Bridge to Terabithia

Awalnya tau film ini dari 9Gag. Cukup penasaran karena katanya plotnya begitu. Sempet judgemental di awal ketika liat logo disney, “Meh, paling ceritanya menye-menye ala disney, apalagi karakternya smp-an gitu”

Boy, I’ve never been so wrong.

That feeling when you see these happy moments and you just now it gonna end bad.

Masuk list film yang harus gue tonton sendiri. Poin cerita yang paling kena:

  • Hubungan Jess dengan Bapaknya
  • Hubungan Leslie dengan keluarganya
  • Cara pandang Jess (tatapan mata dsb) dan cara dia bersikap juga kena banget <— relevan sama hidupnya

Tentang Muka

Cerita #1

(Di kantor imigrasi, sedang mengambil paspor yang baru jadi)

Bapak Penjaga (BP), Saya (S)

BP : “Nomor 209!”

S : (menghampiri meja pengambilan) “Saya, Pak.”

BP : “Nomor antrian sama bukti pembuatan paspornya, Mas.”

S : (memberikan nomor antrian dan bukti pembuatan paspor) “Ini, Pak”

BP : (mengecek nomor antiran dan bukti) “Sebentar…”

BP : (mengambil paspor dan melihat halaman pertama) “Loh, di sini kok mukanya jelek?” (sambil menekankan jempol pada foto saya di paspor)

S : “Lah, emang aslinya enggak pak?”

BP : “Iya sih.”

S : “HAHAHA” (nangis dalam hati)

Cerita #2

(Di baltos, abis beli bantal dan sarungnya, lalu mau beli sajadah karena cuman satu yang ada di kosan, dan pengen dicuci)

Ibu Penjual (IP), Saya (S)

IP : “Ini sarung bantal sama bantalnya jadi 150.”

S : “Siap, Bu.” (ngeliat sajadah, triggered) “Kalo sajadahnya berapaan, Bu?”

IP : (heran sebentar) “Kamu muslim?”

S : “Iya, Bu, kenapa emang?” (heran juga)

IP : “Oh. Kirain, dari mukanya kayaknya ga pernah shalat.”

S : “HAHAHAHA” (terjemahan = “KAMPRET”)

 

Salam.

What is wrong with my face?

 

Twenty One Pilots – Car Radio

 

I ponder of something great
My lungs will fill and then deflate
They fill with fire
Exhale desire
I know it’s dire
My time today

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

Sometimes quiet is violent
I find it hard to hide it
My pride is no longer inside
It’s on my sleeve
My skin will scream
Reminding me of
Who I killed inside my dream
I hate this car that I’m driving
There’s no hiding for me
I’m forced to deal with what I feel
There is no distraction to mask what is real
I could pull the steering wheel

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

I ponder of something terrifying
‘Cause this time there’s no sound to hide behind
I find over the course of our human existence
One thing consists of consistence
And it’s that we’re all battling fear
Oh dear, I don’t know if we know why we’re here
Oh my,
Too deep
Please stop thinking
I liked it better when my car had sound

There are things we can do
But from the things that work there are only two
And from the two that we choose to do
Peace will win
And fear will lose
There’s faith and there’s sleep
We need to pick one please because
Faith is to be awake
And to be awake is for us to think
And for us to think is to be alive
And I will try with every rhyme
To come across like I am dying
To let you know you need to try to think

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

(Oooh) [x4]

(Oooh) [x6 & repeats in background]
And now I just sit in silence [x2]
And now I just sit

And now I just sit in silence [x3]
And now I just sit

I ponder of something great
My lungs will fill and then deflate
They fill with fire
Exhale desire
I know it’s dire
My time today

I have these thoughts
So often I ought
To replace that slot
With what I once bought
‘Cause somebody stole
My car radio
And now I just sit in silence

 

Saya pertama kali suka Twenty One Pilots karena ikut-ikutan. Lagu Stressed Out dan Heathens nya banyak muncul di rekomendasi youtube. Akhirnya saya penasaran, dan ikut dengerin juga dan ternyata cukup enak.

Berbekal sering muterin dua lagu itu di Youtube, muncul rekomendasi video dari WatchMojo soal Top 10 Best Twenty One Pilots song. Setelah nonton sekilas, ada beberapa yang langsung berkesan seperti Tear in My Heart, Ride (ini udah sering denger, tapi baru ngeh kalo yang nyanyi TOP), House of Gold (dengerin liriknya sekilas, langsung suka dengan ceritanya). Secara mengejutkan, yang muncul sebagai peringkat satu ternyata Car Radio. Saya pikir bakalan Stressed Out karena kayaknya yang paling populer buat orang awam macam saya adalah lagu tersebut.

Berbeda dengan lagu lainnya, saya tertarik dengan Car Radio karena deskripsi narator saat cerita soal lagu ini: tentang kesepian. Saya penasaran, lalu denger lagunya, dan jadi cukup suka. Setelah baca-baca liriknya via Musixmatch, saya langsung kagum dengan lagunya. Penyampaian metafora soal kesepian dengan menceritakan orang yang stres karena mobilnya sepi banget, menurut saya, sangat unik.

Lagunya berkali-kali saya putar sambil sing along, walau ga bisa karena kecepetan.

Tiga hari yang lalu, lagu ini keputer lagi via shuffle di hape. Saya sing along lagi sambil baca liriknya, dan saya mendapat impresi yang berbeda. Lagu ini bukan bercerita soal kesepian. Eh, iya deng. Tapi yang jadi porsi besar dari ceritanya adalah soal car radio nya. Bukan kesepian, tapi objek distraksi yang jadi bahan perbincangan utama. Soal gimana, saat kita sedang tidak distraksi duniawi, pikiran kita melayang ke arah pikiran-pikiran yang sebenarnya kita hindari. Soal hidup, soal tujuan, soal apa yang pingin dicapai. Hal-hal yang sifatnya mengarah ke kontemplatif. Dan saya termasuk benci hal ini.

Beberapa waktu lalu, saya dapat berita yang cukup mengecewakan buat saya. Saya mengabari orang terdekat, mereka terus menyemangati dan bilang “Jangan nyerah ya” (tentu dengan nada dan konten yang lebih bercanda). Saya pikir pesan ini tidak penting karena sebenarnya saya juga tidak peduli amat soal berita ini. Ya udahlah, gimana lagi. Saya pikir saya baik-baik saja.

Tapi kampretnya, saat distraksi duniawi hilang dan pikiran sedang kosong, pikiran saya melayang dan mulai kepikiran lagi soal berita tersebut. Lalu saya menghubungkan hal tersebut dengan beberapa kelakuan aneh yang saya lakukan akhir-akhir ini: beli barang-barang minim fungsi, makan tidak teratur, keinginan untuk berteriak, tidak nyaman dengan banyak hal, perasaan percuma dalam melakukan sesuatu. Saya mulai berpikir kalau ini adalah reaksi saya terhadap berita tersebut. Saya pikir saya baik-baik saja, tapi ternyata bawah sadar saya kecewa berat sehingga bereaksi dengan melakukan hal-hal tersebut.

Kampret.

Mungkin kita memang butuh distraksi. Mungkin kita memang butuh car radio. Mungkin kita memang butuh media sosial untuk berkicau seolah semua biasa saja. Mungkin kita butuh untuk sibuk pada pekerjaan, tertawa pada tontonan serial, bercanda dan mengganggu orang lain, daripada duduk diam dan berpikir soal diri kita. Dan menyadari betapa berbedanya diri kita sekarang dengan diri yang sebenarnya kita inginkan.

Salam.

Njir, ga cocok nulis sok-sok kontemplatif begini.

Unfair Advantage #1

Sedang membaca buku Unfair Advantage (2013) dari Robert Kiyosaki. Buku ini (seharusnya, gatau juga kan belum tamat bacanya :p) bercerita mengenai pendidikan finansial yang tidak diketahui banyak orang.

Poin pertama yang menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai investasi. Dulu, pemahaman saya mengenai investasi adalah soal bagaimana menanam uang di tempat yang membuat nilai uang itu bergerak. Misal beli saham, beli emas, dan punya properti.
Pengertian Kiyosaki sendiri, sebenarnya merubah cara saya memahami investasi. Ternyata, investasi adalah soal pengelolaan uang menjadi sebuah aset. Apa sih aset? Aset adalah objek nilai yang memberikan kita arus kas positif, dengan tidak menghilangkan objek tersebut. Ingat, yang harus didapat adalah arus kas positif, bukan keuntungan modal.

Mari gunakan contoh. Ambil contoh yang saya berikan di awal. Beli emas, pada akhirnya, bukan investasi. Sebab, yang kita lakukan adalah menyimpan emas hingga mencapai nilai tertentu lalu menjualnya. Uang yang kita dapat, merupakan selisih antara nilai jual dengan nilai beli. Ini yang disebut keuntungan modal. Kita mendapat uang, dengan menjual emasnya. Sebenarnya, kalau dipikir, ini bukan investasi, tapi jual beli dengan objek emas. Bukan langkah finansial yang buruk, tapi Kiyosaki tidak merekomendasikan cara ini.

Beli saham dan properti ini sedikit tricky. Kedua langkah ini, bisa jadi investasi ataupun jual beli. Kalau pola pikir kita adalah beli rumah dan saham, karena harganya relatif terus naik, sehingga bisa dijual saat tinggi, kita berarti masih berorientasi pada keuntungan modal.

Investasi, orientasinya adalah arus kas positif tiap periode tertentu. Istilah lainnya, adalah pendapatan pasif. Coba dimulai untuk beli saham dan properti, lalu fokus pada dividen dan biaya sewa. Meski tidak sebesar keuntungan modal, setidaknya, akan ada nilai yang terus dihasilkan dari objek investasi tersebut, tanpa kita harus bekerja.

Hal ini sesuai nih, dengan teori dari Tung Desem Waringin yang bilang, “Kaya itu kondisi dimana pengeluaran pasif kita udah bisa membiayai hidup kita”.

Poin kedua adalah soal belajar. Kata-kata yang paling ngena adalah

Kita hidup di zaman dimana sekolah berubah terlalu lambat untuk mengimbangi dunia yang berubah terlalu cepat.

Kiyosaki menekankan tentang bentuk investasi yang paling caem, yaitu pendidikan. Tapi dia tidak merekomendasikan sekolah karena alasan di atas. Si doi lebih menyarankan kita mengikuti kelas, sertifikasi, atau seminar, misal finansial, bisnis, atau speaking. Ikut kelas begini, bisa jadi sebuah investasi karena kita mendapat nilai tanpa harus kehilangan pengetahuan kita. Anjay.

Saya juga ga ngerti ngerti amat sih soal ini. Mungkin yang punya ilmu lebih bisa lebih menjelaskan?

Salam.

Ga terlalu ngerti, tapi sok sokan nge-share. Emang saya ngincer supaya keliatan keren doang sih.

Terakhir deh buat 2016

Hai. Ini akan jadi tulisan yang banyak topik tapi minim tulisan. Mengeluarkan apa yang mendadak jadi pikiran saya malam ini.

Tentang Resolusi Tahun Baru

Soal resolusi tahun baru ini, jadi pengalaman yang lucu buat saya. Banyak resolusi yang awalnya pengen dicapai di tahun 2013, eh kejadiannya di tahun 2014. Pada akhirnya, resolusi yang saya pengen, tercapai, tapi tidak di tahun yang direncanakan. Mungkin Tuhan punya ceritanya sendiri. Mungkin Tuhan menunda karena menyiapkan kita. Jadi, buat kalian yang merasa “males berencana karena ga kecapai juga”, jangan berhenti berencana. Tulis dan simpan rencana kita, biar Tuhan bisa ngintip-ngintip dikit kita maunya apa. Soal dikasihnya kapan dan gimana, ya biarlah Dia yang menentukan.

Ya, banyak yang protes soal “New Year, New Me” bullshit. Saya sih setuju. Bullshit kalau bilang doang di sosial media. Mending catet sendiri, jadi penginget sendiri aja.

 

Tentang Resolusi Tahun Baru #2

“I finally get the body I want. It’s easy. Turns out, all I have to do is wanting a really-shitty body” – Louis C.K.

Ga tau kenapa. Selama kuliah, selalu ketemu orang yang membuat saya tidak pede bahkan dengan mimpi saya sendiri. Merasa mimpi saya kurang besar. Merasa mimpi saya kurang ideal. Merasa mimpi saya kurang bermanfaat.

Tapi sekarang beda. Makin ke sini makin sadar kalau mimpi itu sifatnya personal. Kalian ga bisa ngejudge orang yang punya mimpi “Pengen jadi orang paling kaya se-Indonesia” dengan bilang “wah, si kampret, mimpinya egois amat”. Bisa jadi dia tumbuh dalam situasi yang penuh ketidakcukupan, dan dia selalu wondering gimana rasanya kaya.

Hahaha. Ga nyambung sama premis awal.

Kata-kata Louis C.K. di atas sebenernya berpengaruh buat saya sih. Soal resolusi. Soal mimpi. Soal target. Izinkan saya bercerita.

Dulu, saat SD/SMP/SMA, cara saya belajar adalah dengan baca, lalu kerjain soalnya. Gimana cara kerjain soalnya? Langsung kerjain yang susah! Biar cepet. Saya yakin kalau saya bisa ngerjain yang susah, yang gampang pasti bisa. Ibaratkan ada 20 soal, saya kerjain 2 soal terakhir, saya langsung menyimpulkan kalau saya bisa, dan bisa move-on ke materi berikutnya.

Makin ke sini, makin nyadar kalau saya ternyata tidak se-spesial itu. Yang terjadi, saat soal yang paling susah, ternyata, ga bisa saya kerjain, saya berhenti dan bilang “Yaudahlah, ga sepenting itu” atau “Yaudahlah ya, mungkin ga bakat di sini”.

Akhirnya menyerah, putus asa, dan cari-cari pembenaran untuk berhenti.

Ngobrol dengan dan kepo kepada banyak orang, akhirnya saya mengerti. Latihan soal diurutin dari yang gampang ke yang susah juga ada alasannya. Dengan berhasil mengerjakan yang gampang, kita bisa jadi lebih pede untuk mengerjakan sesuatu yang sedikit lebih sulit, lalu sedikit lebih sulit, lalu sedikit lebih sulit, dan ternyata sampai ke tahap ternyata — kita bisa ngerjain yang paling sulit!

Inget 3,5, atau 10 second (lupa, sekitar segitulah) rule nya Kimmy Scmidt di Unbreakable.

“Simply, if you can do something for 3 seconds, you can do it again for 3 seconds more.

Sepertinya bakal banyak yang ga setuju, tapi saya percaya kalau terkadang, merendahkan target bisa jadi lebih banyak membantu.

 

Tentang Mencoba Hal Baru

Seperti yang saya ceritain di dua pos sebelumnya, melakukan hal baru mungkin sulit, mungkin membuat kita merasa insecure karena coba melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita. Ada satu kata-kata temen saya (Husain) yang berbekas, saat saya bilang saya malu berenang karena body ini kurang sedap di pandang.

Yah, paling diketawain. Sebentar doang. Kayaknya hidup lu tidak sepenting itu buat orang lain, buat diketawain selamanya.

Intinya, DGAF. Padanan kata di Indonesia nya mungkin “BODO AMAT”. Kalau malu sama orang yang tidak kita kenal, bodo amat, toh kapan lagi sih ketemu mereka. Kalau malu sama orang yang kita kenal, jadiin motivasi. Perasaan paling enak di dunia ini, menurut saya, adalah membuktikan orang lain salah. Yah, ada yang salah ama diri saya emang hahaha.

 

Tentang Serial

Kalau dulu biasanya saya sangat tertarik untuk ngomongin serial, makin ke sini makin kurang tertarik. Soal lucu, udah jarang ada serial yang lucu karena beneran one time funny. Lucunya serial sekarang, seperti harus mengerti serialnya dulu sehingga harus ngikutin semua.

Soal premis yang menarik, serial sekarang biasanya menarik premisnya di dua episode awal, terus tidak ada perkembangan berarti, sampe ending season, dan season finale. Bosan.

Ngga juga deng. Ini perasaan yang muncul karena kurang update aja kali ya.

 

Yah kayanya itu aja sih.

 

Salam.

Marathon F.R.I.E.N.D.S lagi. Dulu merasa kalau saya adalah Chandler, tapi makin ke sini makin merasa seperti Ross.

Idolaqu. Biar ada gambarnya aja sih.

Idolaqu. Biar ada gambarnya aja sih.

 

Cool

Harus saya akui, jokes yang paling gampang adalah jokes yang menghina orang. Termasuk menghina saya sendiri sebenarnya, tapi saya sadar saya juga sering menghina orang lain. Mungkin bukan menghina sih, lebih ke arah mengejek (menghina sepertinya kasar banget). *pembenaran*

Saya ingin bercerita soal pola pikir saya yang dulu super bego sepertinya.

Bukan bermaksud sombong (eh ngga ding, emang pengen sombong), saya bukan termasuk orang yang akan kesulitan untuk menerima pelajaran sekolah dari SD sampai SMA. Dengan modal memperhatikan guru (cieee, perhatian), cobain soal sedikit, rasanya saya sudah punya cukup pengetahuan untuk mengerjakan soal-soal berikutnya, pun, termasuk soal yang levelnya cukup sulit.

Gara-gara kemampuan ini, saya jadi jarang belajar. Dan ini membuat saya sebenarnya “meremehkan” orang yang belajar keras untuk bisa sesuatu. Saya pikir saya berbakat untuk akademik sehingga saya tidak perlu berusaha terlalu keras. Dan saya pikir lagi, orang-orang yang belajar keras ini menyedihkan, karena pada akhirnya mereka juga ga bakal bisa-bisa amat.  Buang-buang waktu.

Saya pikir saya cool, karena bisa tanpa usaha keras.

Masuk kuliah, tahun pertama relatif mudah sebenarnya karena beberapa pelajaran sebenarnya mengulang pelajaran SMA. Cobaan terberat ada di pelajaran DRE, dan akhirnya memang nilai saya tidak terlalu memuaskan. Saya belajar dikit doang, dapat nilai seadanya. Pikiran “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” masih menggantung sehingga saya malas belajar. Saya pikir semua yang saya tahu sudah cukup untuk membantu saya mengerjakan soal ujian. Tapi ternyata engga. Tapi sekali lagi, saya rasa kalau saya butuh usaha keras, saya pikir saya cuman buang-buang waktu. Toh, di jurusan yang saya pilih, *seharusnya* ilmunya tidak dipakai.

Masuk jurusan, saya sebenarnya sudah cukup sadar kalau sebenarnya saya tidak bisa apa-apa. Hahaha. Tapi, sekali lagi, prinsip “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” terlalu melekat ke otak saya. Alhasil, meski ada fasilitas tutor dari himpunan atau diajakin belajar bareng sama teman-teman, saya lebih memilih untuk pulang ke kosan, dan belajar sendiri. Kenapa? Biar teman saya tetap menganggap saya cool, karena saya bisa tanpa terlihat belajar. Saya merasa tidak cool kalau ternyata saya terlihat belajar dan bisa, karena itu wajar. Emang akhirnya bisa? Ga seberapa, tapi lumayan lah. Hahaha.

Saya ga tahu kenapa, tapi makin ke sini, saya makin sadar kalau “saya cool karena saya bisa tanpa usaha” itu sampah. Kalau dulu, saya bakal kagum dengan orang-orang yang “wah si kampret di kelas ga pernah merhatiin tapi jago”. Sekarang, saya jauh lebih respek sama orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa. Orang-orang ini, ga malu, untuk menunjukkan kalau mereka belum bisa dan mereka emang mau untuk bisa. Orang-orang ini tidak merasa insecure ketika orang-orang lain ngetawain usaha mereka. Saya respek itu, karena saya ga selalu pede terhadap apa yang saya kerjain. Apalagi di awal-awal, jelas kelihatan level-amatir kita di bidang yang baru kita mulai. Saya nyaman terlihat bego, tapi tidak untuk terlihat bodoh. (kampret, saya baru nyadar kalau saya se-insecure itu)

Orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa jadi inspirasi saya saat ini. Inspirasi saya, untuk tidak takut terlihat bego saat mulai melakukan sesuatu. Untuk tidak perlu merasa konyol saat mencoba sesuatu. Memang kadang rasanya masih ada, tapi ya, setidaknya saya tidak semalu dulu untuk terlihat emang berusaha keras terhadap sesuatu.

Kalau kalian bingung, apa hubungannya premis paragraf pertama post ini dengan sisanya, saya ingin coba jelasin. Salah satu kebiasaan saya adalah membuat lelucon tentang usaha teman-teman saya yang sedang coba melakukan sesuatu. Misal diet. Atau coba ngomong bahasa lain di percakapan sehari-hari.

Saya dulu tidak sadar, kalau lelucon ini bisa saja mengganggu kepercayaan diri mereka dalam mencoba meraih sesuatu. Saya mulai sadar hal ini saat dulu, saya mengutarakan keinginan untuk nge-gym dan diet. Reaksi umum orang-orang, biasanya,

“Hahahaha, kayaknya ga bakal ngaruh deh Ja”

It’s actually discouraging me.

Make me think “Am I that ridiculous to think this is gonna work?”

Saya ingin belajar untuk tidak lagi merendahkan usaha orang yang sedang berusaha melakukan sesuatu. Entah itu berupa usaha buat diet. Usaha buat ngomong bahasa asing. Atau eksperimen membuat video-video absurd yang sebenarnya garing. Atau usaha main gitar yang suara gitarnya lebih mengganggu dari pada merdu.

Karena ternyata, orang yang berusaha keras sebenernya jauh lebih cool dari pada kita yang sekarang hanya nge-judge tapi ga berani nyobain hal-hal baru.

 

Tapi kalau ngeselin kayaknya tetap saya hina sih.

 

Salam.

Abis baca #JuruBicara-nya @pandji. Gaya nulisnya jadi sok-sokan sama.

Cara Perpanjang Paspor : No. 2 pasti kamu gatau!

wpid-img_20141126_102318

(Sepertinya sudah lama saya tidak ngepos sesuatu yang berguna)

(Life goals: membuat judul post ala ala artikel click bait : done!)

Minggu lalu, saya harus mengganti paspor saya dengan paspor yang baru. Yap, benar sekali. Kebutuhan perpanjang paspor ini muncul karena kebetulan saya kan sering banget pulang pergi ke luar negeri sehingga jatah lembar di paspor sudah habis.

Ga deng. Canda.

Masa berlaku paspor saya akan habis di bulan depan. Kalau dari segi isi, lembarnya masih kosong sih (maap deh saya ga pernah ke luar negeri).

Karena kantor pun meminta data mengenai paspor jika ada, maka saya berpikir untuk menyegerakan perpanjangan paspor. Nah, karena saya memang buta penuh untuk urusan perpanjangan paspor, saya jadi bertanya-tanya dulu kepada teman-teman yang sudah berpengalaman.

1. “Eh, paspor gw  dibuat di Medan, bisa ga ya perpanjang di Bandung aja?”

Sebenarnya teman saya sudah ada yang mengonfirmasi hal ini sebelumnya. Tapi karena teman saya ini susah dibedakan serius atau bercandanya, saya nitip pertanyaan ini kepada teman saya yang kebetulan juga sedang perpanjang paspornya. Dia juga mengonfirmasi bahwa hal ini bisa dilakukan. Oke, berarti saya tidak perlu repot-repot pulang ke Medan buat ngurus hal ini.

2. “Butuh nyiapin apa aja yak?”

Secara umum, standar sih yang harus dipersiapkan. Paspor lama, KTP (btw, saya baru tau dari petugas kalau harus e-KTP), Akta kelahiran atau Ijazah, dan Kartu Keluarga. Nah, yang sedikit buat repot adalah berkas-berkas ini bukan hanya difotokopi, tapi juga harus dibawa aslinya. Jeng jeng. Kalau kasus saya kemarin, yang buat susah adalah kartu keluarga, karena yang megang kartu keluarga asli kan ayah saya (saya belum berkeluarga, if you guys wondering). Yah, akhirnya minta tolong dikirimkan kartu aslinya via kilat JNE. Sempat deg-degan juga sih, soalnya kan ini surat penting yang sebenarnya agak berbahaya kalau sering dipindah-tangankan.

Nah, salah satu kasus yang paling buat kzl waktu perpanjang kemarin adalah kebutuhan berkas tambahan jika kita perpanjang paspor di luar daerah asal paspor asli, yakni surat keterangan yang menjelaskan apa sih yang kita lakukan di daerah perpanjangan. Misal, kalau kasus saya, paspor saya dibuat di Medan dan saya ingin perpanjang di Bandung. Sebenernya kalau saya masih mahasiswa, agak lebih gampang karena hanya perlu menunjukkan KTM. Tapi berhubung KTM harus dibalikin waktu wisuda, saya jadi butuh surat keterangan dari kantor untuk menandakan bahwa saya memang benar bekerja di Bandung.

Gara-gara ga tau soal ini (temen-temen juga ga tau / lupa bilang, plus di web imigrasi juga ga bilang -_-) saya jadi harus mengulang ke kantor imigrasi besoknya. Huft. Telat ke kantor dua kali. Ga deng. Aku kan baik.

3. “Prosedurnya gimana?”

Ada dua jalur pendaftaran: bisa via online atau langsung datang ke kantor imigrasi. Kalau saya kemaren sih lebih pilih daftar online via IPass Imigrasi (saya juga bingung, kenapa ini website dianggap unsecure). Tinggal isi data dengan baik dan benar, lalu bayar ke teller bank. Biaya saya kemarin sih Rp355.000,00. Bukti pembayaran harus dibawa juga waktu datang ke kantor imigrasi.

Setelah bayar, tinggal pilih kapan jadwal buat dateng ke kantor imigrasinya. Kita juga bakalan dikirimin semacam formulir yang harus dibawa ketika dateng ke kantor imigrasinya. Coba perhatiin lagi formulir yang dikirim, soalnya di situ dijelasin apa aja yang harus dibawa ketika dateng.

Sedikit tips, ketika dateng ke kantor imigrasi, usahakan supaya dateng di jam awal. Di hari pertama, saya dateng jam 7 (karena mikir kayaknya juga bakal baru buka jam setengah 8 — ternyata jam 6!), tapi pas dateng ternyata udah rame banget. Besoknya, saya dateng jam 6, dan yah, relatif lebih sepi sih jam segitu.

Waktu di kantor imigrasi, kita harus ngantri dulu sekalian dicek berkasnya, lalu dikasih nomor antrian. Nah, nomor antrian ini beda untuk yang online dan manual, jadi pastiin ke petugasnya bahwa kita daftar via online. Abis itu, tinggal duduk, nunggu, basa-basi sama Bapak/Ibu di mejanya, foto, sidik jari, dan kelar. Paspor bisa diambil 3 hari kerja dengan membawa bukti perpanjangannya.

Tamat.

 

Sudah lama tak menulis dan rasanya bahasa saya jadi sangat garing.