Unfair Advantage #1

Sedang membaca buku Unfair Advantage (2013) dari Robert Kiyosaki. Buku ini (seharusnya, gatau juga kan belum tamat bacanya :p) bercerita mengenai pendidikan finansial yang tidak diketahui banyak orang.

Poin pertama yang menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai investasi. Dulu, pemahaman saya mengenai investasi adalah soal bagaimana menanam uang di tempat yang membuat nilai uang itu bergerak. Misal beli saham, beli emas, dan punya properti.
Pengertian Kiyosaki sendiri, sebenarnya merubah cara saya memahami investasi. Ternyata, investasi adalah soal pengelolaan uang menjadi sebuah aset. Apa sih aset? Aset adalah objek nilai yang memberikan kita arus kas positif, dengan tidak menghilangkan objek tersebut. Ingat, yang harus didapat adalah arus kas positif, bukan keuntungan modal.

Mari gunakan contoh. Ambil contoh yang saya berikan di awal. Beli emas, pada akhirnya, bukan investasi. Sebab, yang kita lakukan adalah menyimpan emas hingga mencapai nilai tertentu lalu menjualnya. Uang yang kita dapat, merupakan selisih antara nilai jual dengan nilai beli. Ini yang disebut keuntungan modal. Kita mendapat uang, dengan menjual emasnya. Sebenarnya, kalau dipikir, ini bukan investasi, tapi jual beli dengan objek emas. Bukan langkah finansial yang buruk, tapi Kiyosaki tidak merekomendasikan cara ini.

Beli saham dan properti ini sedikit tricky. Kedua langkah ini, bisa jadi investasi ataupun jual beli. Kalau pola pikir kita adalah beli rumah dan saham, karena harganya relatif terus naik, sehingga bisa dijual saat tinggi, kita berarti masih berorientasi pada keuntungan modal.

Investasi, orientasinya adalah arus kas positif tiap periode tertentu. Istilah lainnya, adalah pendapatan pasif. Coba dimulai untuk beli saham dan properti, lalu fokus pada dividen dan biaya sewa. Meski tidak sebesar keuntungan modal, setidaknya, akan ada nilai yang terus dihasilkan dari objek investasi tersebut, tanpa kita harus bekerja.

Hal ini sesuai nih, dengan teori dari Tung Desem Waringin yang bilang, “Kaya itu kondisi dimana pengeluaran pasif kita udah bisa membiayai hidup kita”.

Poin kedua adalah soal belajar. Kata-kata yang paling ngena adalah

Kita hidup di zaman dimana sekolah berubah terlalu lambat untuk mengimbangi dunia yang berubah terlalu cepat.

Kiyosaki menekankan tentang bentuk investasi yang paling caem, yaitu pendidikan. Tapi dia tidak merekomendasikan sekolah karena alasan di atas. Si doi lebih menyarankan kita mengikuti kelas, sertifikasi, atau seminar, misal finansial, bisnis, atau speaking. Ikut kelas begini, bisa jadi sebuah investasi karena kita mendapat nilai tanpa harus kehilangan pengetahuan kita. Anjay.

Saya juga ga ngerti ngerti amat sih soal ini. Mungkin yang punya ilmu lebih bisa lebih menjelaskan?

Salam.

Ga terlalu ngerti, tapi sok sokan nge-share. Emang saya ngincer supaya keliatan keren doang sih.

Youtube : The Lonely Island (18+)

( Youtube adalah seri di blog ini, yang khusus membahas video atau channel di youtube. Mungkin bisa jadi masukan buat kalian yang sedang bosan. Tapi sebenarnya, tulisan-tulisannya dibuat hanya untuk pembenaran atas waktu yang saya habis untuk youtube-an. “kan entar gw buat reviewnya” )

Setelah membahas Jimmy Fallon, Watch Mojo, dan Clueless Gamer , saya ingin meracuni kalian lagi dengan tontonan yang tidak kalah tidak ada manfaatnya. Channelnya The Lonely Island !

Yang terkenal cuman si Andy Samberg mungkin.

Yang terkenal cuman si Andy Samberg mungkin.

 

Btw, sebelumnya, disclaimer, karena sebenarnya channel mereka jarang update. Tapi kontennya banyak. Dulu sering update ketika Andy Samberg (Brooklyn Nine-Nine) masih di SNL, atau saat mereka ngeluarin album baru. Tapi, saya subscribe sih. I don’t know what to expect, though.

Okay!

Kenapa saya suka dengan grup musik ini? Sama dengan alasan saya suka pada banyak hal — LUCU! Hahaha. Lucu funny, bukan cute. Dan, lucunya mungkin ga buat semua orang, karena beberapa lirik sebenarnya sampah (sampah-sampah lucu) dan vulgar.

Musik mereka oke. Lirik-liriknya dalem. Mereka punya lagu yang lucu, tapi bukan tipikal lagu yang sekali denger. Kalau kalian tahu, ” What does the Fox say? ” adalah contoh lagu yang lucu, tapi bukan untuk didengerin terus-terusan.

Sejujurnya, saya kehabisan kata sebenarnya untuk cerita soal mereka. Mending kalian tonton aja video-video ini. Video-video ini selalu saya pakai untuk mengenalkan musik mereka ke orang-orang haha. Dari hasil eksperimen, 6 orang mengaku lagu-lagunya lucu, 2 orang tidak, 1 orang bilang ada yang ga beres sama otak saya.

(For funny stuff, please listen the song while reading the lyrics!)

Level-1 Incredible Thought (relatif cocok buat semua orang hahaha)

Mungkin yang ini ga terlalu lucu. Tapi liriknya lumayan dalem. Kalau Michael Bolton, yang lucu yang ini

Kalau kalian kurang ngerti lucunya dimana, coba sambil perhatiin liriknya deh :)))

Kalau tetep ga lucu………. Cobain video kedua deh.

 

Level 2 – Mona Lisa (Explicit Words, But Not Vulgar)

Right?

Saya termasuk orang yang sebenarnya tidak terlalu ngerti dengan keindahan mona lisa. Lagu ini, meski eksplisit, seperti ngajak kita untuk mendobrak pikiran-pikiran umum orang banyak. Kita ga perlu setuju dengan pendapat orang banyak.

Ga deng.

Level 3 – F Off (Explicit, Vulgar)

Nah, kalau ini, jangan lihat murni sebagai lagu doang, tapi sebagai kritik.

Kalau kalian perhatiin lirik dan video klipnya, lagu ini sebenarnya kritik untuk dua hal : idola dan anak-anak remaja (di lagu di bilang di USA, tapi kayaknya berlaku global deh). Buat idola, lagu ini sebenarnya memparodikan musisi-musisi yang merasa gaya hidup mereka adalah panutan yang layak ditiru. Musisi-musisi yang nyisipin kata-kata “be good to each other, peace” di lagu mereka, tapi dari hidup mereka sendiri urak-urakan dan seenaknya. Anak-anak remaja di kritik di bagian

“Because we are the kids in the USA
We think for ourselves, so get the fuck out our way”

 

Level-4 Finest Girl (Bin Laden Song)

Lagu ini ……………. terlalu vulgar, ampe saya ga tega buat masukin di sini. Menurut saya sih lucu, tapi sepertinya tidak untuk semua orang. Lucunya lagu ini adalah cara dia membuat perumpamaan yang absurd abis.

Kalau kalian penasaran, cobain aja cari video lainnya hahaha. Beberapa elemen lucu, biasanya juga bisa karena elemen video klipnya, misal kayak video Shy Ronnie.

 

Seriusan, kayaknya bakal banyak yang ngejudge saya aneh-aneh abis melihat post ini.

Hahaha.

 

Salam.

Btw, lagu-lagu mereka ada di karaoke ternama di Indonesia loh.

Cara Perpanjang Paspor : No. 2 pasti kamu gatau!

wpid-img_20141126_102318

(Sepertinya sudah lama saya tidak ngepos sesuatu yang berguna)

(Life goals: membuat judul post ala ala artikel click bait : done!)

Minggu lalu, saya harus mengganti paspor saya dengan paspor yang baru. Yap, benar sekali. Kebutuhan perpanjang paspor ini muncul karena kebetulan saya kan sering banget pulang pergi ke luar negeri sehingga jatah lembar di paspor sudah habis.

Ga deng. Canda.

Masa berlaku paspor saya akan habis di bulan depan. Kalau dari segi isi, lembarnya masih kosong sih (maap deh saya ga pernah ke luar negeri).

Karena kantor pun meminta data mengenai paspor jika ada, maka saya berpikir untuk menyegerakan perpanjangan paspor. Nah, karena saya memang buta penuh untuk urusan perpanjangan paspor, saya jadi bertanya-tanya dulu kepada teman-teman yang sudah berpengalaman.

1. “Eh, paspor gw  dibuat di Medan, bisa ga ya perpanjang di Bandung aja?”

Sebenarnya teman saya sudah ada yang mengonfirmasi hal ini sebelumnya. Tapi karena teman saya ini susah dibedakan serius atau bercandanya, saya nitip pertanyaan ini kepada teman saya yang kebetulan juga sedang perpanjang paspornya. Dia juga mengonfirmasi bahwa hal ini bisa dilakukan. Oke, berarti saya tidak perlu repot-repot pulang ke Medan buat ngurus hal ini.

2. “Butuh nyiapin apa aja yak?”

Secara umum, standar sih yang harus dipersiapkan. Paspor lama, KTP (btw, saya baru tau dari petugas kalau harus e-KTP), Akta kelahiran atau Ijazah, dan Kartu Keluarga. Nah, yang sedikit buat repot adalah berkas-berkas ini bukan hanya difotokopi, tapi juga harus dibawa aslinya. Jeng jeng. Kalau kasus saya kemarin, yang buat susah adalah kartu keluarga, karena yang megang kartu keluarga asli kan ayah saya (saya belum berkeluarga, if you guys wondering). Yah, akhirnya minta tolong dikirimkan kartu aslinya via kilat JNE. Sempat deg-degan juga sih, soalnya kan ini surat penting yang sebenarnya agak berbahaya kalau sering dipindah-tangankan.

Nah, salah satu kasus yang paling buat kzl waktu perpanjang kemarin adalah kebutuhan berkas tambahan jika kita perpanjang paspor di luar daerah asal paspor asli, yakni surat keterangan yang menjelaskan apa sih yang kita lakukan di daerah perpanjangan. Misal, kalau kasus saya, paspor saya dibuat di Medan dan saya ingin perpanjang di Bandung. Sebenernya kalau saya masih mahasiswa, agak lebih gampang karena hanya perlu menunjukkan KTM. Tapi berhubung KTM harus dibalikin waktu wisuda, saya jadi butuh surat keterangan dari kantor untuk menandakan bahwa saya memang benar bekerja di Bandung.

Gara-gara ga tau soal ini (temen-temen juga ga tau / lupa bilang, plus di web imigrasi juga ga bilang -_-) saya jadi harus mengulang ke kantor imigrasi besoknya. Huft. Telat ke kantor dua kali. Ga deng. Aku kan baik.

3. “Prosedurnya gimana?”

Ada dua jalur pendaftaran: bisa via online atau langsung datang ke kantor imigrasi. Kalau saya kemaren sih lebih pilih daftar online via IPass Imigrasi (saya juga bingung, kenapa ini website dianggap unsecure). Tinggal isi data dengan baik dan benar, lalu bayar ke teller bank. Biaya saya kemarin sih Rp355.000,00. Bukti pembayaran harus dibawa juga waktu datang ke kantor imigrasi.

Setelah bayar, tinggal pilih kapan jadwal buat dateng ke kantor imigrasinya. Kita juga bakalan dikirimin semacam formulir yang harus dibawa ketika dateng ke kantor imigrasinya. Coba perhatiin lagi formulir yang dikirim, soalnya di situ dijelasin apa aja yang harus dibawa ketika dateng.

Sedikit tips, ketika dateng ke kantor imigrasi, usahakan supaya dateng di jam awal. Di hari pertama, saya dateng jam 7 (karena mikir kayaknya juga bakal baru buka jam setengah 8 — ternyata jam 6!), tapi pas dateng ternyata udah rame banget. Besoknya, saya dateng jam 6, dan yah, relatif lebih sepi sih jam segitu.

Waktu di kantor imigrasi, kita harus ngantri dulu sekalian dicek berkasnya, lalu dikasih nomor antrian. Nah, nomor antrian ini beda untuk yang online dan manual, jadi pastiin ke petugasnya bahwa kita daftar via online. Abis itu, tinggal duduk, nunggu, basa-basi sama Bapak/Ibu di mejanya, foto, sidik jari, dan kelar. Paspor bisa diambil 3 hari kerja dengan membawa bukti perpanjangannya.

Tamat.

 

Sudah lama tak menulis dan rasanya bahasa saya jadi sangat garing.

 

 

About Song

I think that’s what great about a song. Everybody has their own perception about it. (Brian May, asked about the meaning of Bohemian Rhapsody)

There are three qualities in songs that I always try to examine everytime I found an interesting song (not necessarily good) : music, lyrics, and video. 

Sometimes I like a song, just because it has an exceptional music video, e.g. No Surprise from Radiohead. Or exceptional lyrics/story, e.g Space Oddity from David Bowie. But, often, it begins with same thing: the music. If I found the music quite good, I tried to read the lyrics and watch the music video. 

I like to find the meaning of a song based on its lyric or music video. I really like an ambigous or confusing one: it makes me think it has a not-so clear message, and I deserve to have my own perception about that song.

For instance, I didn’t catch what this part means in Everybody’s Changing from Keane.

Everybody’s changing, and I don’t feel the same.

Which situation do you think represented by that part?

A. Everybody, including myself, is changing. Hence, I don’t feel the same (like the way I used to).

B. Everybody else is changing. But I don’t. (And I’m asking WHY?)
I don’t know the right answer (I like to think there isn’t!), but most people I’ve asked told me it’s an A situation, based on the full lyric. 

I chose to believe it’s a B situation. I feel like the way Keane sing it, they feel confused. The music video is only a collection of concert, so it’s not helping.

Other instance I found, is With or Without You by U2. At first, I thought this song is about love. I thought the “I can’t live with or without you” is a common phrase to tell somebody how important he/she is to you.

But, I found a quite deep-perception by someone on quora (and somehow I agreed with him!):

It’s about everything you love, but destroying you. Drug addiction, abusive lover, your beliefs about God, etc.

Whoa. This is just another level.

Final instance, Yellow from Coldplay. What do you think represented by Yellow?

Me and my friends have some perceptions. It may represent a beautiful sunset, so the song basically compare how beautiful a woman, just like that beautiful scenery. It may represent Asian girl. Or, It may represent whatever Yellow colors represent.

I have reviewed some exciting song to discuss (at least for me). However there are some instances where I tend not to like the song because how straight forward or cliche the lyric is.

Whenever you will go by The Calling is one of them. First time I listened the song, I really like the music, but once I read the lyrics, I felt it’s a plain song. Still good for karaoke though.


Do you have a unique perception about particular song or song that you’ll never know the meaning?

Youtube : #SepikSepik ala Joshua Suherman

Youtube adalah kategori di blog saya, yang akan berisi seputar ulasan ringan saya soal video atau channel yang ada di youtube. Mudah-mudahan bisa jadi alternatif tontonan buat kalian kalo lagi bosen :p

Halo semua!

Kali ini saya bakal ngulas salah satu kategori di youtube-nya Joshua Suherman . Kategorinya dinamain #SepikSepik. #SepikSepik dari Joshua berisi  dia lagi ngewawancarain orang. Wawancaranya santai, ala-ala talkshow gitu mungkin lebih tepatnya.

TLDR ; Formatnya wawancara, wawancara anti-mainstream, kategori menarik tapi channel secara keseluruhan belum direkomendasiin buat disubscribe

Untuk video youtube format talkshow atau wawancara, #SepikSepik Joshua bukan satu-satunya. Ada video-video serupa yang dibuat oleh Soleh Solihun, atau sebenernya Highlight dari acara Talkshow (Tonight Show Net TV, misalnya) juga bisa dimasukkin ke kategori macam ini. Cuman, kategori #SepikSepik (cape dah nulisnya musti pake hashtag) punya beberapa nilai plus yang membuat saya lebih ngerekomendasiin video-videonya.

(Update: ternyata ga semua video #SepikSepik sifatnya kayak yang di bawah ini, tapi yah, gitulah <– males ubah konten)

1. Punya Konten

Ini yang menurut saya beda dari #SepikSepik. Wawancara yang dilakukan, biasanya punya konten. Konten yang saya maksud di sini adalah, punya nilai tambah soal pengetahuan atau wawasan yang bisa didapetin oleh penonton. Sebagai pembanding, menurut saya pribadi, contoh wawancara yang dilakukan oleh Soleh Solihun dan Tonight Show adalah wawancara yang sifatnya hanya untuk menghibur — tidak dirancang untuk memberi wawasan baru buat penontonnya. Nggak salah sih, cuman kalau memang untuk tontonan yang sifatnya “tidak hanya buang-buang waktu” (pembenaran sih, nonton youtube emang biasanya buat buang-buang waktu hahaha), #SepikSepik mungkin bisa jadi alternatif.

2. Bukan Wawancara “Yaelah”

Pernah ga sih, kalian ngedengerin isi wawancara yang “itu lagi, itu lagi?”. Mudahnya, wawancara yang kalian sebenernya udah pernah denger, atau bahkan udah pernah baca artikelnya di mana gitu. Hal ini –setidaknya dari 3 video yang saya tonton– tidak dilakukan oleh Joshua. Dan hebatnya, beberapa pertanyaan yang dia tanyain, adalah pertanyaan yang kadang saya juga penasaran.

Contoh kasusnya, #SepikSepik yang edisi Raditya Dika.

Beberapa waktu lalu, (kayaknya) sempet heboh soal youtube yang kontennya kebanyakan sifatnya terlalu bebas (konten atau kata-kata yang diberikan terlalu vulgar, contoh, banyak youtuber yang ngomong anj***, f**k, dll). Alasan youtuber yang biasanya begini : mereka ingin tampil apa adanya, tidak perlu ada perbedaan antara mereka di dunia asli dan di youtube. Hal ini yang membuat saya penasaran pada Raditya Dika. Bisa dilihat, dari sejumlah Vlog yang dia publish, rasanya kontennya “bersih”. “Bersih” dalam artian bersih dari kata-kata kasar (yang mana, dalam lingkaran pergaulan saya, kata-kata kasar begini sebenernya udah “biasa aja”) dan bersih dari pengaruh apapun : kecenderungan Raditya Dika terhadap sebuah isu (dukung siapa pemilu? menurut lu, kejadian/fenomena A gimana? ) juga ga pernah ditampilin. Raditya Dika rasanya cenderung menampilkan konten yang non-divisive (mengundang perdebatan).

Hal ini, Joshua tanyakan di edisi #SepikSepik, dan membuat saya cukup paham soal kenapa Raditya Dika memilih untuk “bersih”.

 

3. Observasi

Ini yang saya cukup salut. Dan mungkin ada hubungannya dengan poin nomor dua. Pertanyaan oleh Joshua, muncul dari observasi dia terhadap orang tersebut. Contohnya, ini menurut saya cukup menarik dan saya baru sadar hahaha, pertanyaan dia ke Pandji soal kenapa Pandji selalu pilek saat sedang tur standup.

 

Kurang lebih, begitu sih kenapa saya cukup suka dengan #SepikSepik. Untuk channel Joshua sendiri, saya belum punya alasan khusus untuk subscribe. #DiaryJojo yang kurang lebih berisi Vlog dari Joshua belum punya konten khas yang membuat channel ini layak di-subscribe.

 

Walaupun saya subscribe sih.

 

Kemakan Iklan : Bon Cabe

(Tulisan ini tidak disponsori oleh Bon Cabe. Tapi kalo si doi berminat, saya sih terima-terima aja.)

Bulan puasa telah berakhir. Di akhir-akhir bulan puasa, Ibu memberi secercah nasihat, selain untuk memperbanyak ibadah : siapin makanan buat menjelang dan sesaat sesudah lebaran. Iya juga, tahun ini kedua kali-nya saya nggak pulang ke kampung halaman. Tahun lalu, meskipun tidak pulang, saya sempat untuk menginap di rumah paman dan sepupu saya, sehingga kondisi perut terjaga. Tahun ini, rasanya memang harus lebih bersiap-siap.

Hal-hal yang akhirnya saya stok di kosan:

  1. Indomie berbagai rasa, yang akhirnya hanya membuat kecewa karena sejatinya indomie terenak hanyalah indomie yang di-ilustrasi-kan pada gambar 1.
  2. Energen, minuman dan makanan bergizi, yang sepertinya porsi kemasannya bertambah semenjak terakhir saya beli.
  3. Rendang, karena Rendang wajib disajikan pada hari lebaran. Sendirian bukan alasan. Harus ada rendang.
  4. Bon Cabe. Ini ada ceritanya.

Gambar 1. Rasanya memang standar. Tapi tidak pernah mengecawakan lidah.

Kegiatan saya terfavorit di bulan puasa, selain tidur, adalah nonton youtube. Youtube sekarang begitu berwarna dan punya banyak konten yang sepertinya tidak akan habis-habis. Kalau di Indonesia, sekarang lagi ngetren yang namanya Vlog alias Video Blog alias Video Web Log. Vlog itu umumnya berisi tentang kehidupan sehari-hari pemilik vlog tersebut.

Dan saya demen nontonin vlog orang. Emang dasarnya kepo, dulu rajin baca blog orang, sekarang rajin juga nonton vlog orang. Alasan saya kepo  nonton vlog orang sih biasanya berkutat pada : lucu, ada manfaatnya (sering share soal bidang yang dia tekuni, misal videografi [Aulion contohnya], Per-film-an [Raditya Dika, soal Koala Kumal yang hadir di bioskop Indonesia pada 5 Juli 2016 **keseringan nonton vlognya**], plus yang menarik lagi, soal animasi [bersama Ryan Adriandhy]), dll), ketagihan (saya ga tahu kenapa saya demen liatin beberapa vlog yang isinya pacaran atau persiapan nikah doang -_- <– ini namanya kepo).

Dari sharing Radit bareng Ryan, saya ngerti kenapa Kartun itu gambarnya sederhana tapi mulus, sementara Anime itu gambarnya detail tapi patah-patah. Ada di kompromi kualitas detail dan fps ternyata! #Penting #BisaDijadiinFunFactYangDibilangSamaGebetanBiarKeliatanPinter #GakPunyaGebetan #sedih 😦

Nah, suatu hari saya menonton videonya Aulion yang ini. Dia bercerita soal bagaimana sukanya dia dengan sebuah produk yang namanya Bon Cabe. Katanya sih, pedesnya nikmat, dan cocok buat dipake dimana aja, termasuk dicampurin ke nasi putih doang!

Bon Cabe level 15. Ada level 10, dan level 3 juga katanya.

Mengingat nasihat Ibu untuk menyetok makanan sebelum lebaran, saya jadi tertarik buat mencoba Bon Cabe ini. Ternyata, mudah didapatkan di Indomaret terdekat.

Saya pun coba beli yang level 10 dan level 15. Tingkat kepedasannya sih kurang lebih begini : level 10 itu level pedasnya kalau kalian pesan nasi goreng paling pedas. Level 15… ya dikira-kiralah pedesnya seberapa.

Buka puasa hari ke-28, saya coba beli nasi goreng di sekitar kosan. Jujur saja, selama di Bandung saya belum pernah ketemu nasi gorang yang enak (definisi : rasanya sesuai yang biasanya dibuatin Ibu saya). Nasi goreng yang saya beli pun biasa saja. Lalu ketika saya tambahkan bon cabe secukupnya… rasanya jadi enak! Saya pun jadi doyan makan nasi gorengnya.

Bon Cabe juga saya coba di makanan-makanan lain : Nasi Padang, Nasi Putih doang, dan Mie Goreng. Bon Cabe memang menambah tingkat kepedasan dan, kalau bagi saya otomatis menambah, tingkat keenakan. Hahaha.

Sepertinya Bon Cabe bakal jadi peneman makanan yang wajib saya bawa kemana-mana kalau-kalau saya kurang berselera makan makanan yang disajikan saat makan. Dulu saya juga sering beli sambal botol, tapi sambal botol kalau dibiarkan lama rasa dan baunya berubah, plus tidak cocok untuk beberapa makanan, contohnya nasi.

Btw, Bon Cabe ini juga bisa dimakan langsung sebagai cemilan juga sih. Jadi enak hahaha.

Dari list makanan yang saya stok, mungkin saatnya sekarang saya mencoba makan energen pake Bon Cabe. Penasaran seperti apa rasanya.

Kalau kalian, apa ada cara lain untuk memastikan makanan itu enak?

(Update : Energen + Bon Cabe tidak direkomendasikan)

 

(Mohon maaf akhir-akhir ini pos jarang yang penting hahaha)

(Mohon Maaf Lahir Batin!)

Overwatch

No. This is not about the newly released FPS games that makes my friends real happy lately. It’s about a habit that stuck with me since I was in my junior year.

250px-overwatch_cover_art_28pc29

I put this here, so everyone who read this because they think I’m gonna talking about this games, feel that-disappointed.

I’ve been watched a lot of things lately. A LOT. At least for me. Seriously, I used to not like watch series or movies. In my spare time, I usually prefer to read, play or sleep. But lately, I prefer to watch something. It began when I found out that HIMYM  (How I Met Your Mother) actually a funny thing. Because I like comedy, I start to binge-watch HIMYM. And I like it! Not only because the comedy, but also the plot (drama) and cross-reference cultural things they like to put in that series.

250px-howimetyourmother

Honestly, I’m pretty satisfied with the finale (#unpopular_opinion)

Then, I found out that people compare HIMYM and Friends a lot. They said that Friends is actually funnier. And I started to watch Friends. And yes, it’s a lot funnier.

250px-friends_logo-svg

My favorite character from this show : Chandler and Ugly Naked Guy.

After that, another series began to come to me (you know, some people refers it to me). Scrubs, Two and Half-Men, The Big Bang Theory, Brooklyn Nine-Nine, Arrested Development, Seinfeld, Breaking Bad, House of Cards, Sherlock, Elementary, Joey,Modern Family, Park and Recreation, The Office, Community, Silicon Valley,Master of None, and Louie.

brooklyn_nine-nine_logo

Detective and Comedy. Two of my favorite genres in one. Plus, Detective Amy Santiago and Rosa Diaz is so damn cute!

That’s not all. Lately, I like superhero-related stuffs too! It begins when I got spoiler from Captain America : Civil War. Because of that spoiler, I feel that watching at the theater won’t be worth it anymore. So, I asked my friend to tell me what the story was. And, by the way they tell me the story, I begin to think that “Wow, this character development is quite deep. I MUST KNOW HIS OTHER STORY!”. So, I started to read DC and/or Marvel comics and animated-movies. Still a few, but I think I like it. Damn.

Yeah, I actually regret most of my time wasted like this.

But, damn, some of them are real good that they make me can’t stop watch them. Sometimes, the story or character is so relatable to myself that I feel … happy? (I don’t know, it feels good and sad in the same time). Or the moral value delivered is so “quoteable” or “shareable” or “my friends are gonna think that I’m so wise that I can think about that.”.

Here some of my favorite. I hope you can check it out too, so I will have a friend whom I can discuss about them with.

1. Modern Family

img-allshows-modern_family-s7

Phil, Alex, and Luke are my favorite!

Modern Family is about … err … modern family? It’s about three families that related to each other. Every member of these families has their own story and deals with their own unique problems. It uses a mock-umentary style, so the characters can actually tell you why they do something, what they think about something, or general life lessons about things that happened in the series. I love this series because it shows so much moral values, especially about parents and children. I really think that this series helps me wonder so much things regarding my position as a child of parents, or a later-parent of children. You could understand things that your parents did, which sometimes just so weird or embarrassing simply because they love you so much. Or maybe silly reasons, but after watching this series, you just understand that reasons (you feel that you would do the same to your children).

 

2. Louie

250px-louie-title

Louis CK! I like his persona in standup comedy.

It started when I watched Master of None by Aziz Ansari because my friend recommended it. I like the concept and style about that series, and in my surfing through forum and wiki about it (seriously, do this after you watch something), I found that my favorite comic also had this kind of show. Louie. By Louis — freaking – CK.

First, I have to tell you why I love Louis CK (wait, it sounds wrong). I like his persona as a comic when he do his stand up. A person who generally doesn’t care at all about this world, just because he thinks that the most important person in the history of humanity, is himself, but have to do good, because it matters to people around him. I don’t know, but I feel that I can relate so much about this persona. I’m quite sure, in my worst, I will be that dude Louie act as in his standup. Socially awkward, love his children, but sometimes just get enough about them.

I love my kids, because I have them only for 3 days a week — Louis CK

So, basically, it’s about that kind of dude. It tells a story about fictional Louis CK. The persona is mostly true ( I mean, Louis CK really did have same character as Louie in real life), but the story is fiction. I think, this series just shows you about how a man like Louis CK will handle some events in his life. And I like that, because it feels like  I watched how my self gonna react in same kind events (although, some of it most likely is not going to happen).

 

3. Batman : Under the Red Hood

220px-batman_under_the_red_hood_poster

Spoiler Alert.

 

I watched this because it ranks first in my googling results about “top ten dc animated movies”. Jason Todd (2nd Robin) was killed by Joker. Batman feels guilty about it, but turns out, Jason still alive and “repackage” himself as Red Hood (former person of Joker). Red Hood, in nutshell, is a Batman, but had no moral value. He thinks that violence and murder are fair in order to bring justice.

You can’t stop crime. But, you, I, can be part of it and control it. — Red Hood

Despite of lack of understanding how the hell Jason could be alive again, I really like the motive of Jason turning into Red Hood. Even since he was Robin, he thinks that violence and murder are fair,so somehow you think that He and Batman just go separate way  and bring justice in his own way. But, actually it’s not the main motive.
It’s , in nutshell, a triangle love between Batman, Joker, and Jason in dark-manly kind of things. Jason is not mad because Batman failed to save him when Joker killed him. Jason is mad because Batman let Joker live after Joker kills him. #ouch

if it had been you
that he beat to a bloody pulp…
…if he had taken you from this worid,
i would’ve done nothing…
…but search the planet for this pathetic pile
of evil death-worshipping garbage…
…and sent him off to hell. — Jason.

I don’t know. I just can understand why Jason so frustrated about it.

And Joker deliver a killer persona about him, when the scene mainly about Jason and Batman and Joker just… being Joker?

After re-read this post, I just conclude that I like a show that I can relate or understand about the story or character. #omg #thatsotrue

HAHAHA.

Sorry for this long and bad-english-written post. Do you have a series or movie that you love so much?