Tentang Muka

Cerita #1

(Di kantor imigrasi, sedang mengambil paspor yang baru jadi)

Bapak Penjaga (BP), Saya (S)

BP : “Nomor 209!”

S : (menghampiri meja pengambilan) “Saya, Pak.”

BP : “Nomor antrian sama bukti pembuatan paspornya, Mas.”

S : (memberikan nomor antrian dan bukti pembuatan paspor) “Ini, Pak”

BP : (mengecek nomor antiran dan bukti) “Sebentar…”

BP : (mengambil paspor dan melihat halaman pertama) “Loh, di sini kok mukanya jelek?” (sambil menekankan jempol pada foto saya di paspor)

S : “Lah, emang aslinya enggak pak?”

BP : “Iya sih.”

S : “HAHAHA” (nangis dalam hati)

Cerita #2

(Di baltos, abis beli bantal dan sarungnya, lalu mau beli sajadah karena cuman satu yang ada di kosan, dan pengen dicuci)

Ibu Penjual (IP), Saya (S)

IP : “Ini sarung bantal sama bantalnya jadi 150.”

S : “Siap, Bu.” (ngeliat sajadah, triggered) “Kalo sajadahnya berapaan, Bu?”

IP : (heran sebentar) “Kamu muslim?”

S : “Iya, Bu, kenapa emang?” (heran juga)

IP : “Oh. Kirain, dari mukanya kayaknya ga pernah shalat.”

S : “HAHAHAHA” (terjemahan = “KAMPRET”)

 

Salam.

What is wrong with my face?

 

Terakhir deh buat 2016

Hai. Ini akan jadi tulisan yang banyak topik tapi minim tulisan. Mengeluarkan apa yang mendadak jadi pikiran saya malam ini.

Tentang Resolusi Tahun Baru

Soal resolusi tahun baru ini, jadi pengalaman yang lucu buat saya. Banyak resolusi yang awalnya pengen dicapai di tahun 2013, eh kejadiannya di tahun 2014. Pada akhirnya, resolusi yang saya pengen, tercapai, tapi tidak di tahun yang direncanakan. Mungkin Tuhan punya ceritanya sendiri. Mungkin Tuhan menunda karena menyiapkan kita. Jadi, buat kalian yang merasa “males berencana karena ga kecapai juga”, jangan berhenti berencana. Tulis dan simpan rencana kita, biar Tuhan bisa ngintip-ngintip dikit kita maunya apa. Soal dikasihnya kapan dan gimana, ya biarlah Dia yang menentukan.

Ya, banyak yang protes soal “New Year, New Me” bullshit. Saya sih setuju. Bullshit kalau bilang doang di sosial media. Mending catet sendiri, jadi penginget sendiri aja.

 

Tentang Resolusi Tahun Baru #2

“I finally get the body I want. It’s easy. Turns out, all I have to do is wanting a really-shitty body” – Louis C.K.

Ga tau kenapa. Selama kuliah, selalu ketemu orang yang membuat saya tidak pede bahkan dengan mimpi saya sendiri. Merasa mimpi saya kurang besar. Merasa mimpi saya kurang ideal. Merasa mimpi saya kurang bermanfaat.

Tapi sekarang beda. Makin ke sini makin sadar kalau mimpi itu sifatnya personal. Kalian ga bisa ngejudge orang yang punya mimpi “Pengen jadi orang paling kaya se-Indonesia” dengan bilang “wah, si kampret, mimpinya egois amat”. Bisa jadi dia tumbuh dalam situasi yang penuh ketidakcukupan, dan dia selalu wondering gimana rasanya kaya.

Hahaha. Ga nyambung sama premis awal.

Kata-kata Louis C.K. di atas sebenernya berpengaruh buat saya sih. Soal resolusi. Soal mimpi. Soal target. Izinkan saya bercerita.

Dulu, saat SD/SMP/SMA, cara saya belajar adalah dengan baca, lalu kerjain soalnya. Gimana cara kerjain soalnya? Langsung kerjain yang susah! Biar cepet. Saya yakin kalau saya bisa ngerjain yang susah, yang gampang pasti bisa. Ibaratkan ada 20 soal, saya kerjain 2 soal terakhir, saya langsung menyimpulkan kalau saya bisa, dan bisa move-on ke materi berikutnya.

Makin ke sini, makin nyadar kalau saya ternyata tidak se-spesial itu. Yang terjadi, saat soal yang paling susah, ternyata, ga bisa saya kerjain, saya berhenti dan bilang “Yaudahlah, ga sepenting itu” atau “Yaudahlah ya, mungkin ga bakat di sini”.

Akhirnya menyerah, putus asa, dan cari-cari pembenaran untuk berhenti.

Ngobrol dengan dan kepo kepada banyak orang, akhirnya saya mengerti. Latihan soal diurutin dari yang gampang ke yang susah juga ada alasannya. Dengan berhasil mengerjakan yang gampang, kita bisa jadi lebih pede untuk mengerjakan sesuatu yang sedikit lebih sulit, lalu sedikit lebih sulit, lalu sedikit lebih sulit, dan ternyata sampai ke tahap ternyata — kita bisa ngerjain yang paling sulit!

Inget 3,5, atau 10 second (lupa, sekitar segitulah) rule nya Kimmy Scmidt di Unbreakable.

“Simply, if you can do something for 3 seconds, you can do it again for 3 seconds more.

Sepertinya bakal banyak yang ga setuju, tapi saya percaya kalau terkadang, merendahkan target bisa jadi lebih banyak membantu.

 

Tentang Mencoba Hal Baru

Seperti yang saya ceritain di dua pos sebelumnya, melakukan hal baru mungkin sulit, mungkin membuat kita merasa insecure karena coba melakukan sesuatu yang di luar kemampuan kita. Ada satu kata-kata temen saya (Husain) yang berbekas, saat saya bilang saya malu berenang karena body ini kurang sedap di pandang.

Yah, paling diketawain. Sebentar doang. Kayaknya hidup lu tidak sepenting itu buat orang lain, buat diketawain selamanya.

Intinya, DGAF. Padanan kata di Indonesia nya mungkin “BODO AMAT”. Kalau malu sama orang yang tidak kita kenal, bodo amat, toh kapan lagi sih ketemu mereka. Kalau malu sama orang yang kita kenal, jadiin motivasi. Perasaan paling enak di dunia ini, menurut saya, adalah membuktikan orang lain salah. Yah, ada yang salah ama diri saya emang hahaha.

 

Tentang Serial

Kalau dulu biasanya saya sangat tertarik untuk ngomongin serial, makin ke sini makin kurang tertarik. Soal lucu, udah jarang ada serial yang lucu karena beneran one time funny. Lucunya serial sekarang, seperti harus mengerti serialnya dulu sehingga harus ngikutin semua.

Soal premis yang menarik, serial sekarang biasanya menarik premisnya di dua episode awal, terus tidak ada perkembangan berarti, sampe ending season, dan season finale. Bosan.

Ngga juga deng. Ini perasaan yang muncul karena kurang update aja kali ya.

 

Yah kayanya itu aja sih.

 

Salam.

Marathon F.R.I.E.N.D.S lagi. Dulu merasa kalau saya adalah Chandler, tapi makin ke sini makin merasa seperti Ross.

Idolaqu. Biar ada gambarnya aja sih.

Idolaqu. Biar ada gambarnya aja sih.

 

Cool

Harus saya akui, jokes yang paling gampang adalah jokes yang menghina orang. Termasuk menghina saya sendiri sebenarnya, tapi saya sadar saya juga sering menghina orang lain. Mungkin bukan menghina sih, lebih ke arah mengejek (menghina sepertinya kasar banget). *pembenaran*

Saya ingin bercerita soal pola pikir saya yang dulu super bego sepertinya.

Bukan bermaksud sombong (eh ngga ding, emang pengen sombong), saya bukan termasuk orang yang akan kesulitan untuk menerima pelajaran sekolah dari SD sampai SMA. Dengan modal memperhatikan guru (cieee, perhatian), cobain soal sedikit, rasanya saya sudah punya cukup pengetahuan untuk mengerjakan soal-soal berikutnya, pun, termasuk soal yang levelnya cukup sulit.

Gara-gara kemampuan ini, saya jadi jarang belajar. Dan ini membuat saya sebenarnya “meremehkan” orang yang belajar keras untuk bisa sesuatu. Saya pikir saya berbakat untuk akademik sehingga saya tidak perlu berusaha terlalu keras. Dan saya pikir lagi, orang-orang yang belajar keras ini menyedihkan, karena pada akhirnya mereka juga ga bakal bisa-bisa amat.  Buang-buang waktu.

Saya pikir saya cool, karena bisa tanpa usaha keras.

Masuk kuliah, tahun pertama relatif mudah sebenarnya karena beberapa pelajaran sebenarnya mengulang pelajaran SMA. Cobaan terberat ada di pelajaran DRE, dan akhirnya memang nilai saya tidak terlalu memuaskan. Saya belajar dikit doang, dapat nilai seadanya. Pikiran “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” masih menggantung sehingga saya malas belajar. Saya pikir semua yang saya tahu sudah cukup untuk membantu saya mengerjakan soal ujian. Tapi ternyata engga. Tapi sekali lagi, saya rasa kalau saya butuh usaha keras, saya pikir saya cuman buang-buang waktu. Toh, di jurusan yang saya pilih, *seharusnya* ilmunya tidak dipakai.

Masuk jurusan, saya sebenarnya sudah cukup sadar kalau sebenarnya saya tidak bisa apa-apa. Hahaha. Tapi, sekali lagi, prinsip “saya cool karena bisa tanpa usaha keras” terlalu melekat ke otak saya. Alhasil, meski ada fasilitas tutor dari himpunan atau diajakin belajar bareng sama teman-teman, saya lebih memilih untuk pulang ke kosan, dan belajar sendiri. Kenapa? Biar teman saya tetap menganggap saya cool, karena saya bisa tanpa terlihat belajar. Saya merasa tidak cool kalau ternyata saya terlihat belajar dan bisa, karena itu wajar. Emang akhirnya bisa? Ga seberapa, tapi lumayan lah. Hahaha.

Saya ga tahu kenapa, tapi makin ke sini, saya makin sadar kalau “saya cool karena saya bisa tanpa usaha” itu sampah. Kalau dulu, saya bakal kagum dengan orang-orang yang “wah si kampret di kelas ga pernah merhatiin tapi jago”. Sekarang, saya jauh lebih respek sama orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa. Orang-orang ini, ga malu, untuk menunjukkan kalau mereka belum bisa dan mereka emang mau untuk bisa. Orang-orang ini tidak merasa insecure ketika orang-orang lain ngetawain usaha mereka. Saya respek itu, karena saya ga selalu pede terhadap apa yang saya kerjain. Apalagi di awal-awal, jelas kelihatan level-amatir kita di bidang yang baru kita mulai. Saya nyaman terlihat bego, tapi tidak untuk terlihat bodoh. (kampret, saya baru nyadar kalau saya se-insecure itu)

Orang -orang yang beneran usaha keras dan akhirnya bisa jadi inspirasi saya saat ini. Inspirasi saya, untuk tidak takut terlihat bego saat mulai melakukan sesuatu. Untuk tidak perlu merasa konyol saat mencoba sesuatu. Memang kadang rasanya masih ada, tapi ya, setidaknya saya tidak semalu dulu untuk terlihat emang berusaha keras terhadap sesuatu.

Kalau kalian bingung, apa hubungannya premis paragraf pertama post ini dengan sisanya, saya ingin coba jelasin. Salah satu kebiasaan saya adalah membuat lelucon tentang usaha teman-teman saya yang sedang coba melakukan sesuatu. Misal diet. Atau coba ngomong bahasa lain di percakapan sehari-hari.

Saya dulu tidak sadar, kalau lelucon ini bisa saja mengganggu kepercayaan diri mereka dalam mencoba meraih sesuatu. Saya mulai sadar hal ini saat dulu, saya mengutarakan keinginan untuk nge-gym dan diet. Reaksi umum orang-orang, biasanya,

“Hahahaha, kayaknya ga bakal ngaruh deh Ja”

It’s actually discouraging me.

Make me think “Am I that ridiculous to think this is gonna work?”

Saya ingin belajar untuk tidak lagi merendahkan usaha orang yang sedang berusaha melakukan sesuatu. Entah itu berupa usaha buat diet. Usaha buat ngomong bahasa asing. Atau eksperimen membuat video-video absurd yang sebenarnya garing. Atau usaha main gitar yang suara gitarnya lebih mengganggu dari pada merdu.

Karena ternyata, orang yang berusaha keras sebenernya jauh lebih cool dari pada kita yang sekarang hanya nge-judge tapi ga berani nyobain hal-hal baru.

 

Tapi kalau ngeselin kayaknya tetap saya hina sih.

 

Salam.

Abis baca #JuruBicara-nya @pandji. Gaya nulisnya jadi sok-sokan sama.

About Song

I think that’s what great about a song. Everybody has their own perception about it. (Brian May, asked about the meaning of Bohemian Rhapsody)

There are three qualities in songs that I always try to examine everytime I found an interesting song (not necessarily good) : music, lyrics, and video. 

Sometimes I like a song, just because it has an exceptional music video, e.g. No Surprise from Radiohead. Or exceptional lyrics/story, e.g Space Oddity from David Bowie. But, often, it begins with same thing: the music. If I found the music quite good, I tried to read the lyrics and watch the music video. 

I like to find the meaning of a song based on its lyric or music video. I really like an ambigous or confusing one: it makes me think it has a not-so clear message, and I deserve to have my own perception about that song.

For instance, I didn’t catch what this part means in Everybody’s Changing from Keane.

Everybody’s changing, and I don’t feel the same.

Which situation do you think represented by that part?

A. Everybody, including myself, is changing. Hence, I don’t feel the same (like the way I used to).

B. Everybody else is changing. But I don’t. (And I’m asking WHY?)
I don’t know the right answer (I like to think there isn’t!), but most people I’ve asked told me it’s an A situation, based on the full lyric. 

I chose to believe it’s a B situation. I feel like the way Keane sing it, they feel confused. The music video is only a collection of concert, so it’s not helping.

Other instance I found, is With or Without You by U2. At first, I thought this song is about love. I thought the “I can’t live with or without you” is a common phrase to tell somebody how important he/she is to you.

But, I found a quite deep-perception by someone on quora (and somehow I agreed with him!):

It’s about everything you love, but destroying you. Drug addiction, abusive lover, your beliefs about God, etc.

Whoa. This is just another level.

Final instance, Yellow from Coldplay. What do you think represented by Yellow?

Me and my friends have some perceptions. It may represent a beautiful sunset, so the song basically compare how beautiful a woman, just like that beautiful scenery. It may represent Asian girl. Or, It may represent whatever Yellow colors represent.

I have reviewed some exciting song to discuss (at least for me). However there are some instances where I tend not to like the song because how straight forward or cliche the lyric is.

Whenever you will go by The Calling is one of them. First time I listened the song, I really like the music, but once I read the lyrics, I felt it’s a plain song. Still good for karaoke though.


Do you have a unique perception about particular song or song that you’ll never know the meaning?