. Katanya sih, pedesnya nikmat, dan cocok buat dipake dimana aja, termasuk dicampurin ke nasi putih doang!

Bon Cabe level 15. Ada level 10, dan level 3 juga katanya.

Mengingat nasihat Ibu untuk menyetok makanan sebelum lebaran, saya jadi tertarik buat mencoba Bon Cabe ini. Ternyata, mudah didapatkan di Indomaret terdekat.

Saya pun coba beli yang level 10 dan level 15. Tingkat kepedasannya sih kurang lebih begini : level 10 itu level pedasnya kalau kalian pesan nasi goreng paling pedas. Level 15… ya dikira-kiralah pedesnya seberapa.

Buka puasa hari ke-28, saya coba beli nasi goreng di sekitar kosan. Jujur saja, selama di Bandung saya belum pernah ketemu nasi gorang yang enak (definisi : rasanya sesuai yang biasanya dibuatin Ibu saya). Nasi goreng yang saya beli pun biasa saja. Lalu ketika saya tambahkan bon cabe secukupnya… rasanya jadi enak! Saya pun jadi doyan makan nasi gorengnya.

Bon Cabe juga saya coba di makanan-makanan lain : Nasi Padang, Nasi Putih doang, dan Mie Goreng. Bon Cabe memang menambah tingkat kepedasan dan, kalau bagi saya otomatis menambah, tingkat keenakan. Hahaha.

Sepertinya Bon Cabe bakal jadi peneman makanan yang wajib saya bawa kemana-mana kalau-kalau saya kurang berselera makan makanan yang disajikan saat makan. Dulu saya juga sering beli sambal botol, tapi sambal botol kalau dibiarkan lama rasa dan baunya berubah, plus tidak cocok untuk beberapa makanan, contohnya nasi.

Btw, Bon Cabe ini juga bisa dimakan langsung sebagai cemilan juga sih. Jadi enak hahaha.

Dari list makanan yang saya stok, mungkin saatnya sekarang saya mencoba makan energen pake Bon Cabe. Penasaran seperti apa rasanya.

Kalau kalian, apa ada cara lain untuk memastikan makanan itu enak?

(Update : Energen + Bon Cabe tidak direkomendasikan)

 

(Mohon maaf akhir-akhir ini pos jarang yang penting hahaha)

(Mohon Maaf Lahir Batin!)

KP #4

Berikut ini beberapa kejadian/percakapan selama kurang lebih 3 minggu ber-kp ria.

Cerita #1
Bapak kosan mengetuk jendela kamar sambil manggil manggil Raisa.
Saya membuka gorden dan menyaut si Bapak *nggg, setelah dipikir ini gak sopan, harusnya keluar dari kamar, bukan ngobrol lewat jendela*
B : “Sa, pak RW minta semua yang ngekos ngasih fotokopi ktp”
R : “Oh, iya Pak,nanti saya kasih”
B : “Kamu kok gak pernah keluar kamar ya?”
R : *jleb* *hanya bisa senyum meringis*

Cerita #2
Hari jumat, minggu kedua KP. Saya sedang mengemas barang , mau pulang. Ibu manajer bertanya. I : “Pulang za?”
R : “Iya, Bu.”
I : “Wah tumben pulang cepet”
R : “Iya Bu, ada janji sama temen”
I : “Wah, akhirnya kamu punya kehidupan sosial di luar kantor ya”
R : *jleb* *senyum kaku lagi*

Cerita #3
Entah basa-basi apa yang saya lakukan, tiba-tiba sampai pada percakapan ini dengan Ibu Manajer. Oiya, Ibu ini punya latar belakang psikologi

I : “Gimana za? Punya pacar di kampus?’
R : “Nggak, Bu.”
I : “Kalau perempuan yang disuka?”
R : “Kehidupan di kampus kayaknya gak ngebuat saya mikir yang kayak begituan deh Bu”
I : “Well…”
R : *diam, menunggu jawaban si Ibu*
I : “Kayaknya gak normal deh”
R : *ketawa dengan ekspresi ketawa-ketawa tahe*

Cerita #4
Sekali lagi, gatau basa basinya apa.
R : “Bu, saya suka nonton smackdown. Normal gak ya Bu?”
I : “Normal kok”
R : *mengangkat dua tangan dengan pose kemenangan* “HELL YEAH”

Cerita #5
Sedang mencari makan malam di sekitar kosan. Akhirnya memutuskan makan di tempat yang berlabel nasi u*uk (nasi uduk, d nya gak keliatan gimana gitu). Yang jual Bapak-Bapak berbaju merah.

R : “Ada apa aja Pak?”
BBM : “Nasi ayam goreng, nasi ayam bakar,ayam sambel hijau”
R : “Oh, ketupat sayur nya itu cuman ada waktu sarapan ya Pak?”
BBM : * ngangguk *
R : ” Ayam sambel ijo nya deh Pak”


Datang tukang parkir sekitar. Nampak memesan sesuatu pada bapak berbaju merah. Tidak lama kemudian, bapak berbaju merah menyajikan ketupat sayur kepada tukang parkir sekitar.

Cerita #6
Makan di warung nasi pinggiran. Serba 10rb.

R : *makan nasi ayam* *selesai*
I : “Udah mas? Apa aja?”
R : “Nasi sama ayam sambelnya Bu”
I : “20rb”
R : *ee buset, nasinya juga 10rb*

Cerita #7
Ibu manajer dan Bapak dokter nampaknya nge-apply kuliah lagi, S2 buat si Ibu, S3 buat si Bapak, di universitas luar negeri. Si Ibu dapat kabar kalau keterima atau semacamnya.
I : “Hebat  kan saya Pak?”
B : “Nggak juga. Mereka kayaknya tahu siapa yang lebih butuh buat belajar lagi”
R : *HAHAHAHA*

Yah,begitulah cerita-cerita selama 3 minggu ini.

Salam.
Menyebalkan ngetik dari hape.

KP #2

Setelah eksplorasi di hari pertama tentang openmrs serta sistem basis data-nya, di hari kedua dan ketiga, saya ditantang buat ngerjain visualisasi data hasil rekap dari basis data medisnya.

kp-django-histo

Sederhana banget ya hehehe

Nah, untuk melakukan visualisasi data ini, saya menggunakan 4 kakas utama : PHP, highchart.js, Python/Django, dan google-charts.js

1. Eksplorasi Query

Sebelum melakukan visualisasi datanya, tentunya harus tahu dulu dong data apa yang mau disajikan. Untuk itu, saya mengeksplorasi terlebih dahulu query-query sql yang akan menghasilkan data yang diinginkan. Data yang diinginkan ini juga ternyata harus diolah lagi, misalkan ada data yang tidak masuk akal (untuk masing-masing data tentu aturan sendiri harusnya) atau bisa membedakan data mana yang merupakan data tes dan data asli. Nah, untuk eksplorasi query ini, saya menggunakan MySQL Workbench. Jujur, saya takut juga saat disuruh si kakak untuk menggunakan kakas ini (soalnya belum pernah denger, dan takutnya ga bisa kayak hari pertama 😦 ) , tapi setelah dilihat, ternyata kakas ini mirip dengan pgAdmin-nya postgresql yang pernah saya gunakan di semester 5. Kakas seperti ini berguna banget buat eksplorasi query, dan eksplorasi database yang remote (bukan di komputer kita).

2. Eksplorasi Kakas Pemograman

Setelah mengetahui query apa yang harus digunakan, sekarang masalah bagaimana membaca data tersebut dengan menggunakan program. Oiya, awalnya saya menggunakan PHP dalam pengembangannya (yang PHP, relatif tidak ada masalah), namun kata si kakak, pada akhirnya coba eksplorasi menggunakan Python dengan tambahan framework Flask atau Django. Karena Flask instalasinya ribet dan tidak menjamin untuk bisa berjalan stabil di Python3.4 (yang sedang saya gunakan), akhirnya saya memilih Django. Django ini kalau dilihat sekilas prinsip penggunaannya mirip dengan Laravel untuk PHP. Tapi karena saya cupu dan nubie, saya jadinya kesulitan banget -_-. Apalagi ketika awal instalasi, tiba-tiba ada Library yang merasa tidak di-load. Rasanya hampir 3 jam saya otak-atik dan gak ngerti kenapa gak bisa.

 

Sampai akhirnya saya sadari, kalau ternyata ada dua instalasi Python di Laptop saya. Yang saya gunakan untuk pengembangan adalah Python 3.4.1, sementara untuk testing Python 3.5 (yang saya lupa uninstall saat saya install python 3.4). Sehabis uninstall, akhirnya ….

 

Tetep gak bisa -_-

Katanya MySQLdb-nya membutuhkan salah satu .bat dari Visual Studio 09 (saya pakenya 11). Saya coba masukin PATH si VS11 di Environment Variables, tapi tetep gak bisa. Salah saya apa sih -___________-

Akhirnya saya ekplorasi lagi, dan akhirnya ketemu caranya. WKWKWKWK. Waktu terbuang sia-sia hahaha.

 

*istirahat bentar*

 

Nah,  setelah selesai, saya coba-coba ngebuat api-nya dan relatif bisa deh. Hahaha *tapi udah lewat deadline, saya jadi gak enak ama si kakak*

 

3. Eksplorasi Kakas Visualisasi

Untuk PHP, saya menggunakan highchart.js untuk melakukan visualisasi. Awalnya mau pake D3.js tapi gak ngerti-ngerti ._. Kalau di si histochart dia udah nampilin salah satu contoh untuk ngebuat histogram. Jadi saya tinggal ganti-ganti dikit.

 

Nah, untuk Python, saya menggunakan Django untuk ngebuat web-nya, dan Google-Charts-API untuk visualisasinya. Hal yang menarik terjadi ketika saya eksplorasi Django-nya, saya nemuin tulisan begini hahaha.

Setelah anda melakukan konfigurasi di atas, lalu mencoba tes, anda akan membanting gelas kopi anda — karena konfigurasinya memang belum selesai

:))

Paling suka deh kalau ada penjelasan-penjelasan yang becanda kayak gitu hahaha :))

Eniwei, ternyata Django cukup ribet hahaha. Yang paling menyebalkan adalah ketika konfigurasi untuk halaman static, si Django otomatis ngebuat cache yang membuat halaman static kita relatif gak berubah walau udah diubah-ubah kodenya -_-.  Saya ampe hampir gila karena bingung kenapa perubahan yang saya lakukan gak ngerubah tampilannya hahaha.

Selain itu, hal yang menyebalkan lainnya adalah masalah peletakan file. Mirip laravel, si Django ini menyediakan fasilitas Route. Enak sih untuk konfigurasi alamat-alamat, tapi kadang ngebuat bingung untuk ngeletakin file yang bersangkutan (misalkan js,css,gambar dll)

 

 

Hahaha. Itu aja sih cerita saya untuk kp selama ini. Seru juga sebenarnya seharian *mencoba* ngoding. Sedihnya adalah saat kodingan yang dibuat sebenarnya minim progress karena ada masalah sana-sini. Huft.

 

Eniwei, gimana cerita liburan kalian?

 

Salam.

Pokoknya hari swasta saya harus udah brewokan. Minimal kumisan.

Sesal Saya di ITB

24 Mei 2014

“Karena penyesalan, selalu datang terakhir…”

Tidak terasa sudah dua tahun saya berkuliah di ITB. Entah kenapa, rasanya waktu kuliah jauh leih cepat terasa berlalu dibandingkan dengan SMA dulu. Apa karena tugas yang terlalu menumpuk yang terlalu makan waktu asik dikerjakan?

Nah, di dua tahun pertama ini, ada beberapa hal yang sebenarnya saya sesali. Saya sesali , dalam artian, saya berharap andai saya melakukan hal tersebut! Kenapa? Ini proses penyesalan yang terjadi karena hasil baca-baca blog orang, banding-bandingin diri sama role model (role model saya banyak hahaha :P) , ataupun sekedar perasaan iri kepada teman-teman yang diberi kesempatan untuk melakukan tersebut.

NYESAL

 

Sekali lagi, masing-masing dari kalian punya pilihan tersendiri. Ini hanyalah pendapat saya, mengenai –apa pilihan berbeda yang akan saya ambil jika saya diberikan kesempatan untuk mengulangi kehidupan saya?

Ini preferensi, mungkin buat teman-teman yang lebih muda dari saya, bisa menjadikan tulisan ini sebagai bahan pikir-pikir.

Berikut adalah hal-hal yang seharusnya dulu saya lakukan (menurut saya).
1. Daftar Lapangan OSKM!
Saya sebenarnya juga terlibat di OSKM kemarin, namun bukan di divisi lapangan. Pertimbangan kemarin adalah osjur saya bentrok dengan diklat divisi lapangan OSKM dan ada ambisi pribadi di salah satu divisi non lapangan OSKM kemarin. Ambisinya gagal sih -_-.

Dulu sempat kepikiran untuk daftar divisi Taplok atau Keamanan. Taplok, soalnya tugasnya paling mulia hahaha. Kemaanan, soalnya dulu punya misi pribadi untuk belajar olahrasa dan belajar hemat ngomong. Sekarang-sekarang malah kepikiran juga andaikan waktu itu daftar medik. Harusnya badan lebih sehat — minimal lebih ngerti cara sehat. Andai disuruh ngulang lagi, mungkin saya bakalan daftar taplok. Hahahaha.
Alasan utama lain karena , diluar dugaan, orang-orang yang saya kagumi dulunya taplok! Hahaha. Plus, sebenarnya cukup iri kalau misalnya jarang bareng temen yang kemarin jadi Taplok, terus ketemu temen terus negur. Atau malah ketemu sama adik taploknya. Saya? Entah kenapa saya merasa kenalan saya di ITB gak nyampe 250 ….


TEMEN LU

Selain itu, kemarin sempat terlibat dengan Kadwilnya fakultas saya.Waktu itu lagi hangat-hangatnya ngomongin siapa yang bisa jadi Danlap, Korlap. Karena mendadak lapangan itu menarik, saya coba baca buku pedoman lapangan OSKM ITB 2012 dan…
Super sekali, andaikan saya masuk lapangan.
2. Daftar Kabinet di KM ITB dan Kegiatan Terpusat!
Kalau ini berasal dari ketimpangan informasi saya kalau sedang ngumpul sama beberapa teman. Rasanya, teman-teman yang terlibat di kabinet di masa TPBnya (atau kepanitiaan terpusat, PEMIRA, OLIM, atau COLLABORATION) sekarang udah pada jadi ‘orang’ deh. Selain itu, teman-teman saya yang aktif di terpusat biasanya orang-orang yang skill ‘mikir dan analisis’ nya lumayan bagus. Skill berpendapat mereka juga bagus banget. Bayangin, andai saya kumpul sama temen-temen yang otaknnya begini, yang terjadi bukan ngobrol, tapi konsultasi. Saya ngutarain pendapat dan pertanyaan sementara temen-temen yang lain menjawab dan melurskan hahaha.
Pertimbangan lain adalah, di waktu TPB , ternyata benar, tidak sesibuk jurusan. Dulu saya pikir, harusnya waktu jurusan lebih selaw dibanding TPB, soalnya keilmuannya udah menjurus. Apalagi kalau yang masuk ke jurusan yang jadi passionnya. Seharusnya sih lebih selaw, kan?
Tapi ternyata NGGAK! Teman-teman yang jago sekalipun masih mengakui kalau jurusan tidak selaw. Lebih enak TPB. Jadi, kalau saya boleh menyarankan, buat teman-teman TPB ataupun Calon Mantan TPB, gunakan masa-masa sebelum kuliah serius di jurusan buat semaksimal mungkin aktif, terutama aktif di terpusat.

3. Ngoding di TPB!
Generalnya adalah, belajar jurusan di TPB (curi start). Memang terdengar ambis, tapi yah….emang ambis sih. Nih, kembali lagi, TPB belum sesibuk di jurusan. Kesempatan kalian buat eksplorasi lebih banyak saat kalian TPB. Eh, sebenarnya saya juga ga bisa nyimpulin siih, toh kurikulum beda. Waktu jaman aing sih lumayan selaw hahaha.
Pembicaraan bego yang mencerminkan penyesalan ini adalah sebagai berikut
(TPB, ngeliat temen-temen jago Ngoding)
Saya : “Dih, coba aing belajar /diajarin ngoding waktu SMA, pasti sekarang udah gak susah lagi “

(Di jurusan, ngeliat teman-teman tambah jago)
Saya : “Dih, coba dulu gua belajar ngoding waktu TPB, pasti sekarang gua udah jago”

(Bego aing ya -_-)

Inti permasalahnnya sama. Mumpung lengang, mumpung sempat, manfaat waktu kalian sebaik-baiknya sekarang juga. Jangan sempat nyesal kayak saya~~

Dan semoga kedepannya saya gak nulis tentang penyesalan lagi -_-

Salam.
Ditulis ketika baru tau kalo Tokobagus.com berubah menjadi OLX blabla

 

Pandji-2 : Passion

You are a big man. Make your own decision.

 

Pandji

Hal itu yang dijawab Pandji ketika saya bertanya seperti ini di kesempatan yang ini.

“Abang pernah bilang bahwa fokus itu juga mencakup mengetahui apa saja yang seharusnya tidak kita lakukan. Nah, sampai saat ini rasanya saya belum menemukan sesuatu yang betul-betul saya minati. Saya mau bertanya : apakah seharusnya saya berhenti mencari dan mulai memutuskan apa minat saya dan mencoba benar-benar mencintainya, atau saya tetap mencari dengan kemungkinan bahwa ketika saya menemukannya saya udah telat banget?”

Pandji yang dengerin pertanyaan saya sambil stretching paha di panggung mendekati mic-nya, bertanya “Namanya Reza kan? Umur kamu berapa?”

“20 tahun ini”

“Seriusan, muka lu gak sesuai ama umur lu”

Sial. Emang sih entah kenapa muka saya terlihat tua banget -_-.

Nah, saya ingin merangkum jawaban Pandji yang menurut saya iya banget.

Saya nggak bisa memutuskan hal itu untuk anda. Saya hanya bisa bercerita tentang dua hal tersebut dan silahkan anda mengambil keputusan sendiri pada akhirnya.

Untuk tetap mencari, itu gak salah. Tau nggak, kenapa logo KFC gambar orang tua lagi senyum? Ya, kalo kolonel Sanders nemuin resep ayamnya lebih cepet, seharusnya logo KFC orang yang lebih muda ,  berambut rada hitem dan gak jenggotan/kumisan. See? Gak salah. Kolonel Sanders juga menemukan hal yang membuat dia benar-benar wah sedikit terlambat. Terlambat banget malah. Tapi emang hal itu membuat dia termasuk orang yang gagal? Kayaknya enggak deh.

Kolonel Sander. Andaikan dia cewek dan lebih muda (?)

Nah, untuk yang mulai berhenti, saya punya cerita inspiratif. Dari tokoh yang saya tau, kalian semua pasti kenal.

Seriusan lu gak tau?

Pak Boediono. Wakil Presiden Republik Indonesia 2009-2014.

Saya pernah mewawancari beliau dan kebetulan dapet kesempatan ngobrol banyak dengan beliau. Saya bertanya kepad beliau, “Sebenernya, apa yang membuat bapak menjadi salah satu ahli ekonomi di Indonesia atau dunia?”

Si Bapak tersenyum ,”Saya nggak tahu”

Saya mikir, “Sungguh luar biasa sekali (sarkastik)”

Saya nanya “Apa yang membuat bapak memutuskan untuk mengambil jurusan Ekonomi saat kuliah?”

Bapak menjawab lagi, “Yah, karena teman-teman saya banyak yang milih jurusan ini hahaha”

Saya mulai mikir lagi, “Wah , Inspiratif sekali ya ”

Singkatnya , Pak Boediono mulai cerita bahwa dulu dia sama sekali gak punya tujuan masuk di jurusan ekonomi. Dia bahkan masuk karena ikut-ikutan doang. Tapi, berhubung dia nothing to lose, dia enak-enak aja belajar ekonomi di UGM. Tapi bukan berarti dia gak serius di sana. Dia belajar dan sekarang dia jadi ahli ekonom di Indonesia.

Dia bahkan bisa sukses di sesuatu yang dulu juga dia gak tau suka atau nggak. Tapi dia kerjain setiap prosesnya dan dia bisa. Saya juga masih gak yakin dia suka ekonomi atau nggak.

Nah, dari dua cerita tadi, saya rasa nggak ada yang salah. Sekarang keputusan ada di anda sendiri. Buat keputusan anda sendiri. Saya tahu anda yang paling tahu apa yang terbaik untuk diri anda.

 

You are a big man. Make your own decision.

Still not making my decision, but I will.

 

Salam.

Ditulis dengan tangan kesemutan. Sial.

Pandji! : 2013 di 2014

Semingguan sebelum tanggal 18 Maret

Fafa tiba-tiba negur dan nanya , “Maneh tau Pandji Pragiwaksono gak?”

Saya bilang,”Taulah coy, si doi inspirasi urang banget. He is my heroes!”

“Minggu depan dia ke ITB loh. Ngisi acara gitu. Ikut yuk!”

HELL YEAH!

Tentu saja saya menyetujui idenya si Fafa. Pandji Pragiwaksono?

Seriusan, saya menganggap dia sebagai salah satu role model saya. Pertama kali kecintaan saya muncul, ketika saya mulai baca blog dia dan baca e-book Nasional-is-me nya. Terus dia makin buat saya jatuh cinta ketika dia pertama kali dia menjadi salah satu orang-orang yang berhasil bawa standup ke Indonesia dan berkarya di sana. Belum lagi lagu-lagu dia yang surprisingly enak juga.

Saya pengen bisa seperti dia. Menginspirasi, punya integritas, teguh sama sesuatu yang ingin ia perjuangkan, dan tau betul apa yang ingin dia lakukan.

Melanjutkan cerita di atas, harus saya majukan ke hari Selasa pekan depannya.

Hari ini, tumben saya datang lumayan cepat ke kampus. Kelas jam 1 dan saya udah standby di sekre jam setengah 1. Tumben. Berhubung saya gak ada kerjaan, saya berniat langsung mau masuk kelas biar bisa ngadem. Di tangga, saya ketemu Joshua.

“Enak banget di Albar tuh, ada acara dari kompas. Sayang si Pandji belum juga keluar”

“LOH? Acaranya hari ini?”

Seriusan, saya dan fajar pikir tanggal 18 Maret itu hari Rabu.

“Iya. Ke sana aja yuk?”

Terus saya pura-pura mikir dan menyetujui. Kurang dari lima menit, kami udah ada di Albar dan…

Pas lagi Pandji yang lagi ngomong.

Acara yang bertanggun jawab terhadap semua ini!

Seneng banget! Perasaan saya waktu itu, kayaknya muka saya merah gitu deh. Antara seneng dan malu akhirnya bisa ketemu sama idola

sebagai peserta seminar.

Tapi seriusan, begini aja saya sudah senang!

Seperti biasa, saya terkagum melihat bagaimana cara Pandji berbagi  wawasan dan pendapat. Begitu enak untuk didengar dan berbobot untuk diserap. Berwawasan namun menghibur.

Ini nih yang paling saya suka dari Pandji. Kalau temen-temen bisa coba liat di youtube standup dia, mungkin gak semuanya bilang dia amat lucu. Tapi saya suka banget dari cara dia mengolah wawasan dia untuk dijadikan sebuah komedi. Meramu fakta dan data menjadi sesuatu yang enak untuk di dengar.

Penonton standup dia terhibur sekaligus tercerdaskan ketika mendengar dia.

Esensi dari standup , yakni untuk ngebuat orang bilang ,”Anjir, iya juga ya” bener-bener dia lakuin.

Standup dia memotivasi saya untuk terus mengembangkan wawasan untuk mendapat materi lebih banyak dan tentunya standup yang lebih serius.

Masuk ke sesi pertanyaan di seminar tersebut.

Dua orang sudah bertanya kepada Pandji.

Pikiran bangsat saya berkata , “Kalau lu ngorbanin sesuatu untuk sesuatu yang lain, pastiin lu dapet sesuatu yang lain itu secara total/full and no regret”

Berbekal dengan kegundahan saya tentan passionlessnya hidup saya dan kontrol emosi saya yang kurang , saya pun mengacungkan tangan dan…

Ditunjuk!

Seneng banget bisa ngomong (nanya -_-) sama dia! Jawaban dia pun sedikit memuaskan, tapi saya seneng banget.

Saya tiba-tiba inget bahwa saya punya impian di tahun 2013 kalau saya harus salaman dengan salah satu tokoh yang saya kagumi (baca : suka saya baca blognya): Pandji, Ernest, Alanda Kariza, atau BenaKribo.

Saya anggap kesempatan bertanya dan dihina (“Seriusan, muka lu gak cocok ama umur lu” – =)) )sama Pandji aja udah saya anggap sebagai “salaman” . I totally make it worth!

Seminar berakhir. Pandji ke luar tempat. Seminar di isi ama MCnya yang mau bagi-bagi doorprize. Saya yang tengah kebelet kencing, meninggalkan tempat sebentar.

Sialan, WC Albarnya ternyata tutup. Saya memutuskan untuk beralih ke WC di bagian ATM center. Saya jalan ke sana dan melihat.

Pandji lagi megang hape jalan ke arah saya.

SHIT!

Dengan gaya sok kenal sok akrab, saya pun menegur dengan ,”Bang Pandji?” (btw, saya punya kebiasaan kalo negur orang biasanya salaman dan nepuk bahu orang. Dan I did that to him! )

“Oh iya, thanks ya za”

Sial. Dia inget nama saya dan…

Saya berhasil salaman sama dia! Emang telat setahun sih, tapi…

Tetep aja seneng!

Pikiran sesaat seneng, lalu berubah kesal ketike berbalik ngehadap dia dan seharusnya tadi bisa lebih dari sekedar “Bang Pandji?” .  Seharusnya saya bisa ngobrol, meski bentar, ngobrol apa gitu blablabla.

Salah satu yang saya sesali selain tidak foto dengan si doi.

Gila. Seneng banget perasaan saya saat itu. Saya dulu sempat heran kenapa orang rela bayar banyak untuk nonton konser. Saya sekarang ngerti. Punya idola dan berharap punya kesempatan bertemu sama dia memang…

Sedikit alay.

Namun, terserah, saya benar-benar kagum padanya dan emang ingin banget jadi orang seperti dia.

 

Sebenarnya saya bingung , saya senang karena ketemu doi atau karena saya somehow berhasil memenuhi salah satu mimpi saya di 2013 meski telat.

Gak tau deh. Yang pasti, saya berhasil bertemu dengan inspirasi saya.

 

Cerita ini ditutup dengan salah satu quote dari Fafa.

“PANDA! KENAPA GAK BILANG ACARA HARI INI?!”

 

Saya ternyata bukan teman yang baik -__-

 

Ditulis dengan kondisi Akbar berkata, “Busted kali awak”