Sekolah Bilik Pengmas

(ini murni ngopas essay yang dikumpulin sebagai tugas akhir kegiatan, jadi maaf kalau yang di bawah terasa panjang dan agak gimana gitu)

 

Di Belakang Pengmas
Pengabdian Masyarakat berasal dari dua kata penting : “abdi” dan “masyarakat”. Secara umum, menurut pendapat saya, Pengabdian Masyarakat (untuk selanjutnya disebut pengmas) adalah pelayanan kepada masyarakat. Banyak yang bertanya,”Kenapa sih pengmas itu penting?”. Saya akan jujur menjawab saya juga tidak tahu mengapa pengmas itu penting. Pengmas memang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Walaupun demikian, menurut penjelasan Pak Budi Rahardjo*, sifat pengmas adalah fardhu kifayah alias kewajiban untuk umum bukan personal.
Jujur saja, ikutnya saya dalam kegiatan pengabdian masyarakat murni karena senang. Saya senang “lari” dari rutinitas, lalu melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Apalagi dalam melakukan pengmas, kita cenderung untuk membuat orang lain bahagia. Rumus bahagia bagi saya sederhana : membuat orang lain bahagia.
Selama ini saya melakukan pengmas atas dasar senang sehingga saya cenderung tidak mempedulikan bagaimana proses idealnya. Kegelisahan saya mulai muncul saat saya mengetuai sebuah acara di himpunan dan mulai ngobrol banyak dengan orang-orang hebat (menurut saya). Pertanyaan yang menarik ketika kita akan membuat sebuah acara adalah kenapa? dan bagaimana?. Kenapa mungkin menjadi dasar dalam melakukan sesuatu. Bagaimana merupakan langkah taktis (atau saya menyebutnya best practice) dalam melakukan kegiatan tersebut. Berhubung salah satu bagian kegiatan yang saya pimpin adalah bagian yang berhubung dengan masyarakat, saya coba ngobrol dengan berbagai dedengkot kepengmasan di kampus.
Dedengkot-dedengkot ini banyak bercerita soal bagaimana mereka dulu menjalankan kegiatannya. Saat saya tanya,”Kak, kakak dulu belajar dari mana ilmu, teknis, dan sebagainya?”, kebanyakan dari mereka menjawab,”Yah pengalaman aja sih”.
Nah, hal ini yang membuat hati saya mendadak tidak enak dalam berkegiatan pengmas. Untuk kegiatan yang lain semisal acara hiburan, pameran, atau kaderisasi, para dedengkot selalu bisa bicara atas dasar ilmu dan pengalaman yang mereka miliki. Lain cerita soal pengmas. Bicaranya lebih banyak atas dasar pengalaman saja. Padahal, saya yakin ada ilmu-ilmu khusus yang bisa jadi acuan supaya mengemas kegiatan pengmas menjadi lebih baik lagi.
Penjelasan di atas adalah awal cerita kenapa saya akhirnya memutuskan untuk ikut dalam kegiatan sekolah pengmas.

 

Kegelisahan saya soal dasar ilmu dalam ber-pengabdian masyarakat menjadi dasar utama. Saya tidak ingin saat saya berdiskusi dengan adik-adik himpunan, semua pertanyaan saya jawab atas dasar pengalaman saja.
Untungnya, kegelisahan ini banyak terjawab saat saya mengikuti sekolah pengmas. Soal ilmu dalam melakukan pengmas, banyak saya dapatkan saat saya mendengarkan pemaparan dari Pak Iskandar dari IBEKA. Pak IBEKA menyatakan ada langkah-langkah utama dalam melakukan pengmas. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
1. Technical and Social Management
Pada tahap ini, kita melakukan pendataan soal sumber daya dan potensi yang ada pada masyarakat. Selain itu, pada masa ini kita juga harus mempelajari keadaan masyarakatnya. Keadaan masyarakat tidak bisa kita pahami dengan hanya bertanya. Kita harus ikut menjadi bagian masyarakat, banyak mendengar, dan coba diam. Cara paling mudah untuk mengenali masyarakat adalah dengan melakukan imitasi terhadap masyarakatnya.
2. Consolidation Phase
Hasil pengumpulan data mengenai potensi dan keadaan masyarakat kita coba olah untuk menghasilkan rancangan solusi yang akan kita berikan pada masyarakat tersebut. Bagian yang sering kita lupakan dalam pengmas (menurut pengakuan Pak Iskandar, pemerintah juga sering melupakan) adalah membuat solusi itu datangnya dari masyarakat. Hal ini penting karena pada akhirnya solusi ini akan diberikan pada masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan (kalau bisa terlibat penuh) dalam penentuan solusi yang akan diterakan.
3. Organization Setup
Pada tahap ini, kita harus menyiapkan masyarakat sebagai penerima solusi. Kelemahan kita dalam berkegiatan di ITB adalah kita selalu sibuk dalam persiapan teknologinya. Aspek manusia sebagai pengguna teknologi sering kita lupakan. Analoginya, teknologi merupakan metode (atau mungkin hadiah) dalam pengembangan masyarakat. Aspek utama dalam pengembangan masyarakat tetap saja “masyarakat”.
4. Self Reliant Phase
Tahapan ini merupakan bagian dimana masyarakat diharapkan telah menjadi mandiri. Bagian ini sering kali gagal total karena kita melewatkan bagian Organization Setup. Masyarakat diharapkan mandiri di fase ini.
Keseluruhan tahapan di atas paling cepat dilaksanakan dalam 1,5 tahun. Waktu yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh mahasiswa. Pak Iskandar menekankan bahwa mahasiswa tidak harus melakukan pengmas yang sempurna. Mahasiswa harus lebih disadarkan soal potensi dan tanggung jawab mereka pada masyarakat.
Setelah pemaparan dari Pak Iskandar, kami diberikan kesempatan untuk belajar menjadi bagian dari masyarakat desa Ponggang, Subang. Kami ditantang untuk banyak belajar dari hidup masyarakat sambil memetakan potensi yang bisa dikembangkan dari desa ini. Pelajaran yang banyak saya ambil selama di desa adalah sebagai berikut.
1. Pendekatan pada Masyarakat
Pendekatan pada masyarakat bisa dilakukan dengan menjadi bagian masyarakat tersebut. Lakukan imitasi kepada masyarakat. Jangan jadi orang yang sok-tahu saat bergabung dengan masyarakat. Kita harus mampu menghargai kearifan lokal dipegang oleh masyarakat. Saran dalam melakukan pendekatan adalah dengan coba mendekati anak-anak terlebih dahulu. Hal ini yang diterapkan oleh Kang Iwa selaku mentor kami selama di sana. Kang Iwa berhasil mendapatkan peran di masyarakat dalam 4 tahun dengan mendekatkan diri terlebih dahulu kepada anak-anak.
2. Penggalian Potensi Bertahap
Di desa Ponggang, IBEKA sudah mencoba mengembangkan salah satu potensi di desa, yakni Singkong. Menurut pengakuan Kang Iwa, hal ini bukanlah tujuan akhir dari pengembangan desa,
melainkan salah satu tahap. Pengembangan potensi bisa dilakukan dengan hal-hal yang nyata memberikan manfaat kepada masyarakat. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat soal kapasitas kita sebagai orang yang akan “mengembangkan” masyarakat.
3. Jangan Remehkan Masyarakat!
Untuk mempermudah melakukan pemetaan terhadap kondisi masyarakat, kita sering kali coba mendekatkan diri kita dengan orang-orang yang memiliki kekuatan pada masyarakat tersebut. Nyatanya, ilmu atau data bisa kita dapatkan dari kalangan masyarakat mana saja. Dalam kegiatan kami, salah satu peserta justru belajar banyak dari anak SMP.
Kegiatan selama di desa membuat saya lebih memahami bagaimana sebenarnya begitu banyak orang-orang inspiratif di sekitar kita. Banyak kesempatan yang bisa kita manfaatkan untuk mendekatkan diri dengan orang-orang di sekitar kita, namun sering terhalang dengan alasan kesibukan akademik.
Salah satu ilmu yang saya dapatkan lagi dalam sekolah pengambdian masyarakat adalah soal Branding dari kegiatan kita. Materi ini disampaikan oleh Mas Iqbal selaku campaign manager dari kitabisa.com. Ada tiga hal yang menjadi perhatian kita dalam melakukan branding.
1. Be Different
Prinsip utama dalam branding adalah bagaimana cara orang mengenali kita. Cara termudah dalam membuat orang mengenal kita adalah dengan membuat diri kita berbeda agar mudah dilihat. Hal ini sesuai dengan prinsip Purple Cow yang dikemukakan oleh Seth Godin.
2. Be a Storyteller
Semua orang menyukai cerita. Buatlah apa yang menjadi tujuan kita dengan mengemasnya menjadi sebuah cerita. Orang-orang akan dengan senang hati menceritakan kembali cerita yang kita berikan. Salah satu contoh menarik adalah cerita tentang kebahagiaan yang selalu diberikan oleh Coca-Cola.
3. Be Relevant
Kita tidak perlu menceritakan “cerita” kita kepada semua orang. Mungkin lebih banyak orang yang mendengar cerita kita akan menjadi lebih baik. Namun, menceritakan “cerita” kita pada orang yang tepat akan lebih membekas. Pada akhirnya, orang-orang yang “terbekas” ini yang akan menyebarkan cerita kita.
Pada akhirnya, apa yang saya cari pada sekolah pengmas ini, berhasil saya dapatkan. Apa yang saya ingin lakukan setelah ini? Tidak banyak. Saya hanya ingin membuat teman-teman saya ,yang hidupnya terlalu nyaman, untuk lebih memahami bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak seberuntung mereka. Saya ingin coba meyakinkan mereka bahwa mereka bisa menjadi “pahlawan” bagi orang-orang itu. Sesuai dengan pesan Pak Is, saya mencoba meningkatkan rasa kemanusiaan dari teman-teman saya.
*bisa dibaca pada : https://rahard.wordpress.com/2015/03/06/super-dosen/

Iklan

HIMYM : Last Forever

Serial How I Met Your Mother akhirnya berakhir di tanggal 31 Maret dengan ending yang begitu — mengecewakan ? bagus? Atau hanya sekedar make sense? Apapun itu yang pasti serial ini telah menjadi salah satu bagian bagi saya semenjak 6 bulan yang lalu (ya, saya telat ngeh – nyadar kalo serial ini bagus ).Serial yang sudah berhasil menjadi prioritas di kala UTS dan UAS + Tugas di Semester III saya kuliah. Gak heran nilai pas-pasan huahahauhu.

Alternatif Ending yang Diharapkan

Dilihat dari komen beberapa orang, ending dari serial satu ini termasuk mengecewakan. Saya sendiri tidak bisa bilang demikian karena saya memang jarang nonton serial. Saya tidak punya parameter untuk mengatakan ending yang bagus atau tidak. Tapi, setelah ngelihat salah satu alternatif ending (ending yang dipotong sampai Ted bilang ama Tracy “Hi”) , saya nyadar bahwa ini adalah ending yang sebenernya cukup bagus untuk mengakhiri serial ini. Dramatis dan berkesan pada akhirnya.

Namun hal ini tidak menjelaskan mengapa Ted memutuskan untuk mulai terlalu jauh dalam menceritakan pertemuannya dengan The Mother? Saya rasa ini adalah hal yang ingin dijawab melalui adegan-adegan setelah alternatif ending tadi. Beberapa hal mungkin tidak digambarkan dengan baik, tapi saya rasa, sekali lagi, hal tersebut menjadi hal yang make sense pada akhirnya.

Adegan yang menjelaskan The Mother sakit apa dan blabla rasanya memang tidak perlu diceritakan ketika memang seorang ayah menceritakan hal tersebut kepada anak-anaknya yang notabene ada pada saat Ted dan The Mother melewati masa itu.

Secara umum, ini adalah serial yang sangat bagus menurut saya. Pada awalnya, saya menikmati serial ini hanya karena serial ini termasuk comedy-nya yang sangat menghibur. Ditambah lagi, selalu penasaran dengan wanita-wanita baru yang hadir di setiap episodenya (seorang teman bilang, “bisa jadi bahan googling baru”). Tapi pada akhirnya semua itu berubah ketika saya menyadari bahwa serial ini merupakan serial yang juga sering memberikan berbagai pelajaran hidup terutama tentang persahabatan, cinta, dan awesomeness.

Nora! Paling cantik hahaha

 

Well, serial ini udah tamat dan rasanya sudah saatnya untuk move on dari serial ini. Sudah saatnya mengerjakan hal lain yang sering ditunda karena nonton serial ini. Setidaknya, sampai saya menemukan serial lucu lainnya hahaha. (ada rekomendasi?)

 

Salam.

Ditulis ketika seharusnya mengerjakan tugas OOP.

 

Bingung

Bicara tentang kesuksesan, banyak orang dan buku yang mengatakan bahwa hal yang paling penting bagi kita adalah passion. Iya banget gak sih?

Menurut beberapa buku yang pernah saya baca, mendefinisikan passion itu cukup mudah kok. Passion itu mengenai hal apa yang benar-benar kita sukai dan cintai. Hal apa sih, yang membuat kalian mau mengerjakannya setiap saat? Hal apa sih, yang membuat kalian berasa mati saat kalian nggak dibolehin buat melakukan hal itu? Hal apa sih, yang membuat anda senang melakukannya, meski anda tidak dibayar/mendapat imbalan? Hal apa sih yang mampu membuat anda stuck lama-lama ketika ada masalah di dalamnya? Hal apa yang selalu mampu membuat anda bergairah?

Bisa dibilang passion mirip dengan minat kita. Minat, bisa dibilang sebagai passion jangka pendek. Kenapa? Soalnya — menurut saya–, minat itu lebih bersifat moody. Anda bisa melakukan banyak hal yang anda minati, tapi dikit yang mungkin anda dalami. Kadang kita punya minat terhadap suatu hal, namun ketika stuck, kita malah drop dan males buat ngelanjutin hal itu.

By the way, saya jadi ingat kata-katanya Pandji Pragiwaksono mengenai minat dan bakat.

“Kalo lu punya bakat di hal yang nggak lu minatin, ya, jadiin aja bakat lu sebagai uang, terus biayai minat lu biar lu jadi lebih skillful di sana”

(oke, emang quotesnya aga out of context -__-)

Tapi bener deh, kalo kesuksesan itu banyak berkaitan dengan passion berarti kita tahu langkah awal kita dalam mengejar sukses. Menemukan passion kita.

Nah, masalah saya tentang passion selalu stuck di langkah awal ini. Saya — sampai saat ini, moga aja cepet ketemu — belum menemukan passion saya. Okelah, saya dengan gampang menyukai sesuatu. Kalo kata salah seorang temen saya, Malik (:P), saya termasuk orang yang mudah mengagumi sesuatu (apalagi seseorang ??? -__-)

Saya gampang suka sesuatu, tapi gampang juga lepas dari sesuatu.

Saya orangnya banyak minat, tapi belum nemu di mana seharusnya minat itu menjadi passion. Permasalahannya simpel banget. Saya menyukai dunia serius berbau saintifik dan segala macem. Tapi saya takut, ketika saya berada di dunia seperti ini, saya susah mencari temen yang bisa diajak becanda saat berkutat dengan dunia seriusan. Sebaliknya, saya juga sangat mencintai dunia komedi. Tapi, sekali lagi, saya juga takut nggak bisa nemuin orang yang bisa diajak serius di dunia yang penuh canda tawa ini -__-.

 

Gimana kagak bingung coba -___-?

Mungkin ada yang tau gimana caranya nemuin passion kita?

(*maaf curhat*) <—- biar ada kerjaan malam minggu ( ”  .__.)

Kontes Robot Indonesia

Suasana di ajang kontes robot indonesia tingkat nasional yang diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung. Lumayan juga bisa nonton ‘trial’ nya gratis hehehehe. Sayangnya gak bisa ngeliat dari dekat, soalnya bakalan bisa ganggu suasana hehehe. Di posting dari mobile, jadi mohon maaf kalo gambarnya ala kadarnya huehuehue. Ini masih trial, gimana besok acara gedenya hahaha \(´▽`)/

Muzavan

Money Goal

Hanya cowok ganteng yang mempublish postingan di wordpress, setelah bersihin wece B-)

Hahaha

So, what’s new on my life?

Nothing but Nothing.

Jadi, udah dua hari ini saya ngikutin kegiatan di kampus, sehubungan dengan kegiatan matrikulasi, yang berkaitan dengan masalah kepribadian.

Masalah emotional intelegence (atau gimanalah tulisannya -_-) , dan juga 7 habits by Stephen Coey -__-a

Acaranya asik, bermanfaat banget buat kita mahasiswa baru anak kosan yang masih galau (baca : pelit).

Intinya sih, ada beberapa hal yang saya pelajari dari seminarnya.

Namun, saya mau concern sama satu hal. Goal. Atau, tujuan.

Seringkali, dalam hidup saya, saya melakukan sesuatu dengan tujuan yang nggak jelas. Parahnya, saya baru sadar baru-baru ini dan itupun sedikit -__-”

Percayalah, tujuan nggak jelas itu, terkadang mengaburkan tekad kita, dan nyusahin kita.

Sebagai contoh, saya udah dari smp, dikasih uang jajan perbulan. Dari uang jajan itu, selalu saya sisihkan beberapa, untuk dijadiin bahan tabungan. Saya pisahin ‘uang tabung’ itu, dari uang yang saya bawa sehari-hari, supaya gak dipake sama sekali.

Udah, saya udah ngejatah buat yang ditabung.

Tapi….

Seringkali, saya ‘memelitkan diri’ , dengan cara menghemat parah uang jajan saya. Alasannya? Supaya bisa nabung lebih banyak.

Oke, bolehlah alasannya ya, masuk akal juga.

Tapi, sukses kah?

Enggak broooo

Setiap saya memiliki sisa uang jajan yang didapetin dari hasil “menyiksa diri” atau “membatasi diri” , selalu aja ada kebutuhan lain yang mendadak, saya harus ngeluarin duit.

Nah, saya kan agak ‘gimana gitu’ udah capek-capek nahan “nafsu” buat nambahin tabungan, eh, malah tetep kepake buat yang lain -__-”

Di sinilah, menurut saya, kesalahan saya dalam menentukan goal saya.

Dari awal, saya udah bagi uangnya jadi dua. Uang I untuk ‘tabung’ dan uang II untuk ‘dikeluarin’ . Nah, emang dasarnya uang II ini ‘ditakdirin’ untuk dikeluarin, kemungkinan besar, uang ini pasti keluar juga. Entah untuk kesenangan saya, jajan saya, atau malah bukan untuk saya.

Seharusnya, kalo emang mau tetep nabung, lebih baik pembagian uangnya dirubah dengan cara memperbanyak uang I dari awal. Terus, tinggal nikmatin uang IInya, tanpa harus ngenyiksa diri sendiri dengan nahan jajan ini itu.

Goal dari sistem uang yang saya tetapkan, udah menarik dunia untuk menjalanin peran dari sistem uang ini.

Asli, kenapa saya baru sadar -____-”

Capek awak nahan -___-”

Muzavan